Jump to content

Tier Data Center

From Wiki

Mengacu pada standar dan sertifikasi yang ditetapkan oleh Uptime Institute, terdapat empat tier dalam perancangan data center yang didasarkan kepada level pelayanannya. Menurut TIA-942, tingkat availability setiap tier tentu akan berbeda, sesuai dengan kebutuhan pusat data itu sendiri.

Adapun empat tier dalam data center ini adalah: tier 1 – Basic Site Infrastructure, tier 2 – Redundant Site Infrastructure Capacity Components, tier 3 – Concurrently Maintenable Site Infrastructure, dan tier 4 – Fault Tolerant Site Infrastructure. Berikut ini perbedaan antara teknologi dan tingkat keamanan tiap tier dari data center tersebut:

Tier 1 – Basic Site Infrastructure

Tier 1 ini biasanya ditemui pada perusahaan yang memiliki data center sendiri, dengan infrastruktur standar yang memenuhi syarat sebuah data center. Perangkat TI dilayani oleh satu jalur distribusi non-redundat, atau satu uplink per satu server. Memiliki tingkat uptime 99,671%, atau dalam setahun waktu downtime-nya (batas toleransi gangguan) maksimal 28,8 jam. Fokus kemampuan untuk dapat melayani aktivitas operasional selama jam kerja dan dibantu dengan UPS dan generator. Namun, ketersediaan genset, raised floor, UPS, sifatnya opsional. Untuk tindakan preventif maintenance dilakukan dengan cara di-shutdown keseluruhannya. Tingkat keamanannya terhadap gangguan yang terencana atau tidak bisa ikategorikasn sebagai rentan. Implementasi atau pembangunan fasilitas ini membutuhkan waktu singkat dan maksimal 3 bulan.

Tier 2 – Redundant Site Infrastructure Capacity Components

Pada dasarnya mirip dengan Tier 1, namun telah ditambah dengan komponen redundant (serba memiliki sumber daya cadangan). Selain wajib memiliki UPS, data center Tier 2 harus dilengkapi generator backup sebagai persiapan saat ada pemadaman bergilir dari PLN. Termasuk, harus dilengkapi dengan raised floor. Memiliki tingkat uptime 99.741 %, atau dalam setahun waktu downtime-nya maksimal 22 jam. Memiliki redundant component N+1, dan memiliki backup power sehingga waktu downtime lebih singkat. Tingkat keamanannya terhadap gangguan yang terencana atau tidak bisa dikatakan agak rentan. Tindakan preventif maintenance dilakukan shutdown pada power path dan bagian tertentu dari infrastruktur yang memerlukan shutdown saja. Implementasi atau pembangunan fasilitas ini membutuhkan waktu maksimal 3 – 6 bulan.

Tier 3 – Concurrently Maintenable Site Infrastructure

Tier 3 merupakan data center berstandar internasional dari segi infrastruktur, fasilitas dan tingkat keamanan. Memiliki tingkat uptime 99.982 %, atau dalam setahun waktu downtime-nya maksimal 1,6 jam. Harus memiliki lebih dari satu sumber daya listrik dan jaringan (multi network link) sehingga syarat “no shutdown” dapat terpenuhi pada data center tier 3. Harus memiliki raised floor , UPS dan generator cadangan serta memiliki sistem jalur untuk pengeluaran udara panas dan dingin serta komponen redundant N+1. Tingkat keamanannya tinggi karena telah memiliki sistem keamanan 24 jam dan area bangunan yang tidak rentan terhadap bencana. Tindakan preventif maintenance dilakukan dengan mengalihkan beban kepada sistem backup saat sistem utama di maintenance. Implementasi atau pembangunan fasilitas ini membutuhkan waktu maksimal 15 – 20 bulan.

Tier 4 – Fault Tolerant Site Infrastructure

Pada dasarnya tier 4 ini hampir sama dengan tier 3. Tetapi, data center tier 4 ini hanya memiliki toleransi downtime 30 menit dalam setahun, dengan tingkat uptime 99.995 %. Memiliki raised floor , UPS dan generator cadangan serta memiliki sistem jalur untuk pengeluaran udara panas dan dingin. Tingkat keamanannya tinggi karena telah memiliki sistem keamanan 24 jam, serta tidak rentan terhadap gangguan terencana atau tidak. Implementasi atau pembangunan fasilitas ini membutuhkan waktu maksimal 15 – 20 bulan.

Secara umum, biaya investasi dan biaya operasional pada data center sesuai dengan tingkatan tier-nya. Jadi, semakin tinggi tier-nya maka semakin besar biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu, tier 4 belum tentu merupakan solusi terbaik bagi perusahaan yang hanya membutuhkan data center di tingkat tier 2. Sebab, hal itu dapat berakibat pada pemborosan modal dan lebih beresiko. Kondisi ideal bagi perusahaan yang hanya beroperasi pada jam kantor adalah menggunakan data center tier 1 sampai tier 2 di gedungnya. Kemudian disertai dengan menempatkan perangkat IT cadangannya di sebuah penyedia fasilitas data center tier 3. Dengan demikian beban pengeluaran modal dapat lebih optimal dalam hal pencapaian kontinuitas aktivitas operasional dalam jangka panjang.

Lebih dari itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya memperhatikan spesifikasi desain suatu data center, tetapi juga mempertimbangkan sejauh mana suatu standar data center itu dapat meningkatkan kinerja, keandalan, dan waktu operasional yang sebenarnya.

Source