Jump to content

Routing

From Wiki

Perutean (bahasa Inggris: routing) adalah proses pendefinisian jalur komunikasi yang diperlukan untuk mengirimkan data antarjaringan yang berbeda. Proses ini dilakukan oleh perangkat keras yang disebut router, yang berfungsi sebagai komponen utama untuk menghubungkan sejumlah jaringan yang memiliki alamat jaringan (network address) berbeda agar dapat saling berkomunikasi. Dalam operasionalnya, router memanfaatkan basis data yang disebut tabel perutean (routing table) untuk menentukan jalur terbaik yang harus dilalui paket data guna mencapai alamat tujuan.

Fungsi dan Konsep Dasar

Fungsi utama router adalah menghubungkan jaringan yang berbeda segmen dan meneruskan paket data dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Host yang berada pada alamat jaringan yang sama dapat berkomunikasi secara langsung, namun host yang berada pada alamat jaringan berbeda memerlukan router sebagai perantara.

Untuk menjalankan fungsi ini, router menggunakan tabel perutean yang memuat informasi krusial, antara lain:

  • Alamat Jaringan Tujuan (Destination Network): Alamat jaringan yang ingin dicapai.
  • Gateway: Alamat router tetangga atau "pintu gerbang" yang dapat dilalui untuk mencapai jaringan tujuan.
  • Interface: Antarmuka fisik atau logis pada router yang digunakan untuk meneruskan paket.

Konsep dasar perutean melibatkan pencocokan alamat IP tujuan pada paket data dengan entri yang ada di dalam tabel perutean. Jika ditemukan kecocokan, router akan meneruskan paket tersebut ke gateway yang sesuai; jika tidak ada kecocokan dan tidak ada rute default, paket tersebut akan dibuang.

Jenis-Jenis Rute dan Flag

Dalam implementasi sistem operasi router (seperti MikroTik RouterOS), entri dalam tabel perutean dikategorikan berdasarkan cara pembuatannya, yang ditandai dengan kode atau flag tertentu:

  1. Rute Terhubung (Connected Routes): Rute ini terbentuk secara otomatis ketika sebuah alamat IP dipasang pada antarmuka router dan antarmuka tersebut dalam keadaan aktif. Dalam tabel perutean, rute ini ditandai dengan flag DAC (Dynamic Active Connected). Rute jenis ini memiliki nilai jarak (distance) 0, yang menandakan prioritas tertinggi karena terhubung langsung.
  2. Rute Statis (Static Routes): Rute statis adalah rute yang dikonfigurasi secara manual oleh administrator jaringan. Rute ini ditandai dengan flag AS (Active Static). Rute statis memiliki nilai jarak default 1.
  3. Rute Dinamis (Dynamic Routes): Rute ini dibuat secara otomatis melalui pertukaran informasi antar-router menggunakan protokol perutean dinamis seperti OSPF atau RIP. Sebagai contoh, rute yang dipelajari melalui protokol OSPF ditandai dengan flag DAO (Dynamic Active OSPF). Nilai jarak untuk rute dinamis bervariasi tergantung protokol yang digunakan (misalnya OSPF memiliki nilai 110 dan RIP memiliki nilai 120).

Konfigurasi Perutean Statis

Perutean statis (Static Routing) merupakan metode pengaturan perutean yang paling sederhana di mana tabel perutean diisi secara manual. Konfigurasi ini mengharuskan administrator mendefinisikan tujuannya (mau ke mana) dan gerbangnya (lewat mana).

Parameter utama yang harus dikonfigurasi dalam perutean statis meliputi:

  • Dst. Address (Alamat Tujuan): Diisi dengan alamat jaringan (network address) tujuan, bukan alamat IP spesifik dari satu host. Penulisan alamat ini harus menyertakan notasi CIDR atau prefix (contoh: 192.168.2.0/24). Untuk rute default (rute untuk semua jaringan yang tidak terdaftar secara spesifik), alamat tujuan diisi dengan 0.0.0.0/0.
  • Gateway: Diisi dengan alamat IP router tetangga yang menjadi titik lompatan berikutnya (next hop) untuk mencapai tujuan.

Perbandingan dan Keterbatasan

Penggunaan metode perutean memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal skalabilitas dan pemeliharaan:

  • Perutean Statis: Metode ini dianggap lebih aman karena tidak ada penyebaran (broadcast) informasi perutean ke router lain dan tidak membutuhkan sumber daya router (CPU dan memori) yang besar. Namun, metode ini memiliki keterbatasan skalabilitas; pada jaringan besar, pengisian tabel perutean secara manual menjadi tidak efisien karena administrator harus memperbarui tabel di setiap router secara manual jika terjadi perubahan topologi jaringan.
  • Perutean Dinamis: Metode ini mampu beradaptasi secara otomatis jika terjadi perubahan dalam jaringan (seperti tautan yang putus atau penambahan jaringan baru). Namun, perutean dinamis membutuhkan sumber daya CPU dan memori yang lebih besar dibandingkan perutean statis untuk menjalankan algoritma perutean.

Source