Jump to content

Pendidikan Agama Islam:Mengapa dan Bagaimana PAI Diajarkan di Perguruan Tinggi

From Wiki

Refleksi

Sebelum tahun 1966, Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi (PT) bukan mata kuliah wajib.

PAI pernah diajarkan di PT hingga 6 semester (PAI 1, PAI 2, hingga PAI 6).

Kemudian mulai tahun 1983 ditetapkan 2 sks pada program D3 dan S1 dengan catatan rektor PT diperbolehkan menambah jumlah sks PAI.

Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, PAI ditetapkan sebagai mata kuliah wajib umum (MKWU-PAI).

Apakah kamu pernah mendengar ?

MENARA GADING

perguruan tinggi hanya berorientasi kepada kemegahan dirinya dan melupakan peran nyata dalam menyelesaikan pelbagai permasalahan masyarakat, bangsa, dan negara.

KAMPUS DI ATAS AWAN

Kampus berada di awang-awang dan tidak bersentuhan dengan problem riil kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan

Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI dan Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bahkan menyatakan di seluruh dunia orang selalu tidak puas dengan hasil-hasil yang diperoleh dari perguruan tinggi. Masyarakat selalu menuntut lebih dari hasil yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Hal ini disebabkan perubahan di masyarakat berlangsung lebih cepat daripada perubahan yang terjadi di dalam perguruan tinggi. Adalah suatu kenyataan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak seluruhnya dapat menghayati dinamika perubahan di dalam masyarakatnya. (Mukti Ali, 1991: 13-14).

Bila sinyalemen tersebut benar, berarti PT dan Mahasiswa harus berbenah

Kenyataannya:

Perubahan di masyarakat berlangsung lebih cepat daripada perubahan yang terjadi di dalam perguruan tinggi.

Lulusan perguruan tinggi tidak seluruhnya dapat menghayati dinamika perubahan di dalam masyarakatnya.

Harapan:

Mahasiswa sebagai inti masyarakat akademik di kampus harus memahami problematika tersebut sehingga menjadi alumnus yang memiliki kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negaranya.

Jejak Pendapat

Perlukah Pembelajaran Agama Islam di Kampus?

  • PERLU: Negara (dalam hal ini PT) wajib menjaga keberagamaan para warganya, termasuk menjaga keberagamaan para mahasiswa yang sedang belajar di PT.
  • TIDAK PERLU: Alasannya, agama merupakan urusan pribadi, keluarga, dan institusi keagamaan (seperti: masjid, pesantren, dan organisasi keagamaan). Negara tidak perlu ikut campur dalam urusan agama.

Secara Konsep Psikologis makhluk teogenetis atau teis (makhluk bertuhan), ataukah ateis (tidak bertuhan)?

Pada kenyataannya ?

  1. Teis mengajurkan dan mengajak agar manusia menyembah dan mentaati Tuhan
  2. Ateis mengajak agar manusia tidak bertuhan atau meninggalkan Tuhan
  3. Setengah teis-ateis.

Implikasinya

kelompok teis berusaha menyelenggarakan pendidikan agama, sedangkan kelompok ateis menolak bahkan menghalang-halangi penyelenggaraan pendidikan agama.

Menggali landasan pentingnya PAI di PT

Landasan Psikologis

  • Manusia adalah makhluk teogenetis atau teis (bukan ateis) dan butuh kepada Tuhan, terutama ketika dirinya diuji dengan himpitan hidup yang sangat berat.
  • Secara psikologis pula, manusia suka bertobat, yakni meninggalkan perbuatan keji dan maksiat, lalu memilih jalan taat
  • Terjadinya korversi agama mengindikasikan bahwa manusia selalu kembali kepada Tuhan dan selalu mencari agama, mazhab, dan ajaran yang benar.

Tujuan diselenggarakan PAI

  • PAI berperan menyadarkan mahasiswa agar selalu butuh dengan Tuhan.
  • PAI berperan menyajikan informasi yang jelas dan benar tentang agama.
  • Tidak adanya pembelajaran PAI di PT akan mengakibatkan kesadaran ruhani (spirit) keagamaan mahasiswa menjadi kering dan membawa mahasiswa masuk dalam kehidupan tanpa motivasi agama.

Landasan Sosial Budaya

Kemudian secara sosial-budaya, masyarakat Indonesia ( istilah Cliffort Geert) terdiri dari:

  • Masyarakat santri, Masyarakat santri bukanlah masyarakat muslim yang tinggal di pesantren atau pernah belajar di pesantren. Masyarakat santri adalah kaum muslimin yang taat menjalankan lima rukun Islam, mengikuti pengajian-pengajian untuk memperdalam ilmu mereka tentang agama, dan mementingkan pendidikan Islam bagi diri, keluarga, dan masyarakatnya.
  • Kaum Priyayi (berdarah biru) dan abangan adalah orang Islam juga, tetapi kurang taat dalam menjalankan agama. Orang abangan lebih berorientasi kepada kaum priyayi; dan kaum priyayi lebih adaptif dengan kaum kolonial.

Pada momen-momen sakral dalam alur kehidupan masyarakat muslim di Indonesia selalu ada ikatan kultur agama, budaya, dan sosial yang unik; tradisi selamatan, tahlilan, pengajian, tasyakuran dll.

Dalam hal ini maka pembelajaran PAI di PT mutlak diperlukan untuk menjaga tradisi-tradisi baik tersebut agar dapat lestari dan bersama-sama ikut memajukan kultur yang sarat dengan nila-nilai keagamaan dalam masyarakat.

Terlebih lagi saat ini kultur tersebut mulai melemah akibat arus westernisasi yang kuat dan menggerus ikatan-ikatan emosional masyarakat menuju kehidupan individualis dan eksklusif.

Dakwah Islam terlihat sangat massif kembali pada dekade 90-an setelah beberapa dekade sebelumnya mengalami pelambatan.

Perubahan ini bermula dari “revolusi” pembelajaran agama melalui tutorial agama di kampus, pesantren kilat, berdirinya masjid-masjid, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), pembudayaan jilbab, berdirinya sekolah-sekolah Islam berkelas, serta mem-bludak-nya jamaah haji.

Menyongsong perkembangan ini, agar kampus tidak menjadi pendidikan di atas awan yang tidak bersentuhan dengan realitas masyarakat di sekitarnya, maka tuntutan penyelenggaraan PAI di PT mutlak dibutuhkan dan terus berbenah menjadi yang lebih baik.

Pada tahun 2006 dan 2009 pernah dilakukan penelitian tentang corak berpikir keagamaan mahasiswa aktivis Islam (dari corak berpikir keagamaan yang eksklusif, inklusif, hingga liberal).

Hasilnya cukup mengagetkan. Hasil penelitian Munawar Rahmat (2006) di sebuah perguruan tinggi Bandung, serta hasil penelitian Syahidin dan Munawar Rahmat (2009) pada beberapa perguruan tinggi menunjukkan bahwa mahasiswa aktivis Islam cenderung memiliki corak berpikir keagamaan yang eksklusif. Sedikit sekali mahasiswa aktivis Islam memiliki corak berpikir keagamaan yang inklusif, terlebih-lebih lagi yang liberal.

Landasan Historis

Secara historis bangsa Indonesia memiliki dua sistem pendidikan, yakni

  1. Pesantren (model pendidikan asli bangsa Indonesia) Keunggulan model pesantren adalah kaya dalam pengembangan keberagamaan dan moralitas, tetapi lemah dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Dan
  2. Sekolah ( pendidikan yang diadopsi dari penjajah Belanda ). model sekolah unggul dalam pengembangan ilmu dan teknologi, tetapi lemah dalam pengembangan keberagamaan dan moralitas.

Belajar dari pengalaman sejarah, para kiai yang memiliki pesantren mendirikan sekolah dan perguruan tinggi dalam lingkungan pondok pesantren. Adapun para ulama yang tidak memiliki pondok pesantren mendirikan madrasah dan sekolah-sekolah Islam.

Saat Indonesia merdeka, sekolah dan perguruan tinggi kolonial menjadi milik pemerintah. Atas dasar kekhawatiran terhadap keberagamaan dan moralitas bangsa, para ulama dan tokoh- tokoh pendidik muslim mengusulkan agar Pendidikan Agama Islam dijadikan bagian dari kurikulum sekolah dan perguruan tinggi.

Menjelang dan sekitar awal tahun 1980-an pelbagai wacana untuk menghilangkan pendidikan agama dari kurikulum PT mencuat kembali. Mengantisipasi dimenangkannya wacara ini para aktivis Islam kampus kemudian membuka program tutorial agama Islam di masjid-masjid kampus. Program ini di satu sisi dimaksudkan untuk menyalurkan minat para mahasiswa yang haus dan ingin memperdalam ajaran agama (yang tidak tersalurkan lewat perkuliahan PAI.

Pada tahun 1983 pemerintah menetapkan sistem Satuan Kredit Semester (SKS) dengan membatasi (mengurangi) jumlah SKS pada program Strata-1 (144-160 SKS), Strata-2, dan Strata-3 (S1, S2, S3), menghilangkan program Sarjana Muda, membuka program Diploma (D1, D2, D3), dan menerapkan Normalisasi Kegiatan Kampus (NKK) dengan membubarkan Dewan Mahasiswa (di tingkat universitas / institut) dan Senat Mahasiswa (di tingkat fakultas)..

Konsekuensinya pendidikan agama dibatasi pula yaitu hanya 2 SKS sepanjang mahasiswa menempuh program pendidikan S1, dengan catatan rektor PT boleh menambahkan jumlah SKS untuk pendidikan agama. Oleh karena itu, beberapa PT (seperti ITB, UPI, UGM, UNJ, dan UNP) menyelenggarakan pendidikan agama lebih dari 2 SKS.

Landasan Yuridis

Eksistensi mata kuliah PAI di PT (dan mata pelajaran PAI di sekolah) memiliki landasan filosofis dan yuridis yang sangat kuat. Landasan filosofis PAI berpijak pada Pancasila, terutama sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Adapun secara yuridis berpijak pada ketentuan perundang- undangan yang berlaku.

Sumber yuridis penyelenggaraan PAI di PT sebagai berikut.

  1. Pancasila;
  2. UUD 1945 (hasil amandemen);
  3. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas);
  4. UU No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025;
  5. PP No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014;
  6. PP No. 19 Tahun 2005, sebagaimana diubah dengan PP No. 032 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan;
  7. UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Model Pendekatan/Metode Pembelajaran PAI di PT

Manakah yang lebih penting ?

  • Berbasis Subtansi Materi

mahasiswa perlu dibekali materi agama sebanyak - banyaknya

  • Berbasis Proses

Dibekali sedikit materi agama (yang inti-inti dan substansial), tetapi dibekali cara yang mudah untuk mempelajarinya?

Berbasis Subtansi Materi

Berbasis subtansi materi berarti menyuguhkan materi pendidikan agama secara luas dan mendalam. Dalam hal ini terdapat tiga pendekatan utama yang dilakukan para pakar pendidikan Islam;

1. Pendekatan Kajian Al-Quran dan Sejarah Islam

Ali Syari’ati menegaskan bahwa ada dua metode fundamental untuk memahami Islam secara benar.

Pertama, pengkajian “Al-Quran”, yaitu pengkajian intisari gagasan- gagasan dan output ilmu dari orang yang dikenal sebagai Islam;

kedua, pengkajian "Sejarah Islam", yakni pengkajian tentang perkembangan Islam sejak masa Rasulullah Muhammad saw. menyampaikan misinya hingga masa sekarang.

Sumber segala peristiwa yang pernah terjadi dalam masa yang berbeda adalah dua metode fundamental untuk mencapai suatu pengetahuan tentang Islam yang benar dan ilmiah. (Hamid Algard, 1985: 60).

2. Kajian disiplin ilmu / isi

Di Indonesia dikenal luas bahwa ajaran Islam terdiri atas tiga disiplin, yaitu: akidah, syariat, dan akhlak.

  • Akidah merupakan dimensi Islam yang berhubungan dengan keimanan
  • Syariat merupakan dimensi Islam yang berhubungan dengan ketentuan hubungan manusia dengan Allah, saudara seagama, saudara sesama manusia, serta hubungan dengan alam besar dan kehidupan
  • Akhlak membicarakan baik-buruknya suatu perbuatan, baik secara parsial (masing-masing perbuatan) maupun komparatif (memilih satu dari dua atau beberapa perbuatan yang baik-baik).
Tabel Akidah, Syariat, Akhlak, dan Tasawuf
No. Dimensi Ilmu Sikap & Amal
1. Sufistik Ilmu Tasawuf Ma’rifat bi Dzātillāh
2. Keimanan Ilmu Akidah Beriman dengan Rukun Iman
3. Ibadah Ilmu Syariat Rukun Islam ( Syahadat, sholat, puasa, zakat, haji )
4. Akhlak Ilmu Akhlak Ber-akhlāqul karīmah

3. Pendekatan tentang Tujuan Didatangkannya Syariat Islam

Metode pembelajaran PAI ini didasarkan pada tujuan didatangkannya syariat Islam (maqāshid asy-syar‟iyah), ada lima, yaitu:

  1. menjaga agama,
  2. menjaga jiwa,
  3. menjaga akal,
  4. menjaga keturunan,
  5. menjaga harta.

Berbasis Proses

Pembelajaran berbasis proses berarti pembelajaran PAI di PT perlu kaya dengan proses. Mahasiswa tidak perlu dibekali materi keagamaan yang banyak. Tugas utama dosen PAI adalah memberikan keterampilan kepada mahasiswa tentang cara-cara atau pendekatan yang paling tepat untuk memahami dan mengimplementasikan ajaran agama.

1. Studi Implementasi “Kaidah Lima” (Qawā‟id al-Khams)

Al-Umūru bi maqāshidiha (segala urusan tergantung kepada tujuannya). Al-Yaqīnu lā yuzālu bisy-syak (keyakinan tidak dapat dihapus dengan keraguan).

Al-Masyaqqatu tajlibut-taysīr (kesukaran itu menarik kemudahan). Adh-Dharāru yuzālu (kemudaratan itu harus dilenyapkan / dihilangkan). Al-’Âdatu muḫakkamah (adat kebiasaan itu ditetapkan sebagai hukum).

2. Metode Tipologi Agama

Mengidentifikasi aspek-aspek agama Membandingkan kelima aspek agama tersebut dengan aspek yang sama dalam agama lain.

Contoh Metode Tipologi Agama

Kita bisa mengimplementasikan metode tipologi agama ini untuk memahami mazhab-mazhab dalam Islam. Adapun aspek atau ciri mazhab yang dapat kita kembangkan, misalnya:

  • Tokoh referensi. Siapakah tokoh yang dijadikan referensi utama oleh mazhab-mazhab Islam, selain Nabi Muhammad saw. sebagai rujukan utama?
  • Imam pada zaman sekarang. Adakah pada zaman sekarang ini imam (dalam arti ulama yang mewarisi ilmu nabi)? Contoh, Islam Suni mengatakan tidak ada imam, sedangkan Islam Syiah mengatakan ada.
  • Al-Quran. Adakah pada zaman sekarang ulama yang dapat benar- benar memahami Al-Quran sebagaimana pemahaman Nabi Muhammad saw. terhadap Al-Quran?
  • Dan seterusnya

3. Studi tematik Al-Quran melalui “Al-Quran Digital”

yang akan dikaji secara khusus pada pertemuan selanjutnya dengan tema paradigma ”qurani”.

Membangun Argumen tentang Perlunya dan Bagaimana PAI Diajarkan di PT

  1. Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, yakni meningkatkan martabat manusia ke arah manusia ideal ( insan kamil ) yakni manusia yang berkembang jasmani, hati-nurani, roh, dan sirr (rasa) nya sesuai kehendak Tuhan (Rahmat, 2010).
  2. PAI di PT memiliki landasan psikologis, sosial-budaya, historis, dan yuridis yang sangat kokoh. Terutama secara psikologis, manusia adalah makhluk teogenetis (makhluk ber-Tuhan). Semua manusia tanpa kecuali membutuhkan Tuhan. Hanya saja penghalang utama kebutuhan ber-Tuhan ini adalah keinginan-keinginan duniawi. Jika keinginan-keinginan duniawi ini dikurangi, lantas diperbesar keinginan-keinginan ukhrawi, maka kebutuhan ber-Tuhan akan sangat terasa.

Mendeskripsikan tentang Perlunya dan Bagaimana PAI Diajarkan di PT

UU Sistem Pendidikan Nasional (No. 20 Tahun 2003) bab II pasal 3 menegaskan, tujuan pendidikan untuk berkembangnya potensi peserta didik (termasuk mahasiswa) agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan seterusnya

  1. Mata kuliah PAI di PT wajib diajarkan sebagai mata kuliah mandiri, diajarkan oleh dosen yang seagama dengan mahasiswa, dan diajarkan oleh dosen yang memenuhi syarat kompetensi sebagai dosen PAI yang profesional.
  2. PAI berperan menyajikan informasi yang jelas dan benar tentang agama. Tidak adanya pembelajaran PAI di PT akan mengakibatkan larinya para mahasiswa kepada organisasi-organisasi atau kelompok-kelompok keagamaan yang menyuguhkan kebahagiaan semu, yang justru bertentangan dengan agama, masyarakat, dan pemerintah.

Yang menjadi catatan

pendekatan yang lebih baik terlebih dahulu perlu disadari bahwa sumber utama pembelajaran PAI adalah Al-Quran dan hadis.

  1. Kitab Al-Quran sangat tebal, yaitu terdiri dari 6.136 ayat.
  2. Kitab-kitab hadis lebih tebal lagi. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim saja (dua kitab hadis yang paling dipercaya) terdiri dari lebih 12 ribu hadis.

Jika PAI lebih menekankan kepada pendekatan substansi, maka mahasiswa akan menerima ajaran Islam secara instan dan relatif lebih aman (karena diajarkan oleh ahlinya), tetapi mahasiswa tidak akan terbiasa menelaah ajaran Islam secara mandiri.

Sebaliknya, jika PAI menekankan kepada proses pembelajaran, mahasiswa akan terbiasa menggali / mencari sendiri ajaran Islam. Tetapi untuk dapat memahami ajaran Islam secara benar akan lebih sulit, oleh karena itu tetap memerlukan pendampingan.