Pendidikan Agama Islam:Membumikan Islam di Indonesia
A. Menelusuri Transformasi Wahyu dan Implikasinya terhadap Corak Keberagamaan
Islam dalam bentuk dasarnya adalah wahyu Allah yang nirbahasa, wahyu dalam bentuk asalnya ditempatkan dalam sebuah blueprint yang disebut lauh al-mahfuz, dari sana ia memancarkan dirinya melalui tanda-tanda (ayat) yang terdapat dalam seluruh ciptaan Allah.
Dengan bahasa sederhana, fenomena alam, fenomena social dan fenomena budaya.
- High Tradition: Pertama Islam adalah agama wahyu Allah SWT dan kebenarannya bersifat mutlak dan secara tegas dapat dikatakan hanya Tuhanlah yang paling mengetahui seluruh maksud, arti, dan makna setiap firman-Nya.
- Low Tradision: Namun Islam dalam penurunan wahyunya juga berada di bumi menjadi agama masyarakat dan kebenarannya pun sesuai dengan apa yang terjadi di sosial masyarakat dan kebenarannya menjadi relatif.
Ayat al Quran ada dua (menurut sahrur dalam “Al_qur’an wa al-kitab), yaitu Muhkamat dan Mutasyabihat
- Ayat muhkamat merupakan ayat yang berisi hukum. Jelas maknannya tapi perlu tafsir dan mengetahui asbabun nuzulnya (sebeb diturunkannya ayat tersebut.
- Ayat Mutayabihat ialah ayat yang secara samar. Kita tidak dapat kita tarik kesimpulan secara literal setelah kita membacannya. Harus mengetahui asbabun nuzul serta tafsir al Qurannya.
Ayat-ayat dibaca dan dimaknai secara komprehensif oleh orang pilihan yang disebut Nabi dan Rosul -> breakdown -> pelajaran, nasehat, ketentuan, instruksi dan informasi dari Tuhan (bahasa)
- Shuhuf ula (kitab Ibrahim a.s)
- Taurot (Nabi Musa a.s)
- Zabur (Nabi Dawud a.s)
- Injil (Nabi Isa a.s)
- Al-Qur’an ( Nabi Muhammad SAW)
Al-Qur’an disampaikan secara lisan (sesuai konteks situasional) disebabkan :
- Pernyataan tentang sebuah masalah,
- Problematika social budaya yang membutuhkan solusi
- Dan misi kenabian untuk merubah budaya suatu umat
Mengedepankan Keterbukaan, pemaknaan yang dinamis, selama tidak menyimpang dari konteks komunikasi.
Bagi Rosulallah ketika itu, al-qur’an adalah pedoman gerak dan bersikap sehingga begitu mendengar wacana lisan al-qur’an, umat islam dapat langsung mempraktekkan dalam realita kehidupan mereka
Implikasinya, nabi banyak menoleransi berbagai model pembacaan al-qur’an asal masih sejalan dengan tujuan beragama yaitu untuk menyucikan jiwa agar manusia tunduk dan patuk kepada Tuhan
Bagi Rosululloh ketika itu, al-qur’an adalah pedoman gerak dan bersikap sehingga begitu mendengar wacana lisan al-qur’an, umat islam dapat langsung mempraktekkan dalam realita kehidupan mereka
Implikasinya, nabi banyak menoleransi berbagai model pembacaan al-qur’an asal masih sejalan dengan tujuan beragama yaitu untuk menyucikan jiwa agar manusia tunduk dan patuh kepada Tuhan