Pendidikan Agama Islam:Bagaimana Kontribusi Islam dalam Pengembangan Peradaban Dunia
Berbagai bukti kemajuan peradaban Islam pada abad ke 14 kala itu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain:
- Keberadaan perpustakaan islam dan lembaga-lembaga keilmuan seperti Baitul Hikmah, Masjid Al-Azhar, Masjid Qarawiyyin dan sebagainya, yang untuk merupakan pusat para intelektual muslim berkumpul untuk melakukan Pengkajian pengembangan ilmu dan sains
- Peninggalan karya intelektual muslim seperti Ibnu Sina, Ibn Haytam, Imam Syafii, Ar-Razi, Al-Kindy, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dan lain sebagainya.
- Penemuan-penemuan intelektual yang dapat mengubah budaya dan tradisi umat manusia, seperti : penemuan kertas, karpet, kalender Islam, penyebutan hari-hari, seni arsitektur dan tata perkotaan
- Pengaruh utama nilai-nilai kebudayaan asasi sebagai manifestasi dari konsep Islam, iman, ihsan, dan taqwa. Islam mendorong budaya yang dibangun atas dasar silm (ketenangan dan kondusifitas), salam (kedamaian), salaamah (keselamatan). Sedangkan Iman melahirkan budaya yang dilandasi amn (rasa aman), dan amaanah (tanggung jawab terhadap amanah). Akhirnya Ihsan mendorong budaya hasanah (keindahan) dan husn (kebaikan)
Harun Nasution membagi sejarah Islam menjadi tiga periode, yaitu
- Periode klasik (650-1250 M),
- Periode pertengahan (1250-1800 M), dan
- Periode modern (1800 M-sekarang).
Periode klasik terbagi menjadi dua, yaitu
- Masa kemajuan Islam I (650-1000 M) dan
- Masa disintegrasi (1000-1250 M).
Masa ini bisa disebut sebagai awal dari masa keemasan Islam. Sebelum Nabi Muhammad saw. wafat, ekspansi Islam telah berhasil menguasai Semenanjung Arabia (Arabian Peninsula). Ekspansi ke luar wilayah Arab baru dimulai pada masa khalifah pertama Abu Bakar Ash- Shiddiq.
Selain dalam hal ekspansi, pada masa Rasulullah saw., Islam merupakan jalan keluar bagi kerusakan akidah atau tauhid masyarakat Arab. Islam mengajarkan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Konsep tauhid Islam inilah yang kemudian sebagai cikal-bakal dari lahirnya integrasi umat manusia. Misi Rasulullah saw. ialah membawa kedamaian, persatuan, dan kasih sayang sesama manusia, suatu misi yang sangat berlawanan bagi kultur dan kebiasaan masyarakat Arab Jāhiliyah yang selalu mengutamakan kepentingan kelompok masing-masing.
Masa kemajuan Islam I (bagian dari periode klasik)
Masa kemajuan Islam I (bagian dari periode klasik) ini ditandai oleh adanya sejarah empat sahabat Nabi Muhammad yang dalam kajian Islam akrab disebut sebagai Khulafā`ur Rāsyidīn, yaitu:
- Abu Bakar (menjabat sebagai amīr al-mu‟minīn tahun 632-634 M),
- Utsman bin Affan (644- 656 M), dan
- Umar bin Khattab (634-644 M),
- Ali bin Abi Thalib (656-661 M).
Pada masa ini Islam mulai tersebar di luar wilayah Semenanjung Arab.
- Terjadi penaklukan- jalan keluar bagi kerusakan akidah atau tauhid dari lahirnya integrasi umat manusia.
- Penaklukan Islam terhadap beberapa wilayah, seperti Damaskus, Mesir, Irak. Palestina, Syiria, dan Persia.
- Pergerakan dari “kerajaan” Khulafā`ur Rāsyidīn selanjutnya diteruskan oleh Dinasti Umayyah (661-750 M).
Pada masa ini juga ditandai dengan berkembangnya kebudayaan Arab.
- Determinasi dari Khalifah Abdul Malik dengan perubahan bahasa administrasi dari bahasa Yunani dan bahasa Pahlawi ke bahasa Arab, membuat masyarakat semakin menaruh perhatian terhadap bahasa Arab.
- Penyair-penyair Arab-baru bermunculan pada masa ini, seperti Qays bin Al-Mulawwah (w. 699 M), Jamil Al-Udhri (w. 701 M), Al-Akhtal (w. 710 M), Umar bin Abi Rabi‟ah (w. 719 M), Al-Farazdaq (w. 732 M), dan Jarir (w. 792 M). Tidak hanya itu, perhatian dalam bidang tafsir, hadis, fikih, dan ilmu kalam juga hadir pada masa ini.
Peradaban Islam semakin maju dengan :
- Perpindahan kekuasaan dari Dinasti Bani Umayyah ke Dinasti Bani Abbasiyah.
- Pusat kota kerajaan Bani Abbasiyah terletak di Baghdad menggantikan kota Damaskus pada masa Dinasti Umayyah. Perpindahan ibu kota kerajaan ini dilakukan oleh Khalifah Al-Manshur (754-775 M). Pada tahun 775 M kepemimpinan Al-Manshur digantikan oleh Khalifah Al-Mahdi (775-785).
- Pada zaman ini perekonomian negara mulai meningkat dengan berkembangnya bidang pertanian dan pertambangan.
- Pada masa Bani Abbasiyah perhatian Terhadap ilmu pengetahuan mulai tumbuh, khususnya pada masa kepemimpinan Harun Al-Rasyid (785-809 M) dan Al-Ma'mun (813-833).
- Khalifah Al-Ma’mun Mendirikan Bait al-Hikmah. Di antara cabang-cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan dalam Bait al-Hikmah ini adalah ilmu kedokteran, fisika, geografi, astronomi, optik, sejarah, dan filsafat.
Pada masa kemajuan Islam ini terdapat integrasi dari beberapa cabang ilmu pengetahuan.
- Dalam ilmu kedokteran, Ar- Razi yang di Eropa dikenal dengan nama Rhazes. Karya-karyanya di bidang kedokteran diterjemahkan ke dalam bahasa Latin untuk digunakan di Eropa.
- Ibnu Sina seorang filsuf sekaligus dokter. Ia menulis satu ensiklopedia dalam ilmu kedokteran berjudul Al-Qānūn fī Ath- Thibb (Canon of Medicine). Buku ini digunakan di Eropa sampai pertengahan kedua dari abad XVII. Integrasi juga terjadi dalam bidang bahasa, kebudayaan, astronomi, optik, ilmu kimia, geografi, dan filsafat.
- Dalam bidang penyusunan hadis terkenal nama Imam Bukhari dan Muslim.
- Dalam bidang fikih, terkenal nama Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi‟i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.5. Imam Ath-Thabari terkenal dalam bidang tafsir dan
- Ibnu Hisyam terkenal dalam bidang sejarah.
- Perumusan konsep teologi dihadirkan oleh Washil bin Atha‟, Ibnu Huzail Al-Allaf dan lain- lain dari golongan Muktazilah. Adapun dari Ahlu Sunnah, terkenal Abu Hasan Al Asy‟ari dan Al-Maturidi.
- Dalam bidang tasawuf, terdapat nama Abu Yazid Al-Busthami, Husain bin Mansur Al Hallaj, dan sebagainya.
Periode ini merupakan masa peradaban Islam yang tertinggi dari periode-periode sebelumnya.
Periode masa disintegarsi (1000-1250 M)
Masa ini ditandai dengan adanya kerajaan-kerajaan independen yang ingin memisahkan diri dari kepemimpinan seorang khalifah. Disintegrasi politik tersebut yang menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam.
Selanjutnya Islam mengalami disintegrasi politik dan perpecahan di kalangan umat yang menyebabkan Islam mundur dari pentas atau panggung peradaban dunia. Ditambah dengan upaya diterjemahkannya buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat karangan para ahli dan filsuf Islam ke dalam bahasa Eropa pada abad ke-12 M, menandai berakhirnya fase kemajuan Islam I (650-1000 M).
Periode Pertengahan (1250-1800 M)
Pada zaman ini tidak ada perkembangan yang berarti bagi peradaban Islam, kecuali hanya sedikit. Perkembangan itu pun hanya bersifat memperluas kekuasaan Islam ke dalam beberapa wilayah, seperti di Mesir, India, Persia, Turki, dan lain-lain. Rekaman sejarah yang paling terlihat dan dikenal masyarakat pada umumnya pada zaman ini adalah penaklukan Konstantinopel dari Kerajaan Bizantium pada tahun 1453 M oleh Sultan Muhammad Al-Fatih (1451-1481 M).
Pada zaman ini terdapat tiga kerajaan besar, yaitu :
- Kerajaan Utsmani di Turki,
- Kerajaan Safawi di Persia, dan
- Kerajaan Mughal di India.
Masing-masing dari kerajaan ini tidak memperlihatkan kontribusi bagi peradaban Islam secara signifikan. Peperangan demi peperangan bahkan sering terjadi pada masa tiga kerajaan besar ini untuk menguasai wilayah tertentu. Disintegrasi politik pada masa ini terlihat semakin besar dibandingkan dengan masa Bani Abbasiyah dan sekaligus menandai berakhirnya perkembangan peradaban Islam.
Periode Modern (1800 - sekarang).
Pada masa ini bisa disebut juga sebagai masa kebangkitan dunia Islam. Sejumlah tokoh Islam melakukan pembaruan pemikiran Islam atau modernisasi dalam Islam untuk mengembalikan kejayaan Islam.
Beberapa tokoh pembaru itu di antaranya seperti
- Di Mesir terkenal nama Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin Al- Afghani.
- Di India pembaruan dilakukan oleh Sir Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali dan Muhammad Iqbal. Ide pembaruan itu sampai masuk ke Indonesia dan dikembangkan oleh K.H Ahmad Dahlan dari organisasi Muhammadiyah dan oleh KH Hasyim Asy‟ari dari Nahdhatul Ulama.
Faktor Penyebab Kemajuan dan Kemunduran Peradaban Islam
Faktor Penyebab Kemajuan :
- Peradaban Islam pada masa rasul ditandai dengan adanya pengaruh wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad terhadap budaya Arab Jāhiliyah. Fokus misi Rasulullah, selain menyeru kepada tauhid, adalah pembentukan akhlak manusia dan menghapus tradisi fanatisme golongan. Sebelum kedatangan Islam, Arab diselimuti oleh kekuatan primordialisme yang mengakar kuat di dalam masyarakat.
- Bani Umayyah merupakan sebuah kerajaan Islam yang memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi peradaban Islam. Selain perluasan wilayah Islam ke dalam beberapa wilayah, Bani Umayyah memberikan kontribusi bagi peradaban Islam, seperti pengembangan bahasa Arab, seni, dan ilmu-ilmu agama pada umumnya yang berupa fikih, tafsir, hadis, dan lain lain.
- Kepemimpinan Bani Umayyah telah membuka terjadinya kontak antarbangsa Muslim (Arab) dengan beberapa negara taklukan yang terkenal mempunyai tradisi luhur seperti Mesir, Persia, Eropa (Bizantium), dan sebagainya. Pola hubungan ini menciptakan kreativitas baru dalam bidang ilmu pengatahuan.
- Kepemimpinan Bani Umayyah memberikan perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Pada masanya, perhatian terhadap ilmu pengetahuan mulai hadir menyelimuti peradaban Islam.
- Bani Abbasiyah sebagai dinasti yang secara resmi menggantikan kekhalifahan Bani Umayyah tersebut juga banyak memberikan kontribusi bagi peradaban Islam. Era ini bahkan sering disebut-sebut sebagai masa kemajuan Islam. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abu Al-Abbas Ash-Shafah pada tahun 750 M. Kerajaan ini berkuasa selama lima abad dari tahun 750 M. sampai tahun 1258Faktor Penyebab Kemajuan :
- Masa kejayaan Bani Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dan anaknya Al-Ma‟mun. Pada masanya ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum berkembang pesat.
Perkembangan ilmu agama meliputi, pembukuan sejumlah bidang agama, yaitu fikih, tafsir, hadis, kalam, dan tasawuf.
Adapun bidang ilmu pengetahuan umum meliputi filsafat, ilmu kedokteran, ilmu astronomi, farmasi, geografi, sejarah, dan bahasa. Kemajuan ini disebabkan pada orientasi peradaban yang diarahkan pada kemajuan ilmu pengetahuan, dan bukan pada ekspansi perluasan wilayahKepemimpinan Bani Umayyah memberikan perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Pada masanya, perhatian terhadap ilmu pengetahuan mulai hadir menyelimuti peradaban Islam.
Faktor Penyebab Kemunduran :
- Masa kejayaan Islam itu selanjutnya mulai memudar seiring runtuhnya kerajaan Bani Abbasiyah. Akhir kekuasaan Dinasti Abbasiyah (1000-1800 M) merupakan periode pertengahan, saat menyurutnya kontribusi Islam bagi kemajuan peradaban. Hal ini dikarenakan pada masa ini umat Islam hanya sibuk dengan urusan perang untuk mempertahankan sekaligus merebut kekuasaan.
- Adanya konflik penguasa Islam dengan penguasa Kristen, tidak adanya ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan, dan letaknya yang terpencil dari pusat wilayah dunia Islam yang lain.
Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Filosofis dan Teologis Kontribusi Islam bagi Peradaban Dunia
Mulyadhi Kartanegara dalam Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam menuliskan bahwa ada tiga faktor yang mendorong perkembangan ilmu di dunia Islam pada saat kejayaan umat Islam. Ketiga faktor tersebut adalah
- Faktor agama dan ramifikasinya (percabangannya),
- Apresiasi masyarakat terhadap ilmu, dan
- Patronase [perlindungan dan dukungan] para dermawan dan penguasa terhadap kegiatan ilmiah.
Menurut Nurcholish Madjid dalam Tradisi Islam: Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia,
“kreativitas akan terhambat jika suatu masyarakat terjerembab ke dalam pandangan- pandangan vatalistik dan pemujaan masa lampau”.
Maka, dalam keadaan tertentu diperlukan kemampuan “memutuskan” diri dari budaya masa lampau yang negatif, yang kemampuan itu sendiri dihasilkan oleh sikap-sikap kritis yang bersifat membangun.
Jadi, kita sebagai umat Islam yang bergerak di dunia modern saat ini harus tidak memandang sejarah peradaban yang pernah dicapai pada masa lalu sebagai prestasi yang harus selalu diagung-agungkan. Kita harus berani menggali spirit dari kemajuan masa lampau dan jangan hanya bernostalgia dengan capaian masa lampau.
1. Sumber Historis
Banyak peradaban yang hancur (mati) karena “bunuh diri” bukan karena benturan dengan kekuatan luar. Peradaban hancur karena peradaban tersebut tidak dibangun di atas nilai-nilai spiritualitas yang kokoh.
Berbeda dengan peradaban lainnya, peradaban Islam saat itu tumbuh berkembang dan dapat tersebar dengan cepat dikarenakan peradaban Islam memiliki kekuatan spiritualitas. Umat Islam kala itu bekerja keras untuk melahirkan peradaban baru dengan semangat spiritual tinggi untuk membangun reruntuhan peradaban lama. Oleh karena itu, aspek spiritual memainkan peran sentral dalam mempertahankan eksistensi peradaban Islam.
Orientasi kepada spiritualitas pada masa Bani Umayyah telah mendorong penghargaan terhadap pluralitas sehingga beragam aliran pemikiran tumbuh dan berkembang dalam bingkai kedaulatan Islam yang memberikan ruang bagi setiap golongan.
Apabila kita menengok pemerintahan Islam secara umum, para khalifah dari Bani Umayyah seperti Abu Hasyim Khalid ibn Yazid merintis penerjemahan karya-karya Yunani di Syria. Juga ketika masa Bani Abbasiyah memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kegiatan intelektual yang menjadikan proses tranformasi intelektual bergerak cepat.
Toleransi penguasa-penguasa Islam dalam aktivitas intelektual sehingga orang-orang non-uslim memiliki kebebasan dan berlomba dalam mengembangkan kerja pikir dan dalam pelbagai lapangan pekerjaan.
Menurut Margaret Smith adanya kepercayaan (agama) yang berbeda ternyata tidak menghalangi mereka untuk bekerja sama, karena para penguasa Islam memiliki visi yang maju ke depan dan lebih mengutamakan profesionalisme.
Peradaban dunia saat ini tidaklah harus dipertentangkan antara dunia Islam (Timur) dan dunia non-Islam (Barat). Pandangan stereotipikal, tentang dunia Timur yang dilihat oleh orang-orang Barat dan dunia Barat yang dilihat oleh orang-orang Timur, memang selalu ada dan tidak dapat seluruhnya terhindarkan. Akan tetapi, jika kita kembalikan bahwa Timur dan Barat adalah milik Tuhan dan bahwa manusia Barat dan manusia Timur adalah manusia yang sama dan tunggal, maka seharusnya hal itu tidak terjadi.
Seharusnya kita bersyukur dan mau melihat betapa arifnya dan besar jasa kekhalifahan zaman dulu dalam membuka pintu kebebasan berpikir dan ilmu pengetahuan tetap diakui dalam sejarah umat manusia. Maka kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyyah dengan segala nilai positif dan negatifnya, dipandang sebagai salah satu tonggak sejarah peradaban Islam.
2. Menggali Sumber Sosiologis
Secara kultural agama Islam yang lahir di luar hegemoni dua dinasti yang berkuasa yakni Romawi dan Persia menjadikan umat Islam memiliki sikap terbuka sehinggga sikap mereka positif terhadap pelbagai budaya bangsa-bangsa lain itu.
Dengan demikian, peradaban Islam yang pertama kali menyatukan khazanah bersama secara internasional dan kosmopolit. Sebelum peradaban Islam, ilmu pengetahuan memang telah ada, namun sifat dan semangatnya sangat nasionalistis dan parokialistis, dengan ketertutupan masing-masing bangsa dari pengaruh luar karena merasa paling benar.
Para peneliti modern tentang sejarah ilmu pengetahuan berselisih pendapat tentang nilai orisinalitas kontiribusi dan peranan orang-orang muslim. Bertrand Russel, misalnya, cenderung meremehkan tingkat orisinalitas kontribusi Islam di bidang filsafat, namun tetap mengisyaratkan adanya tingkat orisinalitas yang tinggi di bidang matematika dan ilmu kimia. Dalam bidang filsafat, peranan orang-orang Islam, meskipun tidak bisa diremehkan, hanyalah dianggap sebagai pemindah (transmitter) dari Yunani Kuno ke Eropa Barat.
Howard R. Turner dalam Sains Islam yang Mengagumkan menyatakan bahwa umat Islam menerima warisan berharga dari budaya-budaya Asia, Yunani, Romawi, Bizantium, dan Afrika. Sebagian warisan budaya bangsa-bangsa terdahulu itu diterima sesuai dengan aslinya dan sebagian lain diubah. Bila ditelusuri secara sosiologis, Islam memiliki keterbukaan untuk menyapa peradaban lain. Implikasinya keterbukaan Islam itu menghasilkan khazanah keilmuan dan kebudayaan yang melimpah.
3. Menelusuri Sumber Filosofis dan Teologis
Semangat para filsuf dan ilmuwan Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tidak lepas dari semangat ajaran Islam, yang menganjurkan para pemeluknya belajar segala hal, sebagaimana perintah Allah Swt. dalam Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad. Ini menjadi dasar teologis yakni dengan melakukan pengkajian yang lebih sistematis akan sumber-sumber ajaran agama dan penghargaan yang lebih baik, namun tetap kritis kepada warisan kultural umat, dan pemahaman yang lebih tepat akan tuntutan zaman yang semakin berkembang secara cepat.
Secara filosofis, Islam memiliki semangat membangun peradaban yang oleh Nabi Muhammad diterjemahkan dalam bentuk “Masyarakat Madani” atau “Masyarakat Medinah” sebagai civil society kala rasul hidup dan terus membangun kerjasama dengan masyarakat Medinah yang majemuk, dan berhasil membentuk “common platform” atau kalimat pemersatu (kalimatun sawā`).
Membangun Argumen tentang Kontribusi Islam Bagi Peradaban Dunia
“Peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun dari kata Iqra. Sebuah kata yang secara filosofis merupakan symbol bahwa Islam adalah agama yang sangat peduli akan pentingnya menumbuhkan masyarakat yang maju dalam pengetahuan. Islam merupakan agama pendidikan, agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk memahami segala fenomena yang terjadi di masyarakat. Islam sebagai agama ilmu pengetahuan sangat peka akan pentingnya sumber daya manusia. Untuk mengantarkan masyarakat yang educated al Qur‟an mengarusutamakan istilah iqra‟ . Kalau tokoh dan pemikir dunia hanya mengatakan bahwa manusia sebagai mahluk sosial, mahluk politik, dan sebagainya, al-Qur‟an memperkenalkan konsep manusia sebagai mahluk membaca. Islam memandang bahwa kemajuan peradaban hanya bisa diraih dengan kata kunci membaca...” (Koran Media Indonesia, 16 Juli 2014).
Tidak dapat disangkal bahwa komunitas Islam klasik pernah jemawa bahu-membahu membangun sebuah tatanan peradaban yang mengantarkan dunia menjadi modern. Apakah sebabnya? Setelah melihat uraian sebelumnya, kita bisa membagi sebab-sebab itu menjadi sebab normatif dan sebab historis.
- Bila kita menekankan pada sebab normatif, maka kesimpulan yang akan ditarik adalah bahwa kemampuan komunitas Islam klasik kala itu tidak lain diilhami oleh ajaran-ajaran profetik Islam yang dibawa oleh Muhammad yakni Al-Quran dan As-Sunnah.
- Di pihak lain, kita tidak bisa menutup mata dari adanya ilham- ilham lain berupa khazanah-khazanah ilmu yang datang dari luar komunitas Islam. Inilah yang disebut „ulūm al-awā`il (ilmu-ilmu orang terdahulu), yang tercakup di dalamnya warisan-warisan berharga dari Yunani, Romawi, China, Persia dan India.
Jangan dikira perjalanan komunitas pengikut Muhammad ini lancar-lancar saja, tanpa hambatan, dalam ikut berkontribusi dalam kemajuan peradaban dunia.
Setidaknya dalam perjalanan sejarah akan ditemukan baku tikai yang tidak sebentar. Pasca-wafatnya Nabi Muhammad mulai terjadi pertikaian akademik-ideologis sampai saat ini sehingga sulit dikatakan tidak ada perbedaan pandangan dalam Islam.
Secara definitif bahwa inti, core, saripati atau roh peradaban adalah sains. Dengan dibingkai oleh sinaran sains ini, siapakah pihak Islam yang paling mampu dan akan memberikan kontribusi nyata jika bukan para rasionalis, atau lebih tepat saintis (gabungan kompleks antara rasionalis dan empirisis)?
kita sebut dan kenang mengenai Ibn Sina yang abadi bersama Al- Qānūn fī al-Thibb-nya, yang mengajarkan segala yang diketahui dan dikuasainya: filsafat, logika, kedokteran, dan sebagainya.
Kita juga tidak bisa lupa peran Universitas Cordoba di Andalusia yang diisi para ilmuwan-ilmuwan yang hidup dalam iklim pemikiran bebas yang dijamin negara, yang akhirnya menjadi kiblat bagi negara-negara Eropa untuk mempelajari Liberal Arts yang meliputi, di antaranya, logika, retorika, matematika, fiska, etika, dan estetika.
Mengingat sains bersifat universal dan bebas nilai. Jika demikian, maka makna urgensi kontribusi Islam bagi peradaban dunia hingga kini sudah benar-benar tuntas! Akan tetapi, sebagaimana yang sudah dikemukakan, bahwa:
- Apakah kita, umat Islam, masih memiliki posisi yang urgen dalam perkembangan sains yang tidak akan pernah berhenti ini?
- Di manakah letak urgensi Islam, sebagai ajaran dan komunitas, untuk kemajuan sains abad ini?
Abdus Salam, peraih Nobel fisika dari Pakistan pernah menyatakan, “tidak diragukan lagi bahwa dari seluruh peradaban di planet ini, sains menempati posisi yang paling lemah di dunia Islam. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa kelemahan ini berbahaya karena keberlangsungan hidup suatu masyarakat pada abad ini secara langsung tergantung pada penguasaannya atas sains dan teknologi.” (Hoodbhoy: 1996).
Ungkapan yang kiranya cukup representatif untuk mengingatkan bahwa kondisi kita dalam perkara sains sangat mengkhawatirkan.
Abdus Salam dalam Hoodbhoy (1996) menyatakan,
“Ortodoksi agama dan semangat intoleransi merupakan dua faktor utama yang bertanggung jawab atas musnahnya lembaga ilmu pengetahuan yang pernah jaya dalam Islam. Sains hanya dapat hidup bilamana terdapat praktisi yang memadai berupa suatu komunitas yang dapat bekerja dengan tenang, didukung oleh infrasruktur eksperimental dan pustaka yang lengkap, dan memiliki kemampuan untuk saling memberi kritik secara terbuka kepada masing-masing bidang. Ironisnya, kondisi- kondisi ini tidak terpenuhi dalam masyarakat Islam sekarang ini.”
Kesimpulan
Dengan mencermati pernyataan Abdus Salam di atas kita dapat menyimpulkan bahwa umat Islam telah kehilangan faktor-faktor emas yang pernah dimiliki pada zaman dahulu untuk mengembangkan sains pada masa kini dan pada masa mendatang.
Sampai uraian ini, kita sebagai umat islam belum keluar dari jalur kesimpulan mengenai posisi Islam sebagai “periferal”, sedang Barat sebagai nahkoda dalam kemajuan sains modern. Sebuah kenyataan empiris yang sangat sulit untuk dibantah.
- Bagaimana umat Islam mampu melakukan kritik terhadap diri sendiri?
- Bagaimana menghidupkan kembali sainstisme (rasionalisme dan empirisisme) Islam, yang dahulu pernah bahu-membahu bersama peradaban-peradaban bangsa lain, meski bukan seagama, dalam membangun peradaban global yang damai?