Jump to content

Pendidikan Agama Islam:Bagaimana Islam Membangun Persatuan Dalam Keberagaman

From Wiki

A. Menelusuri Konsep Keberagamaan Islam dan Membangun Persatuan Umat dalam Keberagaman

Islam sebagai realitas religio-kultural berada pada 2 korpus (kumpulan teks yang menangkap penggunaan bahasa dalam bentuk tertulis atau lisan) historis

1. Islam sebagai Korpus Wahyu

(islam ideal) berisi tentang daftar sejumlah Doktrin ( Menurut KBBI artinya Ajaran dan dalam alkitab memiliki arti yang diterima ) dan Dogma ("pendapat/ opini") bersifat normatif atau high tradition, sebagaimana dikandung dan ditunjukan oleh teks teks Al-Quran

2.Korpus Historis berisi "kotak-kotak" Multikultural

(keragaman budaya) yang menunjukkan realitas religio-kultural yang penuh dengan keberagaman. namun juga didapati keberagaman yang disebut "Multisyariat" (keragaman perintah)

Islam historis adalah islam yang berada pada kerangka lokal traditional yang dibaca, dimengerti, dipahami dan dipraktikkan oleh umatnya dalam konteks waktu dan ruang yang berbeda-beda.

Bassam Tibi (1991) menyebut

  • Islam wahyu sebagai models for reality dan,
  • Islam historis sebagai models of reality

Bassam Tibi (1991) menyebut

  • Islam wahyu sebagai models for reality berisi daftar sejumlah doktrin dan dogma
  • Islam historis sebagai models of reality, berisi “kotak-kotak” multicultural yang menunjukkan realitas religio-kultural yang penuh keberagaman

Keberagaman kultural menimbulkan keberagaman pemahaman dan praktek keagamaan yang syarat perbedaan antara satu umat dengan umat yang lainBentuk konkret ukhuwah islamiah di Indonesia adanya 2 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia

  • Nahdlahtul Ulama
  • Muhammadiyah

yang memiliki corak khas dalam keyakinan religiusnya

B. Menanya tentang Konsep Keberagaman Islam dan Membangun Persatuan Umat dalam Keberagaman

Pada masa mulai berdirinya Muhamadiyyah, dituding sebagai pembawa keresahan dimasyarakat karena menyebarkan isu TBC (Tahayul, Bidah dan Khurafat). Kemudian Muncul Juga organisasi Nahdhotul ‘Ulama (NU) dalam rangka mempertahankan madzhab dan keyakinan religiusnya. Pada saat itu Muhamadiyyah dan NU saling bergesekan tentang persoalan TBC ini.

Keberhasilan revolusi Islam Iran memicu (ayatullah khomaini yang menggulingkan syah reza pahlevi , 1976) kebangkitan islam diperbagai belahan dunia dan membuat madzhab syiah ramai dipelajari orang-orang islam bahkan ada juga yang beralih madzhab ke madzhab syiah.

Orang Islam Indonesia pun menolak Ahmadiyah dan JIL (Jaringan Islam Liberal). Melihat banyaknya madzhab dan keyakinan religius ada sebagian ulama dan cendekiawan muslim yang menggagas Ukuwah Islamiyyah.

Melihat beragamnya mazhab dan keyakinan religius, sebagian ulama dan cendekiawan muslim menggagas ukhuwah islamiah (Persaudaraan Muslim). Jika diringkas ada tiga model ukhuwah islamiah yang digagas dan diperjuangkan oleh kaum muslimin Indonesia, yakni:

  1. Ukhuwah islamiah terbatas dalam rumpun islam suni (NU, muhammadiyah, persis, dan islam suni lainnya).
  2. Ukhuwah islamiah lebih luas hingga mencakup islam syiah
  3. Ukhuwah islamiah lebih luas lagi hingga mencakup ahmadiyah dan islam liberal.

C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, dan Teologis tentang Konsep Keberagaman Islam dan Membangun Persatuan Umat dalam Keberagaman

1. Awal Lahirnya Mazhab dalam Islam

Perbedaan mazhab muncul ketika Nabi Muhammad wafat, yakni ketika para sahabat akan menetapkan tokoh yang paling layak untuk memimpin umat menggantikan Nabi Muhammad.

Baik sahabat Muhajirin maupun sahabat Ansar masing-masing merasa paling layak memimpin umat.

Muhajirin berargumentasi bahwa merekalah orang yang paling awal mendukung kenabian dan paling dekat kekerabatannya dengan Nabi Muhammad.

Sedangkan Ansar pun berargumentasi bahwa Islam menjadi besar berkat perlindungan mereka.

Akhirnya Umar bin Khathab r.a. mendeklarasikan Abu Bakar Shiddiq r.a. (tokoh Muhajirin) sebagai khalifah, yang disetujui oleh sebagian kaum Ansar.

Namun, pada saat itu sebetulnya sudah ada dua mazhab dalam Islam, yaitu

  • Mazhab sahabat (yang dipelopori oleh kaum Muhajirin dan Ansar) dan
  • Mazhab keluarga nabi (yang dipelopori oleh Ali bin Abi Thalib).

Inilah sebenarnya benih-benih munculnya dua mazhab dalam Islam, yakni mazhab Suni dan mazhab Syiah.

2. Pentingnya Mengenal Mazhab

Ada 4 alasan, kita perlu mengenal mazhab dalam Islam

  1. Tanpa mengenal mazhab dimungkinkan kita akan memusuhi sesama umat Islam, yang tentunya akan memperlemah kekuatan umat Islam
  2. Adanya beragam mazhab memungkinkan kita memiliki banyak pilihan untuk mengatasi permasalahan kehidupan modern.
  3. Tanpa mengenal mazhab, orang akan bingung karena beragam pemikiran dan hukum Islam yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan. Dengan mengenal mazhab, maka kita tidak akan kaget dengan perbedaan pemikiran dan produk hukum itu.
  4. Gerakan ukhuwah islamiah didengungkan oleh hampir setiap ulama, cendekiawan muslim, dan orang-orang Islam pada umumnya. Tanpa memahami mazhab yang berbeda-beda upaya ini hanyalah sebuah slogan palsu, yang mudah diucapkan tapi sukar dilaksanakan.

Pentingnya kita mempelajari berbagai madzhab dikarenakan Alloh SWT memuji orang-orang yang mau mempelajari beragam madzhab, dan menggelarinya sebagai ulil albab. Dalam QS az-Zumar 39:18 dinyatakan:

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.

3. Mazhab Fikih di Indonesia

Secara umum di Indonesia terdapat dua mazhab besar,

  1. yaitu mazhab yang berpegang pada empat mazhab (Syafi`i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali) dan
  2. mazhab yang langsung berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) dan kaum ahlus sunnah wal jamā‟ah (Aswaja) lainnya berpegang pada empat mazhab, sedangkan masyarakat Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis) berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Sebenarnya, mereka yang berpegang pada empat mazhab pun berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah, yakni Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana dipahami imam mazhab. Dalam keadaan demikian tidak ada alasan untuk menyimpang dari hadis Nabi Muhammad kecuali kalau ada sikap munafik yang tersembunyi.

4. Menggali Sumber teologis tentang konsep keberagaman islam dan membangun persatuan umat dalam keberagaman

Adanya hasil ijtihad yang berbeda dari para mustahid disebabkan karena sifat lafal yang ada baik dalam Alquran maupun hadis yang terkadang memiliki makna ganda. Sebagai contoh: Makna quru’

  1. Ulama hanafiah memaknai haid/menstruasi
  2. Ulama syafi’iyyah memaknai quru’ sebagai thuhr (suci)

Implikasi hukumnya, apabila ada istri yang bercerai mau menikah lagi, menurut :

Ulama hanafiah, cukup menunggu 3 x menstruasi

Ulama syafi’iyyah, menunggu 3 x suci

Sebab timbulnya perbedaan mazhab menurut tokoh Persatuan Islam, Almarhum Ust.Abdurrahman (1993) :

  1. Untuk memperoleh suatu keterangan, pada masa para imam jumlah hadist-hadist yang diterima kadang-kadang tidak sama.
  2. Teknik grafika (mencetak) belum ada seperti sekarang. Adanya Qaul Qadīm dan Qaul Jadīd membuktikan bahwa keterangan itu berangsur-angsur diperoleh atau dalam urusan duniawi terjadi perubahan dalam masyarakat.

Ditambah:

  1. Dalam cara memahami ayat-ayat Al- Quran dan cara memilih hadis-hadis sahih
  2. Tentang validasi hadis, diantara para imam hadis terjadi perbedaan kesahihan.

D. Membangun Argumen tentang Konsep Keberagaman Islam dan Membangun Persatuan Umat dalam Keberagaman

Dalam surat Al- Baqarah ayat 213 dijelaskan:

pada saat umat manusia dibimbing oleh seorang nabi, maka manusia itu adalah satu umat. Setelah nabi wafat, umat menjadi terpecah belah (kedalam beberapa golongan agama, mazhab, dan keyakinan religius).

Kemudian Allah mendatangkan lagi nabi lain, dengan tujuan untuk memberikan petunjuk tentang agama yang benar.

  1. Umat yang menghendaki hidayah akan beriman kepada nabi / rasul yang baru (pengganti nabi / rasul sebelumnya).
  2. Kebanyakan manusia malah iri dengan nabi / rasul yang baru (dengan alasan bahwa nabi / rasul pengganti nabi / rasul sebelumnya itu bukan mereka atau dari kalangan mereka). Watak mereka persis iblis yang enggan sujud (taat) kepada Nabi Adam. Mereka malah menciptakan agama, mazhab, dan keyakinan religius (berdasarkan ajaran nabi / rasul terdahulu yang telah wafat).

Demikianlah, setiap seorang nabi / rasul wafat, umat manusia terpecah belah ke dalam beberapa agama, mazhab, dan keyakinan religius. Oleh karena itu, seiring dengan bergesernya zaman, maka semakin banyaklah agama, mazhab, dan keyakinan religius.

UPAYA DALAM MEWUJUDKAN PERSATUAN UMAT

Untuk mewujudkan persatuan masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia,

  1. perlu adanya kerja sama antara pemimpin dan rakyat. Jargon demokrasi yang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat butuh pembuktian yang nyata dalam menjaga keamanan dan ketenangan bagi setiap umat beragama, dan tegas dalam mengambil keputusan jika ada yang meresahkan rakyat setempat.
  2. Peduli kepada sesama tanpa melihat suku, ras, budaya, dan agama dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan masing-masing.
  3. Cinta tanah air dengan bangga menjadi warga Negara Indonesia, bangga terhadap budaya Indonesia dan dengan cara menerapakan bahwa negara kita adalah negara yang paling istimewa.
  4. Melahirkan kembali semangat nasionalisme dengan mempelajari kembali perjuangan para pejuang dahulu yang telah berkorban jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia.

E. Mendeskripsikan Konsep Keberagaman Islam dan Membangun Persatuan Umat dalam Keberagaman

Dengan kemajuan teknologi informasi, kita – suka ataupun terpaksa – akan mengetahui beragamnya mazhab dalam Islam. Maka dari itu, kita harus mempelajari perbedaan mahzab dalam Islam, agar kita bersikap toleran dan akhirnya ukhuwah islamiah benar-benar terwujud

F. Rangkuman tentang Bagaimana Membangun

Persatuan Umat dalam Keberagaman Sedikitnya ada 3 alasan kita perlu mengenal mazhab-mazhab dalam Islam.

  1. Adanya beragam mazhab dalam Islam merupakan realitas, yang harus dipandang sebagai kekayaan budaya Islam
  2. Adanya beragam mazhab memungkinkan kita memiliki banyak pilihan untuk mengatasi permasalahan kehidupan modern
  3. Di era globalisasi – yang ditandai dengan revolusi informatika – arus informasi begitu mudah diakses, termasuk informasi tentang Islam

Namun demikian, mengapa yang terkenal hanya lima mazhab? (Syafi’i, maliki, hanafi, hambali dan ja’fari) Sedikitnya ada dua alasan:

pertama, karena kelima mazhab ini memiliki pengikut yang paling banyak; dan

kedua, karena penguasa kemudian turut serta mendukung dan mengembangkan salah satu dari kelima mazhab ini sehingga hanya lima mazhab inilah yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat Islam di dunia sekarang ini.

Mengapa NU (dalam bidang fikih) berpegang kepada empat mazhab? Alasannya:

  • Banyak dalil yang mengharuskan umat Islam mengikuti ahlus sunnah wal jamā‟ah, dan keempat mazhab ini jelas sekali memiliki ciri-ciri ahlus sunnah wal jamā‟ah;
  • Ada perintah taklid kepada ulama (mengikuti pendapat ulama), sedangkan keempat imam mazhab merupakan ulama besar;
  • Keempat imam mazhab telah mencurahkan dirinya dalam meneliti pendapat-pendapat yang dipastikan dan yang belum dapat dipastikan sehingga para pengikutnya terbebas dari segala perubahan dan penyimpangan, dan imam mazhab mengetahui hadis yang sahih dan yang lemah; dan
  • Ulama dari generasi ke generasi mengikuti empat mazhab.

Mengapa Muhammadiyah tidak bermazhab, ada 3 alasan:

  1. Tidak ada dalil yang mengharuskan memilih mazhab empat;
  2. Keempat tokoh imam mazhab memerintahkan pengikutnya untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah; dan - adanya dalil yang memerintahkan berijtihad dan melarang taklid.

Kesimpulannya

Beragamnya madzhab dan keyakinan religius dalam islam disatu sisi mengharuskan setiap orang islam terus belajar sepanjang hayat, jangan puas dengan pengetahuan agama yang dimiliki.

Sesuai hadist nabi:

"Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi ".

"Carilah ilmu mulai dari buaian hingga masuk liat lahat",

Hal ini berati :

  1. Ketika kecil, dididik dengan pendidikan agama yang benar
  2. Setelah dewasa, wajib terus mencari ilmu sepanjang hayat.
  3. Boleh berhenti ketika kematian menjemput