Pembelajaran Mendalam: teknologi digital diterapkan dalam lingkungan kelas
Dalam lingkungan kelas, teknologi digital diterapkan secara luas untuk memperkaya pengalaman belajar dan meningkatkan efektivitas pembelajaran. Pemanfaatan teknologi digital ini merupakan salah satu dari empat komponen penting dalam kerangka Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), bersama dengan praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, dan kemitraan pembelajaran.
Berikut adalah beberapa cara teknologi digital diterapkan di lingkungan kelas:
1. Menciptakan Pembelajaran Interaktif, Kolaboratif, dan Kontekstual
Teknologi digital membantu guru merancang pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan kontekstual. Guru dapat memanfaatkan video pembelajaran, platform pembelajaran, perpustakaan digital, dan forum diskusi daring. Contoh platform digital interaktif seperti Kahoot! atau Quizizz dapat digunakan untuk kuis interaktif. Fitur-fitur interaktif pada platform digital ini terbukti mendorong partisipasi aktif dan kolaborasi antar siswa.
Dalam kegiatan kokurikuler, teknologi digital berfungsi sebagai alat bantu untuk mencari referensi, mendokumentasikan proses, menyampaikan pesan ke publik, berkolaborasi jarak jauh, memvisualisasikan ide kreatif murid, dan mempublikasikan hasil pembelajaran. Ini juga dapat digunakan untuk asesmen dan pertukaran informasi antar guru mengenai perkembangan belajar murid.
2. Memperluas Akses Informasi dan Sumber Belajar
Pemanfaatan digital dimaksudkan untuk memperluas akses informasi dan mendorong eksplorasi serta refleksi siswa, menjadikan proses belajar lebih bermakna dan aktif. Siswa diberi kebebasan untuk mencari sumber informasi menggunakan teknologi digital seperti Google atau YouTube.
Contohnya, dalam proyek "Peduli Lingkungan" di SMP Generasi Unggul, laptop, Infocus, video, dan aplikasi seperti Canva/PowerPoint digunakan untuk analisis lingkungan dan presentasi solusi.
3. Mendukung Pembelajaran Berbasis Proyek dan Refleksi
Guru dapat memanfaatkan teknologi digital untuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) digital yang dapat diakses siswa melalui ponsel masing-masing. Siswa dapat menggunakan aplikasi seperti Canva, PowerPoint, atau Google Slide untuk presentasi digital.
Refleksi digital juga dipermudah dengan alat seperti Padlet, Jamboard, atau Flipgrid, yang mudah diakses siswa menggunakan ponsel mereka.
Bagi guru IPA, aplikasi simulasi dan laboratorium virtual dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pembelajaran.
Dalam proyek kokurikuler "Generasi Sehat dan Bugar" di SMP Cerdas Berkarakter, video pembelajaran tentang pengaruh kebiasaan tidur terhadap kesehatan dan pengumpulan data dari sumber digital digunakan untuk menumbuhkan kebiasaan tidur cepat dan bangun pagi.
4. Meningkatkan Motivasi dan Personalisasi Pembelajaran
Teknologi digital mampu meningkatkan motivasi siswa, memperluas akses ke sumber belajar, dan memungkinkan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Ini sangat relevan dalam menghadapi tantangan kebutuhan belajar siswa yang beragam.
Pembelajaran Mendalam yang memanfaatkan digital bertujuan untuk memuliakan manusia dengan menekankan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik.
5. Peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan
Deep Learning, sebagai cabang dari kecerdasan buatan, memiliki potensi besar dalam pendidikan, terutama di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ini dapat digunakan untuk menganalisis data siswa demi prediksi kinerja, identifikasi kebutuhan belajar, dan asesmen otomatis.
Model Deep Learning dapat memberikan rekomendasi otomatis tentang strategi pembelajaran yang optimal bagi setiap siswa, yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil belajar. Ini juga memungkinkan intervensi dini bagi siswa yang berisiko mengalami penurunan kinerja akademik atau putus sekolah.
Contoh kombinasi Deep Learning dalam AI dan pendidikan adalah proyek membuat kampanye sampah dengan melatih AI mengenali sampah, lalu siswa menganalisis masalah sampah di lingkungan dan membuat solusi.
6. Kesiapan dan Tantangan
Meskipun potensinya besar, implementasi teknologi digital di kelas masih menghadapi tantangan seperti kesenjangan akses teknologi, keterbatasan infrastruktur, dan kurangnya pelatihan bagi tenaga pendidik. Beberapa sekolah juga melarang penggunaan ponsel karena potensi penyalahgunaan, seperti siswa yang cenderung bertanya pada AI daripada berpikir sendiri.
Pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi guru untuk memahami konsep dan aplikasi Deep Learning, serta etika dan privasi data siswa.
Peran guru tetap krusial dalam mengintegrasikan hasil prediksi Deep Learning ke dalam pembelajaran sehari-hari, dengan mempertimbangkan faktor non-akademik seperti motivasi dan perilaku siswa.
Pemanfaatan teknologi digital dalam lingkungan kelas bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih responsif, adaptif, dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.