Pembelajaran Mendalam: Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu
Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu adalah kegiatan kokurikuler yang mengintegrasikan dua atau lebih mata pelajaran/muatan pembelajaran dalam satu tema yang relevan dengan kehidupan nyata murid. Tujuannya adalah membantu murid melihat keterkaitan antarilmu sebagai upaya mengembangkan delapan dimensi profil lulusan serta memperdalam pemahaman melalui pengalaman kontekstual.
Berikut adalah beberapa contoh mata pelajaran yang dapat digabungkan dalam Kokurikuler melalui Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu di berbagai jenjang pendidikan:
1. IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Seni, dan Matematika.
◦ Contohnya, proyek "Peduli Lingkungan" dapat melibatkan observasi dan aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan sekolah dan sekitarnya. Proyek ini dapat menggabungkan IPA (mengamati kondisi lingkungan, mengidentifikasi jenis sampah, memahami pengaruh lingkungan terhadap kesehatan), Matematika (mengumpulkan dan menyusun data dalam bentuk tabel atau grafik), Bahasa Indonesia (mengolah hasil pengamatan menjadi laporan dan menulis pesan kampanye kebersihan), serta Seni dan Budaya (mendesain poster, brosur, atau media visual kampanye). Proyek "Peduli Lingkungan" untuk SMP kelas VII juga menggabungkan IPA dan Bahasa Indonesia dengan fokus dimensi penalaran kritis dan komunikasi.
2. IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Seni dan Budaya.
◦ Sebagai contoh, tema "Lingkunganku Sehat, Aku Kuat" dapat mengintegrasikan mata pelajaran ini. Murid mengamati lingkungan, mengidentifikasi masalah kebersihan dan kesehatan (IPAS), mengolah data dalam tabel/grafik (Matematika), menyusun laporan dan pesan kampanye (Bahasa Indonesia), serta mendesain poster atau media visual (Seni dan Budaya).
3. Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, PJOK, IPA/IPS Terintegrasi.
◦ Ini adalah mata pelajaran yang memuat JP kokurikuler untuk Kelas X SMA.
◦ Untuk Kelas XI & XII SMA, mata pelajaran yang memuat JP kokurikuler adalah Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, dan PJOK.
4. Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Informatika, Seni dan Budaya.
◦ Contoh untuk jenjang SMP dengan tema "Peduli Lingkungan" yang bertujuan agar murid mampu mengidentifikasi isu lingkungan dan menyampaikan solusi melalui vlog kreatif. Aktivitasnya meliputi penelusuran isu lingkungan lokal, penulisan naskah, pembuatan vlog, dan presentasi publik.
5. Sosiologi, Informatika, Bahasa Indonesia.
◦ Contoh untuk jenjang SMA dengan tema "Generasi Bijak Digital" yang bertujuan agar murid mampu menganalisis dampak media sosial dan membuat kampanye literasi digital yang etis. Aktivitasnya meliputi studi kasus, debat, penyusunan strategi kampanye, dan penyebaran konten melalui media sosial.
6. Produk Kreatif dan Kewirausahaan, Bahasa, Seni Budaya, Informatika.
◦ Contoh untuk jenjang SMK dengan tema "Wirausaha Lokal Berbasis Budaya" yang bertujuan agar murid mampu mengeksplorasi potensi lokal dan merancang produk usaha kecil berbasis budaya daerah. Aktivitasnya meliputi riset pasar lokal, wawancara pelaku usaha, perancangan produk, simulasi promosi dan penjualan.
7. Matematika dan IPA.
◦ Contohnya proyek "Kesehatan organ tubuh" untuk kelas VII SMP atau "Perubahan Iklim" untuk kelas IX SMP.
8. Prakarya dan Seni Budaya.
◦ Contoh untuk kelas VIII SMP dengan tema "Kewirausahaan".
9. Informatika dan Bahasa Inggris.
◦ Contoh untuk kelas VIII SMP dengan tema "Teknologi".
10. IPS dan Bahasa Indonesia.
◦ Contoh untuk kelas VIII SMP dengan tema "Keberagaman".
11. IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris.
◦ Contoh untuk kelas IX SMP dengan tema "Aku di masa depan".
Secara umum, kegiatan kokurikuler lintas disiplin ilmu dirancang untuk memperkuat delapan dimensi profil lulusan dan dapat dilaksanakan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK, dengan tema yang disesuaikan usia dan kebutuhan perkembangan siswa. Bahkan di PAUD, lintas disiplin ilmu dapat dipahami sebagai lintas aspek perkembangan pada elemen Capaian Pembelajaran PAUD yang bersifat holistik.
Untuk langkah selanjutnya, kita bisa mendiskusikan bagaimana cara mengidentifikasi tema yang paling relevan untuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu di jenjang pendidikan tertentu, berdasarkan analisis kebutuhan dan potensi satuan pendidikan.