Jump to content

J.611000.013.02: Modul praktik

From Wiki

BAGIAN 1 — ANALISIS CP

1.1 Identifikasi Elemen CP

CP ini merupakan satu elemen tunggal yang berfokus pada kompetensi konfigurasi routing dalam lingkup satu Autonomous System (AS). Kata kunci analitis:

  • Kata Kerja Operasional Anchor: Mengkonfigurasi → Level Bloom C3 (Menerapkan), namun konteks "routing dalam satu AS" mengandung kompleksitas yang menuntut kemampuan analisis (C4) hingga evaluasi (C5) ketika siswa harus memilih protokol routing yang tepat, menganalisis tabel routing, dan mengevaluasi konvergensi jaringan.
  • Objek Pengetahuan: Routing pada perangkat jaringan — mencakup static routing, dynamic routing (RIP, OSPF, EIGRP dalam single AS), routing table, administrative distance, metric, konvergensi.
  • Konteks Penerapan: Dalam satu Autonomous System — membatasi scope pada interior gateway protocols (IGP), bukan BGP/exterior routing.

1.2 Pemetaan Hirarki Kompetensi

No Kompetensi Spesifik Level Bloom Tipe Pengetahuan Prasyarat
1 Mengidentifikasi konsep routing, jenis-jenis routing, dan komponen routing table C1 – Mengingat Faktual & Konseptual Pemahaman dasar IP addressing & subnetting
2 Menjelaskan mekanisme kerja static routing dan dynamic routing (RIP, OSPF, EIGRP) dalam satu AS C2 – Memahami Konseptual Kompetensi No. 1
3 Mengkonfigurasi static routing dan default routing pada perangkat router C3 – Menerapkan Prosedural Kompetensi No. 2; kemampuan dasar CLI router
4 Mengkonfigurasi dynamic routing protocol (RIPv2, OSPF single-area, EIGRP) pada topologi multi-router C3 – Menerapkan Prosedural Kompetensi No. 3
5 Menganalisis routing table, administrative distance, dan metric untuk menentukan jalur terbaik C4 – Menganalisis Prosedural & Metakognitif Kompetensi No. 3–4
6 Mengevaluasi konvergensi jaringan dan efektivitas protokol routing yang diterapkan C5 – Mengevaluasi Metakognitif Kompetensi No. 4–5
7 Merancang skema routing optimal untuk topologi jaringan multi-segmen dalam satu AS C6 – Mencipta Metakognitif & Prosedural Kompetensi No. 5–6

1.3 Dimensi Profil Lulusan yang Relevan

  • Penalaran Kritis — menganalisis routing table, membandingkan protokol, troubleshooting jalur routing
  • Kemandirian — konfigurasi router secara mandiri sesuai SOP
  • Kolaborasi — bekerja dalam tim saat membangun topologi multi-router
  • Komunikasi — mendokumentasikan konfigurasi dan mempresentasikan hasil

1.4 Diagnosis TP yang Diajukan

No TP Draft Kang Diagnosis Kelemahan
1 Menyiapkan Perangkat Jaringan C3 generik, tidak spesifik routing Tidak ABCD, objek terlalu luas ("perangkat jaringan" — perangkat apa?), tidak measurable
2 Mengkonfigurasi Router pada Perangkat Jaringan C3, redundan dengan CP Bukan TP melainkan parafrase CP, tidak ada Condition & Degree, tidak menyebut jenis routing
3 Menguji Routing pada Perangkat Jaringan C3 (menguji = applying), parsial baik Tidak ABCD, tidak menyebut kriteria keberhasilan (Degree), "perangkat jaringan" terlalu generik
4 Mendokumentasikan Konfigurasi Routing C3 (mendokumentasikan), rendah Tidak ABCD, tidak ada standar dokumentasi, seluruh TP hanya C3 — tidak ada MOTS/HOTS

Kesimpulan Diagnosis: Keempat TP draft semuanya berada di level C3 (LOTS) tanpa variasi kognitif. Tidak satupun memenuhi format ABCD. Rumusan masih bersifat task-label (judul kegiatan), bukan tujuan pembelajaran terukur. Diperlukan reformulasi total, bukan revisi inkremental.

BAGIAN 2 — PERUMUSAN TP SMART-ABCD

Berikut TP hasil reformulasi dengan distribusi Bloom yang seimbang:

Kode TP Rumusan TP (ABCD) KKO Level Bloom Estimasi JP Elemen CP
TP-1.1 A: Peserta didik B: mengidentifikasi konsep routing, jenis routing (static & dynamic), komponen routing table (destination network, next-hop, metric, AD), serta fungsi protokol IGP (RIP, OSPF, EIGRP) C: menggunakan tabel perbandingan dan diagram topologi referensi D: dengan ketepatan minimal 80% pada tes diagnostik Mengidentifikasi C1 4 JP Routing dalam satu AS
TP-1.2 A: Peserta didik B: menjelaskan mekanisme kerja static routing, default routing, dan proses routing decision (longest prefix match, AD comparison, metric evaluation) C: melalui analisis studi kasus topologi jaringan 3-segmen D: secara terstruktur dalam format laporan analisis minimal 500 kata Menjelaskan C2 4 JP Routing dalam satu AS
TP-2.1 A: Peserta didik B: mengkonfigurasi static routing dan default routing pada topologi 3-router multi-segmen C: menggunakan Cisco Packet Tracer dan/atau MikroTik RouterOS (Winbox/CLI) D: hingga seluruh segmen jaringan saling terhubung penuh (full connectivity) dibuktikan dengan ping dan traceroute 100% sukses, dalam waktu maksimal 45 menit Mengkonfigurasi C3 8 JP Routing dalam satu AS
TP-2.2 A: Peserta didik B: mengkonfigurasi dynamic routing protocol RIPv2 pada topologi minimal 4-router dengan benar C: menggunakan Cisco Packet Tracer D: hingga semua network ter-advertise dalam routing table dan konvergensi tercapai dalam waktu kurang dari 2 menit, dibuktikan dengan output show ip route dan show ip rip database Mengkonfigurasi C3 6 JP Routing dalam satu AS
TP-2.3 A: Peserta didik B: mengkonfigurasi OSPF single-area (Area 0) pada topologi minimal 4-router multi-segmen C: menggunakan Cisco Packet Tracer dan/atau MikroTik CHR D: hingga adjacency terbentuk (state FULL), seluruh network muncul di routing table, dan konvergensi tercapai, dibuktikan dengan output show ip ospf neighbor, show ip route ospf, dan ping antar-segmen 100% sukses Mengkonfigurasi C3 8 JP Routing dalam satu AS
TP-3.1 A: Peserta didik B: menganalisis routing table untuk menentukan jalur terbaik berdasarkan administrative distance, metric, dan longest prefix match pada topologi yang menjalankan lebih dari satu protokol routing secara simultan C: menggunakan output CLI (show ip route, show ip protocols) dari simulasi Packet Tracer D: dengan ketepatan analisis minimal 85% dalam mengidentifikasi preferred route dan backup route Menganalisis C4 6 JP Routing dalam satu AS
TP-3.2 A: Peserta didik B: men-troubleshoot permasalahan routing (route not in table, suboptimal path, routing loop) pada topologi yang sudah dikonfigurasi C: menggunakan tools diagnostik (ping, traceroute, show ip route, debug ip routing) dalam skenario tiket gangguan D: hingga permasalahan teridentifikasi dan terselesaikan dengan benar disertai laporan troubleshooting terstruktur (problem – cause – action – result) maksimal 30 menit per tiket Men-troubleshoot C4 6 JP Routing dalam satu AS
TP-4.1 A: Peserta didik B: mengevaluasi efektivitas dan efisiensi implementasi protokol routing (static vs RIP vs OSPF) pada topologi yang sama C: berdasarkan parameter: waktu konvergensi, jumlah hop, bandwidth utilization, dan skalabilitas D: dengan menyusun laporan komparatif berisi tabel perbandingan, analisis SWOT tiap protokol, dan rekomendasi pemilihan protokol yang dijustifikasi, minimal 3 halaman Mengevaluasi C5 6 JP Routing dalam satu AS
TP-5.1 A: Peserta didik B: merancang skema routing optimal untuk topologi jaringan perusahaan multi-cabang (minimal 3 cabang, 6 router) dalam satu AS C: dengan mempertimbangkan redundansi jalur, efisiensi konvergensi, dan skalabilitas D: menghasilkan dokumen desain jaringan lengkap berisi: topologi fisik & logis (draw.io/Packet Tracer), tabel pengalamatan IP, konfigurasi routing tiap router, dan justifikasi pemilihan protokol — dipresentasikan di depan kelas dan dinilai peer review Merancang C6 8 JP Routing dalam satu AS
TP-5.2 A: Peserta didik B: mendokumentasikan seluruh konfigurasi routing yang telah diimplementasikan C: mengikuti standar dokumentasi jaringan industri (Network Documentation Best Practice) D: dalam format laporan teknis .docx berisi: topologi jaringan, tabel IP addressing, konfigurasi tiap perangkat, hasil pengujian, dan catatan perubahan (changelog), sesuai template yang disediakan Mendokumentasikan C3 4 JP Routing dalam satu AS

Distribusi Bloom

Kategori Level Jumlah TP Persentase JP
LOTS C1 (Mengidentifikasi) 1 TP 10% 4 JP
LOTS C2 (Menjelaskan) 1 TP 10% 4 JP
LOTS C3 (Mengkonfigurasi, Mendokumentasikan) 4 TP 40% 26 JP
MOTS C4 (Menganalisis, Men-troubleshoot) 2 TP 20% 12 JP
HOTS C5 (Mengevaluasi) 1 TP 10% 6 JP
HOTS C6 (Merancang) 1 TP 10% 8 JP
10 TP 100% 60 JP

Catatan: Distribusi LOTS 60% – MOTS 20% – HOTS 20%. CP anchor verb "mengkonfigurasi" berada di C3, sehingga porsi C3 dominan sebagai core competency. Namun MOTS+HOTS tetap mencapai 40% untuk memastikan siswa tidak hanya bisa menjalankan prosedur tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan merancang solusi routing.

Total alokasi: 60 JP ÷ 8 JP/minggu = 7,5 minggu (±8 minggu).

BAGIAN 3 — PENYUSUNAN ATP LINEAR

Pengelompokan Unit

Unit Nama Unit Kode TP JP
Unit 1 Konsep Dasar Routing & Static Routing TP-1.1, TP-1.2, TP-2.1 16 JP
Unit 2 Dynamic Routing — RIPv2 & OSPF TP-2.2, TP-2.3 14 JP
Unit 3 Analisis & Troubleshooting Routing TP-3.1, TP-3.2 12 JP
Unit 4 Evaluasi, Desain & Dokumentasi Routing Enterprise TP-4.1, TP-5.1, TP-5.2 18 JP
Total 60 JP

Tabel ATP

Semester Unit Kode TP Rumusan Singkat JP Asesmen Tagihan Produk
1 Unit 1 TP-1.1 Mengidentifikasi konsep routing, jenis routing, komponen routing table, fungsi IGP 4 Diagnostik + Formatif (kuis) Tabel perbandingan protokol routing + mind map konsep routing
1 Unit 1 TP-1.2 Menjelaskan mekanisme static routing, default routing, dan routing decision process 4 Formatif (laporan analisis studi kasus) Laporan analisis studi kasus routing decision (.docx)
1 Unit 1 TP-2.1 Mengkonfigurasi static & default routing pada topologi 3-router 8 Sumatif praktik (rubrik kinerja + produk) File .pkt topologi + screenshot ping/traceroute + laporan konfigurasi
1 Unit 2 TP-2.2 Mengkonfigurasi RIPv2 pada topologi 4-router 6 Sumatif praktik (checklist + rubrik produk) File .pkt RIPv2 + screenshot show ip route & show ip rip database
1 Unit 2 TP-2.3 Mengkonfigurasi OSPF single-area pada topologi 4-router multi-segmen 8 Sumatif praktik (checklist + rubrik produk) File .pkt OSPF + screenshot adjacency & routing table + file .rsc (MikroTik)
1 Unit 3 TP-3.1 Menganalisis routing table: AD, metric, longest prefix match pada multi-protocol 6 Formatif + Sumatif (analisis tertulis) Lembar analisis routing table + diagram jalur terbaik (annotated)
1 Unit 3 TP-3.2 Men-troubleshoot permasalahan routing berdasarkan skenario tiket gangguan 6 Sumatif praktik (rubrik proses + produk) Laporan troubleshooting (PCAR format) + screenshot before-after + file .pkt fixed
1 Unit 4 TP-4.1 Mengevaluasi efektivitas static vs RIP vs OSPF pada topologi identik 6 Sumatif (laporan komparatif) Laporan evaluasi komparatif 3 protokol + tabel SWOT + rekomendasi (.docx)
1 Unit 4 TP-5.1 Merancang skema routing enterprise multi-cabang (6 router, 1 AS) 8 Sumatif proyek (rubrik desain + presentasi + peer review) Dokumen desain jaringan lengkap (.docx + .pkt + .drawio) + presentasi
1 Unit 4 TP-5.2 Mendokumentasikan seluruh konfigurasi routing standar industri 4 Sumatif produk (rubrik dokumentasi) Dokumen teknis konfigurasi routing (.docx) sesuai template standar

Narasi Justifikasi Urutan

Urutan ATP ini mengikuti production flow industri jaringan yang dimulai dari tahap perencanaan hingga dokumentasi akhir — merefleksikan siklus kerja nyata seorang Network Engineer.

Unit 1 (Konsep & Static Routing) ditempatkan di awal karena static routing merupakan fondasi pemahaman routing. Seorang teknisi jaringan junior pertama-tama harus memahami bagaimana paket data berpindah antar-network melalui routing table sebelum dapat bekerja dengan protokol otomatis. Dalam industri, static routing masih digunakan untuk stub network, default gateway, dan jalur backup. Memulai dari sini membangun mental model yang kuat tentang next-hop, destination network, dan routing decision — konsep yang menjadi prasyarat mutlak untuk memahami dynamic routing.

Unit 2 (Dynamic Routing — RIPv2 & OSPF) merupakan kelanjutan alami. Setelah siswa mampu mengkonfigurasi jalur routing secara manual, mereka merasakan keterbatasannya pada topologi besar — ini menjadi motivasi kontekstual untuk mempelajari dynamic routing. RIPv2 diperkenalkan lebih dulu karena algoritmanya lebih sederhana (distance-vector, hop count), sehingga menjadi jembatan konseptual menuju OSPF yang lebih kompleks (link-state, cost-based, area concept). Urutan ini mengikuti pola industri: teknisi junior belajar RIP untuk memahami prinsip, lalu beralih ke OSPF yang merupakan standar de facto jaringan enterprise.

Unit 3 (Analisis & Troubleshooting) ditempatkan setelah siswa memiliki pengalaman hands-on dengan multiple routing protocol. Di industri, seorang NOC Technician atau Network Engineer menghabiskan sebagian besar waktunya bukan untuk konfigurasi baru, melainkan untuk menganalisis routing table yang sudah berjalan dan men-troubleshoot ketika terjadi gangguan. Unit ini melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (C4) yang hanya bisa dikembangkan setelah siswa punya pengalaman konfigurasi di Unit 1–2.

Unit 4 (Evaluasi, Desain & Dokumentasi) merupakan puncak kompetensi. Dalam dunia kerja, seorang Senior Network Engineer tidak hanya mengkonfigurasi tetapi juga mengevaluasi teknologi mana yang paling tepat, merancang arsitektur routing untuk kebutuhan bisnis, dan mendokumentasikan seluruh implementasi. Unit ini mengintegrasikan seluruh kompetensi sebelumnya dalam sebuah proyek akhir yang menyerupai deliverable nyata: dokumen desain jaringan enterprise. Dokumentasi ditempatkan terakhir karena siswa baru bisa mendokumentasikan dengan baik setelah memahami secara mendalam apa yang mereka dokumentasikan.

Lanjut ke Bagian 4 — Desain Modul Ajar Terintegrasi. Saya pilih Unit 2 (Dynamic Routing — RIPv2 & OSPF) sebagai unit yang dikembangkan menjadi modul ajar lengkap karena merupakan core competency CP ini.

BAGIAN 4 — DESAIN MODUL AJAR TERINTEGRASI

Unit yang dikembangkan: Unit 2 — Dynamic Routing: RIPv2 & OSPF Single-Area

4.1 Identitas Modul

Komponen Isian
Nama Penyusun Guru Pengampu AIJ, SMK Satya Bhakti Ilmu
Satuan Pendidikan SMK Satya Bhakti Ilmu (SMK SBI), Grobogan, Jawa Tengah
Fase / Kelas Fase F / Kelas XI
Mata Pelajaran Administrasi Infrastruktur Jaringan (AIJ)
Elemen CP Mengkonfigurasi Routing pada Perangkat Jaringan dalam Satu Autonomous System
Unit Pembelajaran Unit 2 — Dynamic Routing: RIPv2 & OSPF Single-Area
Kode TP TP-2.2, TP-2.3
Alokasi Waktu 14 JP (8 JP/minggu → ±2 minggu)
Target Peserta Didik Peserta didik reguler, telah menuntaskan Unit 1 (Static Routing)
Model Pembelajaran Teaching Factory (TEFA) + Project-Based Learning (PjBL)
Moda Pembelajaran Tatap muka (lab komputer jaringan)

4.2 Komponen Inti

Tujuan Pembelajaran:

  • TP-2.2: Peserta didik mengkonfigurasi dynamic routing protocol RIPv2 pada topologi minimal 4-router dengan benar, menggunakan Cisco Packet Tracer, hingga semua network ter-advertise dalam routing table dan konvergensi tercapai dalam waktu kurang dari 2 menit.
  • TP-2.3: Peserta didik mengkonfigurasi OSPF single-area (Area 0) pada topologi minimal 4-router multi-segmen, menggunakan Cisco Packet Tracer dan/atau MikroTik CHR, hingga adjacency terbentuk (state FULL), seluruh network muncul di routing table, dan konvergensi tercapai.

Pemahaman Bermakna: Dalam jaringan perusahaan dengan puluhan hingga ratusan segmen, menambahkan routing secara manual (static) menjadi tidak praktis dan rawan kesalahan. Dynamic routing protocol memungkinkan router saling berbagi informasi jalur secara otomatis — layaknya sistem navigasi GPS yang secara real-time menghitung rute terbaik saat ada jalur baru atau jalur yang putus. Kemampuan ini adalah kompetensi wajib bagi setiap Network Engineer profesional.

Pertanyaan Pemantik:

  1. "Bayangkan perusahaan Anda memiliki 50 cabang di seluruh Indonesia. Berapa banyak entry static route yang harus Anda ketik satu per satu di setiap router? Apa yang terjadi jika satu link putus?"
  2. "Mengapa Waze bisa menemukan jalur alternatif saat terjadi kemacetan, padahal Anda tidak pernah memberitahu Waze semua jalan di kota? Protokol routing bekerja dengan prinsip serupa — bagaimana caranya?"
  3. "PT Nusantara Network memiliki 4 cabang. Tim A menggunakan RIP, Tim B menggunakan OSPF. Cabang mana yang lebih cepat pulih saat terjadi link failure? Bagaimana Anda membuktikannya?"

4.3 Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 1–2 (8 JP): Konfigurasi RIPv2

MINDFUL (Pembuka — 15 menit)

  • Guru menampilkan video singkat (2 menit) tentang NOC room perusahaan ISP yang menunjukkan dashboard routing protocol.
  • Ice breaking: "Routing Relay" — siswa berdiri membentuk 4 kelompok mewakili 4 router, saling menyebutkan "network yang saya punya" secara berantai, mensimulasikan proses advertisement RIP.
  • Guru mengaktifkan prior knowledge: "Di Unit 1, kalian sudah konfigurasi static route. Berapa lama waktu yang kalian habiskan? Bagaimana jika routernya 20?"
  • Penyampaian tujuan pembelajaran TP-2.2 dan kontrak waktu.

MEANINGFUL (Inti — 300 menit / selama 2 pertemuan)

Fase 1 — Orientasi Masalah (30 menit)

  • Guru menyajikan skenario TEFA: "Kalian adalah tim Network Engineer di PT Cipta Jaringan Nusantara. Perusahaan baru membuka 3 cabang baru. Direktur IT meminta kalian mengkonfigurasi routing agar semua cabang saling terhubung. Deadline: akhir shift hari ini. Static route tidak diperbolehkan karena tidak scalable."
  • Siswa menerima Work Order berisi: topologi 4-router, tabel IP addressing, dan requirement (semua network harus reachable, konvergensi < 2 menit).

Fase 2 — Eksplorasi & Demonstrasi (60 menit)

  • Guru mendemonstrasikan konfigurasi RIPv2 pada 2 router di Packet Tracer dengan metode think-aloud (menjelaskan setiap command dan alasannya).
  • Siswa mengamati dan mencatat di LKPD: command apa saja, urutan konfigurasi, dan verifikasi yang dilakukan guru.
  • Guru sengaja membuat 1 kesalahan (lupa no auto-summary) dan meminta siswa mengidentifikasi dampaknya.

Fase 3 — Praktik Mandiri (150 menit)

  • Siswa bekerja berpasangan (1 PC, 2 siswa bergantian menjadi "lead engineer" dan "observer/documenter").
  • Tugas: konfigurasi RIPv2 pada topologi 4-router sesuai Work Order.
  • Guru berkeliling melakukan scaffolding: memberikan petunjuk bertahap (bukan jawaban langsung) kepada siswa yang kesulitan.
  • Checkpoint tiap 30 menit: guru memverifikasi progress tiap kelompok.

Fase 4 — Pengujian & Verifikasi (40 menit)

  • Siswa menjalankan perintah verifikasi: show ip route, show ip rip database, show ip protocols, ping, traceroute.
  • Siswa mengisi lembar hasil pengamatan di LKPD.
  • Siswa yang sudah selesai menjadi "senior engineer" yang membantu kelompok lain (peer tutoring).

Fase 5 — Dokumentasi (20 menit)

  • Siswa meng-export file .pkt, mengambil screenshot hasil verifikasi, dan menyimpan ke folder kerja.

JOYFUL (Penutup — 30 menit selama 2 pertemuan)

  • "Routing Battle": 2 kelompok tercepat membandingkan routing table mereka di layar — guru memandu diskusi perbedaan.
  • Refleksi terstruktur: siswa mengisi 3 pertanyaan di LKPD (apa yang saya pelajari / apa yang masih bingung / apa yang ingin saya coba selanjutnya).
  • Preview pertemuan berikutnya: "RIP memiliki keterbatasan. Pertemuan selanjutnya kita akan belajar OSPF — protokol yang digunakan oleh 80% jaringan enterprise dunia."

Pertemuan 3–4 (6 JP): Konfigurasi OSPF Single-Area

MINDFUL (Pembuka — 15 menit)

  • Guru menampilkan perbandingan visual: topologi dengan RIP (banyak hop, lambat konvergensi) vs OSPF (cost-based, cepat konvergensi).
  • Quick quiz (3 menit): "Apa kelemahan RIP yang kalian temukan di pertemuan sebelumnya?" — siswa menjawab via acungan tangan.
  • Penyampaian tujuan pembelajaran TP-2.3.

MEANINGFUL (Inti — 225 menit selama 2 pertemuan)

Fase 1 — Analisis Kelemahan RIP & Kebutuhan OSPF (30 menit)

  • Siswa diminta menjalankan kembali topologi RIP dari pertemuan sebelumnya, lalu guru memutus 1 link. Siswa mengukur berapa lama RIP melakukan konvergensi ulang (biasanya 30–180 detik, hold-down timer).
  • Guru bertanya: "Jika ini jaringan bank yang memproses transaksi, apakah downtime selama itu bisa diterima?"
  • Transisi ke OSPF: guru menjelaskan konsep link-state, hello packet, LSA, SPF algorithm secara ringkas (15 menit, menggunakan analogi peta kota).

Fase 2 — Demonstrasi & Praktik OSPF (135 menit)

  • Guru mendemonstrasikan OSPF pada 2 router (process-id, network statement, area 0, router-id).
  • Siswa mengerjakan konfigurasi OSPF pada topologi 4-router (topologi sama dengan RIP, IP addressing sama — supaya bisa membandingkan).
  • Variasi: 2 kelompok mengerjakan di Packet Tracer, 2 kelompok lain di MikroTik CHR/Winbox (jika resource memungkinkan).
  • Catatan infrastruktur SMK SBI: Jika menggunakan MikroTik CHR yang terkoneksi ke jaringan sekolah, pastikan siswa memahami bahwa internet pada router produksi SMK SBI masuk via wlan1 (wireless station mode), BUKAN ether1. Skenario lab harus menggunakan jaringan terisolasi agar tidak mengganggu jaringan produksi.

Fase 3 — Verifikasi & Perbandingan (40 menit)

  • Verifikasi OSPF: show ip ospf neighbor (state FULL?), show ip route ospf, show ip ospf interface, ping, traceroute.
  • Siswa memutus 1 link dan mengukur waktu konvergensi OSPF — bandingkan dengan catatan waktu konvergensi RIP.
  • Siswa mengisi tabel perbandingan di LKPD.

Fase 4 — Dokumentasi (20 menit)

  • Export .pkt, screenshot, laporan perbandingan RIP vs OSPF.

JOYFUL (Penutup — 20 menit)

  • "Protocol Showdown": siswa mempresentasikan hasil perbandingan RIP vs OSPF (2 kelompok dipilih acak, masing-masing 3 menit).
  • Refleksi: "Jika Anda menjadi Network Engineer, protokol mana yang Anda rekomendasikan untuk perusahaan dengan 20 cabang? Mengapa?"
  • Penugasan mandiri: siswa membuat video screen-recording (3–5 menit) proses konfigurasi OSPF sebagai portofolio digital.

4.4 LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)

LKPD Unit 2 — Dynamic Routing: RIPv2 & OSPF

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Kerjakan secara berpasangan (lead engineer + observer/documenter, bergantian setiap 30 menit).
  2. Baca seluruh instruksi sebelum memulai praktik.
  3. Isi setiap bagian secara lengkap. Screenshot wajib dilampirkan.
  4. Waktu pengerjaan: 2 × pertemuan (total 14 JP termasuk pembuka & penutup).

Skenario: PT Cipta Jaringan Nusantara (CJN) adalah perusahaan logistik dengan kantor pusat di Semarang dan 3 cabang di Grobogan, Solo, dan Yogyakarta. Setiap lokasi memiliki 1 router dan 1 LAN segment. Anda ditugaskan sebagai Network Engineer untuk mengkonfigurasi routing agar seluruh cabang saling terhubung.

Topologi:

[LAN Semarang] --- [R1-Semarang] ------- [R2-Grobogan] --- [LAN Grobogan]
192.168.10.0/24         |                       |          192.168.20.0/24
                        |    10.10.12.0/30      |
                   10.10.13.0/30          10.10.23.0/30
                        |                       |
                  [R3-Solo] -------- [R4-Yogya]
                     |    10.10.34.0/30    |
              192.168.30.0/24        192.168.40.0/24
               [LAN Solo]           [LAN Yogya]

Tugas A — Konfigurasi RIPv2 (Pertemuan 1–2):

  1. Bangun topologi di Cisco Packet Tracer sesuai diagram di atas.
  2. Konfigurasi IP addressing pada semua interface sesuai tabel berikut: (tabel IP addressing disertakan).
  3. Aktifkan RIPv2 pada keempat router, advertise semua network yang terhubung langsung.
  4. Pastikan no auto-summary dikonfigurasi.
  5. Verifikasi dengan command: show ip route, show ip rip database, show ip protocols.
  6. Lakukan ping dan traceroute dari LAN Semarang ke LAN Yogya — screenshot hasilnya.
  7. Putuskan link R1–R2. Amati berapa lama konvergensi terjadi. Catat waktunya.

Tugas B — Konfigurasi OSPF Single-Area (Pertemuan 3–4):

  1. Duplikasi topologi (Save As), hapus seluruh konfigurasi RIP.
  2. Konfigurasi OSPF process-id 1, Area 0, pada keempat router.
  3. Verifikasi: show ip ospf neighbor, show ip route ospf, show ip ospf interface.
  4. Putuskan link yang sama (R1–R2). Amati waktu konvergensi OSPF. Catat dan bandingkan dengan RIP.

Tugas C — Tabel Perbandingan:

Parameter RIPv2 OSPF
Tipe algoritma
Metric yang digunakan
Waktu konvergensi (hasil pengamatan) _____ detik _____ detik
Jumlah entry routing table
Hop count maksimum
Skalabilitas (menurut Anda)
Cocok untuk jaringan skala...

Refleksi Siswa:

  1. Apa yang paling menantang dari konfigurasi dynamic routing hari ini?
  2. Jika Anda diminta memilih antara RIP dan OSPF untuk jaringan 50 cabang, mana yang Anda pilih dan mengapa?
  3. Apa yang akan Anda pelajari lebih lanjut secara mandiri setelah praktik ini?

4.5 Jobsheet Praktikum

JOBSHEET UNIT 2A — Konfigurasi RIPv2 pada Topologi Multi-Router

Komponen Detail
Judul Konfigurasi RIPv2 pada Topologi 4-Router PT Cipta Jaringan Nusantara
Kode JS-AIJ-U2A
Tujuan Peserta didik mampu mengkonfigurasi RIPv2 pada topologi 4-router multi-segmen hingga tercapai full connectivity dan konvergensi < 2 menit
Alokasi Waktu 6 JP (270 menit) aktif praktik
Prasyarat Tuntas Unit 1 (Static Routing), mampu mengoperasikan Cisco Packet Tracer

Alat & Bahan:

  • PC/Laptop dengan Cisco Packet Tracer 8.x terinstal
  • Topologi referensi (file .pkt template tersedia di share folder)
  • LKPD Unit 2
  • Akses internet (untuk referensi jika diperlukan)

Keselamatan Kerja (K3LH):

  1. Pastikan kabel power PC tersambung dengan benar, tidak ada kabel terkelupas.
  2. Gunakan alas kaki saat di lab.
  3. Atur posisi duduk ergonomis: monitor sejajar mata, punggung tegak.
  4. Simpan makanan dan minuman di luar area lab.
  5. Backup file pekerjaan secara berkala (Save As dengan timestamp).
  6. PENTING: Jangan mengubah konfigurasi router produksi SMK SBI. Semua praktik dilakukan di lingkungan simulasi Packet Tracer. Router produksi sekolah (MikroTik RB4011iGS+5HacQ2HnD) menggunakan wlan1 sebagai interface WAN (wireless station mode), bukan ether1 — informasi ini penting agar siswa tidak salah konfigurasi jika kelak bekerja dengan perangkat produksi.

Langkah Kerja:

  1. Buka Cisco Packet Tracer, buat workspace baru.
  2. Drag & drop 4 unit Router 2911 ke workspace. Beri label: R1-Semarang, R2-Grobogan, R3-Solo, R4-Yogya.
  3. Hubungkan router sesuai topologi menggunakan kabel Serial DCE/DTE atau Copper Cross-Over (sesuai interface yang digunakan).
  4. Tambahkan 4 PC/Switch untuk masing-masing LAN segment.
  5. Konfigurasi IP address pada setiap interface router sesuai tabel IP addressing.
  6. Verifikasi konektivitas langsung antar-router yang saling terhubung fisik (ping neighbor).
  7. Masuk ke mode konfigurasi global pada R1: router ripversion 2network 192.168.10.0network 10.0.0.0no auto-summary.
  8. Ulangi langkah 7 untuk R2, R3, dan R4 dengan menyesuaikan network statement.
  9. Tunggu 30–60 detik hingga proses advertisement selesai.
  10. Verifikasi: show ip route — pastikan ada entry bertanda "R" (RIP) untuk remote network.
  11. Verifikasi: show ip rip database — pastikan semua network terdaftar.
  12. Lakukan ping dari PC di LAN Semarang ke PC di LAN Yogya. Screenshot hasilnya.
  13. Lakukan traceroute dari PC LAN Semarang ke PC LAN Yogya. Catat jumlah hop.
  14. Uji konvergensi: Putuskan link antara R1–R2 (shutdown interface). Catat waktu mulai.
  15. Lakukan ping berulang dari LAN Semarang ke LAN Grobogan. Catat kapan ping kembali sukses. Hitung selisih waktu = waktu konvergensi RIP.
  16. Aktifkan kembali link R1–R2 (no shutdown).
  17. Save file sebagai RIPv2_[NamaSiswa]_[Tanggal].pkt.

Lembar Hasil Pengamatan:

No Item Verifikasi Hasil (✓/✗) Screenshot Catatan
1 Semua interface router UP/UP
2 Routing table berisi entry RIP untuk semua remote network
3 Ping LAN Semarang → LAN Yogya sukses
4 Traceroute menunjukkan jalur yang benar
5 Konvergensi setelah link failure < 120 detik Waktu: ___ detik

(Jobsheet Unit 2B untuk OSPF mengikuti format serupa dengan penyesuaian pada command OSPF.)

4.6 Media Simulasi Digital

Skenario Simulasi: "Branch Office RIP-to-OSPF Migration"

Komponen Detail
Tools Cisco Packet Tracer 8.x
Skenario PT CJN awalnya menggunakan RIPv2. Setelah evaluasi, manajemen memutuskan migrasi ke OSPF karena alasan konvergensi dan skalabilitas. Siswa harus: (1) membangun topologi dengan RIP, (2) mendokumentasikan baseline performance, (3) melakukan migrasi bertahap ke OSPF tanpa downtime total, (4) memverifikasi hasil migrasi.
Kompleksitas Menengah — memerlukan pemahaman kedua protokol dan kemampuan melakukan transisi bertahap
Durasi 90 menit
Output File .pkt (before & after), laporan migrasi, tabel perbandingan performance

4.7 Instrumen Asesmen Otentik

A. Asesmen Diagnostik (Awal Unit 2)

Kognitif (5 pertanyaan):

  1. Apa perbedaan antara static routing dan dynamic routing? Sebutkan minimal 2 perbedaan.
  2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan "konvergensi" dalam konteks routing.
  3. Sebutkan 3 protokol dynamic routing yang Anda ketahui beserta tipe algoritmanya.
  4. Apa fungsi routing table pada sebuah router?
  5. Mengapa static routing tidak cocok untuk jaringan berskala besar?

Non-kognitif (3 pertanyaan):

  1. Seberapa percaya diri Anda untuk mengkonfigurasi router secara mandiri? (skala 1–5)
  2. Apakah Anda pernah mendengar/membaca tentang RIP atau OSPF sebelumnya? Dari mana?
  3. Apa harapan Anda setelah menyelesaikan unit pembelajaran ini?

B. Asesmen Formatif (Proses)

Lembar Observasi Sikap Kerja:

No Aspek Indikator 4 3 2 1
1 K3LH Mematuhi prosedur keselamatan lab
2 SOP Compliance Mengikuti langkah kerja secara berurutan
3 Kerjasama Berkontribusi aktif dalam tim (lead & observer bergantian)
4 Kedisiplinan Menyelesaikan tugas sesuai target waktu
5 Dokumentasi Mencatat setiap langkah dan hasil dengan rapi

Checklist Kinerja Konfigurasi:

No Tahapan Selesai (✓/✗) Catatan Guru
1 Topologi dibangun sesuai diagram
2 IP addressing benar pada semua interface
3 RIPv2/OSPF dikonfigurasi pada semua router
4 Verifikasi dilakukan (show commands)
5 Full connectivity tercapai (ping test)
6 File disimpan dengan format penamaan benar

C. Asesmen Sumatif (Akhir Unit 2)

Rubrik Penilaian Produk — Konfigurasi Dynamic Routing:

No Aspek Sangat Baik (4) Baik (3) Cukup (2) Perlu Bimbingan (1) Bobot
1 Ketepatan Konfigurasi Semua router terkonfigurasi benar, tanpa error, tanpa bantuan Semua router benar dengan 1× bantuan minor Konfigurasi benar pada ≥50% router, perlu beberapa bantuan Konfigurasi salah pada >50% router, butuh bimbingan intensif 25%
2 Full Connectivity Ping & traceroute 100% sukses ke seluruh segmen Ping sukses ke ≥75% segmen Ping sukses ke ≥50% segmen Ping sukses ke <50% segmen 20%
3 Waktu Penyelesaian Selesai < 30 menit Selesai 30–45 menit Selesai 45–60 menit Tidak selesai dalam 60 menit 10%
4 Verifikasi & Analisis Semua command verifikasi dijalankan, hasil dianalisis dengan benar Command verifikasi lengkap, analisis sebagian benar Sebagian command dijalankan, analisis minimal Verifikasi tidak dilakukan / salah 15%
5 Dokumentasi Laporan lengkap, screenshot jelas, format rapi, analisis mendalam Laporan lengkap, screenshot ada, format rapi Laporan tidak lengkap atau format kurang rapi Tidak ada laporan / sangat tidak lengkap 15%
6 Sikap Kerja K3LH, SOP, kerjasama, disiplin, dokumentasi — semua sangat baik 4 dari 5 aspek baik 3 dari 5 aspek baik ≤2 aspek baik 15%

Konversi Nilai:

Skor Predikat Keterangan
≥ 90 A Sangat Kompeten
80–89 B Kompeten
70–79 C Cukup Kompeten (KKM)
60–69 D Belum Kompeten
< 60 E Perlu Remedial Intensif

Bobot Dimensi Penilaian Akhir Unit:

Dimensi Bobot
Pengetahuan (tes tertulis pre-test + kuis formatif) 20%
Keterampilan (rubrik produk + checklist kinerja) 60%
Sikap Kerja (observasi + jurnal refleksi) 20%

Lanjut ke Bagian 5 — Transformasi CP/Elemen ke Aktivitas Praktik Dunia Kerja.

BAGIAN 5 — TRANSFORMASI CP/ELEMEN KE AKTIVITAS PRAKTIK DUNIA KERJA

Tabel Transformasi Terintegrasi — Unit 1: Konsep Dasar Routing & Static Routing

No Kode TP Pekerjaan Nyata di Industri Kemampuan (P/K/S) Langkah Kerja Simulasi di Kelas Output/Produk Penilaian
1 TP-1.1 Pre-Sales Engineer / Network Consultant melakukan site survey dan mengidentifikasi kebutuhan routing sebelum implementasi P: Konsep routing, jenis routing, komponen routing table, fungsi IGP (RIP, OSPF, EIGRP), AD, metric. K: Membaca & menginterpretasi routing table, memetakan kebutuhan routing berdasarkan topologi. S: Teliti, analitis, komunikatif dalam menyajikan temuan. 1. Terima brief proyek dari client. 2. Pelajari topologi existing. 3. Identifikasi segmen jaringan. 4. Tentukan kebutuhan routing (static/dynamic, protokol apa). 5. Susun tabel perbandingan protokol. 6. Presentasikan rekomendasi. Setting: Ruang konsultasi IT. Peran: Siswa = Pre-Sales Engineer. Skenario: Client (guru) menunjukkan topologi perusahaan 4 cabang dan bertanya "routing apa yang cocok untuk kami?" Siswa harus menganalisis dan mempresentasikan rekomendasi. Waktu: 45 menit. Tabel perbandingan protokol routing (.docx) + mind map konsep routing (draw.io/manual) + slide presentasi rekomendasi P (20%): Kuis identifikasi konsep routing. K (60%): Rubrik tabel & mind map (kelengkapan, ketepatan). S (20%): Observasi kemampuan presentasi & komunikasi.
2 TP-1.2 Network Planner menganalisis mekanisme routing untuk merencanakan desain jaringan baru P: Mekanisme static routing, default routing, longest prefix match, AD comparison, metric evaluation. K: Menganalisis studi kasus routing decision, menelusuri path paket pada topologi. S: Berpikir kritis, detail-oriented, mampu menyusun argumen logis. 1. Terima topologi 3-segmen beserta konfigurasi routing. 2. Trace jalur paket dari sumber ke tujuan. 3. Identifikasi routing decision di setiap hop. 4. Analisis mengapa jalur tertentu dipilih (AD, metric, longest match). 5. Tulis laporan analisis. Setting: Meja kerja Network Planner. Peran: Siswa = Network Planner. Skenario: Manajer memberikan topologi yang sudah berjalan dan bertanya: "Jika saya kirim paket dari 192.168.10.5 ke 172.16.30.10, jalur mana yang ditempuh dan mengapa?" Siswa harus menelusuri path dan menjelaskan routing decision. Waktu: 45 menit. Laporan analisis routing decision (.docx) dengan diagram jalur paket beranotasi P (20%): Tes pemahaman mekanisme routing. K (60%): Rubrik laporan (ketepatan analisis, kejelasan diagram). S (20%): Observasi ketelitian & kemampuan argumentasi.
3 TP-2.1 Network Technician / IT Support mengkonfigurasi static routing pada router untuk menghubungkan segmen jaringan P: Sintaks konfigurasi static route & default route, konsep next-hop & exit-interface. K: Mengkonfigurasi static route pada Cisco IOS / MikroTik RouterOS, verifikasi konektivitas. S: Teliti, mengikuti SOP, menjaga K3LH, mendokumentasikan setiap konfigurasi. 1. Terima work order instalasi. 2. Periksa topologi & IP addressing plan. 3. Akses router via console/SSH. 4. Konfigurasi IP pada interface. 5. Konfigurasi static route ke semua remote network. 6. Konfigurasi default route (jika diperlukan). 7. Verifikasi: show ip route, ping, traceroute. 8. Dokumentasikan konfigurasi & hasil pengujian. 9. Serah terima pekerjaan kepada supervisor. Setting: Lab = Server Room / NOC. Peran: Siswa = Network Technician baru yang mendapat work order pertama. Skenario: "3 router baru dipasang di 3 lantai gedung kantor. Hubungkan seluruh lantai menggunakan static routing. Supervisor menunggu laporan selesai dalam 45 menit." Tim: Berpasangan. Waktu: 45 menit. File .pkt topologi static routing + screenshot ping/traceroute + laporan konfigurasi (.docx) P (20%): Pre-test konsep static route. K (60%): Checklist konfigurasi + rubrik produk (konektivitas, ketepatan, kelengkapan). S (20%): Observasi K3LH, SOP, kerjasama, dokumentasi.

Tabel Transformasi Terintegrasi — Unit 2: Dynamic Routing (RIPv2 & OSPF)

No Kode TP Pekerjaan Nyata di Industri Kemampuan (P/K/S) Langkah Kerja Simulasi di Kelas Output/Produk Penilaian
4 TP-2.2 Network Engineer mengimplementasikan RIPv2 pada jaringan cabang perusahaan P: Cara kerja RIP (distance-vector, hop count, update timer, hold-down, split horizon), sintaks konfigurasi RIPv2. K: Konfigurasi RIPv2 di Cisco IOS, verifikasi routing table & RIP database. S: Disiplin mengikuti prosedur, cermat dalam konfigurasi, mendokumentasikan setiap tahap. 1. Review topologi & IP addressing plan. 2. Verifikasi konektivitas langsung antar-router. 3. Aktifkan RIP version 2 di setiap router. 4. Masukkan network statement. 5. Disable auto-summary. 6. Verifikasi: show ip route, show ip rip database, show ip protocols. 7. Uji konektivitas end-to-end. 8. Uji konvergensi (simulasi link failure). 9. Dokumentasikan hasil. Setting: NOC Room perusahaan logistik. Peran: Siswa = Network Engineer. Skenario: "PT CJN baru buka 3 cabang. Deploy RIPv2 di semua router agar cabang saling terhubung. Testing deadline: akhir shift." Tim: Berpasangan (lead engineer + documenter). Waktu: 90 menit + 30 menit dokumentasi. File .pkt RIPv2 + screenshot routing table & verifikasi + catatan waktu konvergensi + laporan konfigurasi P (20%): Kuis mekanisme RIP. K (60%): Checklist konfigurasi + rubrik (konektivitas, konvergensi, kelengkapan verifikasi). S (20%): Observasi K3LH, kerjasama, dokumentasi.
5 TP-2.3 Network Engineer menerapkan OSPF single-area pada jaringan enterprise P: Cara kerja OSPF (link-state, cost, hello/dead interval, LSA, SPF, adjacency states, DR/BDR). K: Konfigurasi OSPF area 0 di Cisco IOS / MikroTik RouterOS, verifikasi adjacency & routing table. S: Teliti, kritis dalam menganalisis output, profesional dalam dokumentasi. 1. Review topologi & IP addressing. 2. Tentukan OSPF process-id & router-id. 3. Konfigurasi OSPF area 0 di setiap router. 4. Verifikasi adjacency: show ip ospf neighbor (target: state FULL). 5. Verifikasi routing: show ip route ospf. 6. Verifikasi interface: show ip ospf interface. 7. Uji end-to-end. 8. Uji konvergensi. 9. Bandingkan hasil dengan RIP. 10. Dokumentasikan. Setting: NOC Room. Peran: Siswa = Network Engineer senior yang melakukan upgrade. Skenario: "Manajemen memutuskan migrasi dari RIP ke OSPF karena issue konvergensi. Konfigurasi OSPF pada topologi yang sama. Buat perbandingan performance." Tim: Berpasangan. Waktu: 90 menit + 30 menit laporan. File .pkt OSPF + screenshot adjacency & routing table + tabel perbandingan RIP vs OSPF + file .rsc (jika pakai MikroTik) P (20%): Kuis mekanisme OSPF. K (60%): Checklist + rubrik (adjacency FULL, routing lengkap, konvergensi cepat). S (20%): Observasi sikap + jurnal refleksi.

Tabel Transformasi Terintegrasi — Unit 3: Analisis & Troubleshooting Routing

No Kode TP Pekerjaan Nyata di Industri Kemampuan (P/K/S) Langkah Kerja Simulasi di Kelas Output/Produk Penilaian
6 TP-3.1 NOC Analyst menganalisis routing table untuk memastikan path selection optimal pada jaringan multi-protocol P: Administrative distance tiap protokol, metric masing-masing protokol, konsep longest prefix match, route redistribution dasar. K: Membaca & menginterpretasi output show ip route pada topologi multi-protocol, menentukan preferred path. S: Analitis, cermat, mampu mengkomunikasikan temuan teknis. 1. Terima laporan status routing dari monitoring system. 2. Login ke router. 3. Jalankan show ip route, show ip protocols. 4. Identifikasi seluruh entry routing table: connected, static, RIP, OSPF. 5. Analisis path yang dipilih router untuk setiap destination. 6. Tentukan backup path jika primary gagal. 7. Susun laporan analisis. Setting: NOC Monitoring Room. Peran: Siswa = NOC Analyst shift pagi. Skenario: Supervisor: "Router R2 menjalankan RIP dan OSPF secara bersamaan. Analisis routing table-nya: jalur mana yang aktif, mengapa, dan apa yang terjadi jika link utama putus?" File .pkt sudah disiapkan guru (pre-configured). Waktu: 45 menit. Lembar analisis routing table (annotated screenshot) + diagram jalur terbaik + laporan analisis (.docx) P (20%): Tes pemahaman AD & metric. K (60%): Rubrik ketepatan analisis path & penjelasan reasoning. S (20%): Observasi ketelitian & komunikasi.
7 TP-3.2 NOC Technician / Network Support menerima tiket eskalasi dan men-troubleshoot routing failure P: Metodologi troubleshooting (OSI layer-by-layer, divide-and-conquer), common routing issues (missing route, incorrect subnet mask, wrong network statement, passive-interface). K: Menggunakan tools diagnostik (ping, traceroute, show commands, debug), mengidentifikasi & memperbaiki kesalahan konfigurasi. S: Tenang di bawah tekanan, sistematis, mendokumentasikan temuan. 1. Terima tiket eskalasi dari help desk. 2. Baca deskripsi masalah. 3. Login ke perangkat yang bermasalah. 4. Cek status interface (up/down?). 5. Cek routing table (ada entry yang hilang?). 6. Cek konfigurasi (network statement benar?). 7. Identifikasi root cause. 8. Terapkan perbaikan. 9. Verifikasi: ping, traceroute. 10. Tutup tiket: isi laporan PCAR (Problem–Cause–Action–Result). Setting: NOC Help Desk. Peran: Siswa = NOC Technician. Skenario: 3 tiket gangguan berbeda (guru siapkan 3 file .pkt dengan error yang sudah ditanam): Tiket #1 — "Cabang Grobogan tidak bisa akses server di pusat" (missing network statement). Tiket #2 — "Traceroute menunjukkan jalur memutar" (wrong metric/cost). Tiket #3 — "Routing loop terdeteksi di R3" (missing split-horizon / redistribution error). Tim: Individual. Waktu: 30 menit per tiket. File .pkt (before & after fix) per tiket + screenshot before-after + laporan PCAR per tiket (.docx) P (20%): Pre-test troubleshooting methodology. K (60%): Checklist keberhasilan fix + rubrik laporan PCAR + waktu penyelesaian. S (20%): Observasi ketenangan, sistematika kerja, dokumentasi.

Tabel Transformasi Terintegrasi — Unit 4: Evaluasi, Desain & Dokumentasi

No Kode TP Pekerjaan Nyata di Industri Kemampuan (P/K/S) Langkah Kerja Simulasi di Kelas Output/Produk Penilaian
8 TP-4.1 Senior Network Engineer mengevaluasi teknologi routing untuk keperluan pengambilan keputusan arsitektur P: Kelebihan-kekurangan tiap protokol (static, RIP, OSPF), parameter evaluasi (konvergensi, skalabilitas, resource usage, kompleksitas konfigurasi). K: Menjalankan topologi yang sama dengan 3 protokol berbeda, mengukur parameter performance, menyusun analisis komparatif. S: Objektif, berpikir kritis, mampu menyusun rekomendasi berbasis data. 1. Bangun topologi identik 3 kali (atau duplikasi .pkt). 2. Implementasikan: set A = static, set B = RIP, set C = OSPF. 3. Ukur parameter: waktu konfigurasi, jumlah entry routing table, waktu konvergensi, hop count, resource usage. 4. Susun tabel perbandingan. 5. Lakukan analisis SWOT tiap protokol. 6. Buat rekomendasi berbasis skenario. 7. Tulis laporan evaluasi. Setting: Ruang Meeting IT. Peran: Siswa = Senior Network Engineer yang diminta CTO memberi rekomendasi. Skenario: "CTO: 'Kita mau expand ke 15 cabang tahun depan. Routing protocol apa yang harus kita pakai? Beri saya data dan rekomendasi, bukan opini.'" Tim: Kelompok 3-4 orang. Waktu: 120 menit + presentasi 10 menit per kelompok. Laporan evaluasi komparatif (.docx) berisi tabel perbandingan, analisis SWOT, rekomendasi berjustifikasi + slide presentasi P (20%): Tes pemahaman parameter evaluasi. K (60%): Rubrik laporan (kelengkapan data, ketajaman analisis, validitas rekomendasi). S (20%): Observasi objektivitas, kerja tim, kemampuan presentasi.
9 TP-5.1 Network Architect merancang arsitektur routing untuk jaringan enterprise multi-cabang P: Prinsip desain jaringan (redundansi, skalabilitas, fault tolerance), pemilihan protokol berdasarkan kebutuhan bisnis, IP planning untuk routing. K: Mendesain topologi fisik & logis, membuat tabel IP addressing, mengkonfigurasi routing pada simulasi, membuat dokumen desain. S: Kreatif, visioner, mampu mempresentasikan dan mempertahankan desain. 1. Analisis kebutuhan bisnis (brief dari "client"). 2. Desain topologi fisik (draw.io). 3. Desain topologi logis + IP addressing plan. 4. Tentukan routing protocol & justifikasi. 5. Implementasikan di Packet Tracer. 6. Uji konektivitas & konvergensi. 7. Uji skenario failure (1 link putus — apakah redundansi bekerja?). 8. Susun dokumen desain. 9. Presentasikan & pertahankan desain dalam sesi peer review. Setting: Kantor konsultan IT — meeting dengan client. Peran: Siswa = Network Architect, guru = Client / CTO. Skenario: "PT Maju Bersama punya kantor pusat di Jakarta dan 5 cabang di Jawa. Rancang arsitektur routing dengan minimum 6 router, pastikan ada redundansi jalur, dan setiap cabang bisa akses server pusat. Budget terbatas — justifikasi pilihan perangkat." Tim: Kelompok 4 orang. Waktu: 2 pertemuan (16 JP) termasuk presentasi & peer review. Dokumen desain jaringan lengkap (.docx): topologi fisik & logis, tabel IP addressing, konfigurasi routing per router, hasil pengujian, justifikasi + file .pkt + file .drawio + slide presentasi P (20%): Tes prinsip desain jaringan. K (60%): Rubrik desain (kelengkapan, ketepatan, skalabilitas, redundansi, kualitas dokumen, kemampuan presentasi). S (20%): Observasi kreativitas, kerja tim, kemampuan mempertahankan argumen, peer review.
10 TP-5.2 Network Administrator mendokumentasikan konfigurasi untuk keperluan audit, maintenance, dan knowledge transfer P: Standar dokumentasi jaringan industri (network diagram, IP register, config backup, change log), format dokumen teknis. K: Menyusun dokumentasi lengkap, membuat diagram yang readable, meng-export konfigurasi, membuat changelog. S: Rapi, detail, konsisten dalam format, bertanggung jawab terhadap akurasi dokumen. 1. Kumpulkan semua konfigurasi yang sudah diimplementasikan sepanjang unit. 2. Buat diagram topologi final (draw.io, standar ikon Cisco). 3. Susun tabel IP addressing lengkap. 4. Export/copy running-config setiap router. 5. Susun hasil pengujian (ping, traceroute, show commands). 6. Buat changelog (catatan setiap perubahan konfigurasi). 7. Compile menjadi 1 dokumen teknis sesuai template. 8. Review silang dengan teman (quality check). Setting: Meja kerja administrator — akhir proyek. Peran: Siswa = Network Administrator yang harus menyerahkan dokumen serah-terima proyek. Skenario: "Proyek routing sudah selesai. Direktur IT meminta dokumen serah-terima untuk diarsipkan. Dokumen ini akan digunakan oleh tim maintenance yang belum pernah melihat jaringan ini. Pastikan mereka bisa memahami seluruh konfigurasi hanya dari dokumen Anda." Tim: Individual. Waktu: 60 menit. Dokumen teknis konfigurasi routing (.docx) sesuai template: topologi, IP table, config backup, test results, changelog P (20%): Kuis standar dokumentasi. K (60%): Rubrik dokumen (kelengkapan, keterbacaan, format, akurasi). S (20%): Observasi ketelitian, kedisiplinan format, tanggung jawab.

Daftar Kesalahan yang Harus Dihindari

Kesalahan Umum Contoh Perbaikan
Aktivitas masih teoritis "Menjelaskan cara kerja OSPF di papan tulis selama 2 JP" "Siswa mengkonfigurasi OSPF pada 4 router di Packet Tracer dan memverifikasi adjacency state FULL"
Tidak menghasilkan output "Diskusikan kelebihan RIP vs OSPF" tanpa bukti "Jalankan kedua protokol pada topologi identik, ukur konvergensi, hasilkan tabel perbandingan + screenshot bukti"
Tidak ada standar penilaian "Konfigurasi routing pada router" "Konfigurasi OSPF single-area pada 4 router, adjacency FULL di semua neighbor, ping 100%, selesai max 45 menit, laporan PCAR lengkap"
Tidak menyerupai dunia kerja "Kerjakan soal pilihan ganda tentang routing protocol" "Terima tiket eskalasi: 'Cabang Grobogan tidak bisa akses server pusat.' Troubleshoot, fix, dan kirim laporan PCAR."
KKO lemah sebagai aktivitas utama "Memahami konsep OSPF" sebagai kegiatan pembelajaran "Mengidentifikasi komponen OSPF → Mengkonfigurasi OSPF → Menganalisis routing table OSPF → Mengevaluasi performa vs RIP"
Penilaian hanya 1 dimensi Hanya tes tertulis tentang routing "P (20%): Pre-test konsep. K (60%): Rubrik produk + checklist konfigurasi. S (20%): Observasi sikap kerja + jurnal refleksi."
Simulasi tanpa peran & skenario "Praktik konfigurasi routing" "Siswa berperan sebagai NOC Technician, terima tiket gangguan, troubleshoot dalam setting NOC room, deadline 30 menit per tiket"

CATATAN PENGEMBANGAN

  1. Integrasi MikroTik lebih dalam: Untuk beberapa pertemuan, siapkan topologi paralel menggunakan MikroTik CHR + Winbox di samping Cisco Packet Tracer. Ini meningkatkan daya saing lulusan karena pasar Indonesia lebih banyak menggunakan MikroTik. Pastikan siswa selalu mengingat bahwa router produksi SMK SBI menggunakan wlan1 (wireless station mode) sebagai interface WAN — bedakan dengan skenario lab.
  2. Penambahan EIGRP (opsional): CP menyebut "satu Autonomous System" yang membuka ruang untuk EIGRP. Jika waktu memungkinkan, tambahkan 1 pertemuan untuk EIGRP sebagai enrichment bagi siswa advanced. Ini juga memperkaya evaluasi komparatif di TP-4.1.
  3. Portofolio digital siswa: Setiap file .pkt, screenshot, dan laporan yang dihasilkan siswa sebaiknya dikompilasi dalam folder personal di Google Drive atau LMS sekolah. Ini menjadi portofolio kompetensi yang bisa ditunjukkan saat wawancara magang/kerja.
  4. Peer review rubric: Kembangkan rubrik peer review untuk presentasi di TP-5.1 agar penilaian tidak hanya dari guru. Siswa belajar mengevaluasi desain orang lain — ini melatih C5 (Mengevaluasi) sekaligus soft skill komunikasi profesional.
  5. Skenario failure yang lebih variatif: Untuk TP-3.2 (troubleshooting), siapkan bank soal tiket gangguan minimal 10 skenario berbeda agar bisa dirotasi antar kelas/tahun ajaran. Skenario yang terlalu sering dipakai akan bocor dan mengurangi otentisitas asesmen.