Jump to content

J.611000.007.02: Modul praktik

From Wiki

BAGIAN 1 — ANALISIS CP "MERANCANG PEMULIHAN JARINGAN"

1.1 Identifikasi Elemen CP

CP ini terdiri dari satu elemen utama: Merancang Pemulihan Jaringan. Kata kerja anchor adalah "merancang" yang berada pada level C6 (Mencipta) dalam Taksonomi Bloom Revisi — level tertinggi yang menuntut kemampuan siswa untuk menghasilkan rencana/desain pemulihan jaringan yang original, sistematis, dan berbasis analisis risiko.

Elemen ini secara implisit mencakup sub-kompetensi berikut:

  1. Identifikasi dan klasifikasi potensi gangguan/ancaman jaringan
  2. Analisis dampak kegagalan (Business Impact Analysis) terhadap layanan jaringan
  3. Perumusan strategi pemulihan (Disaster Recovery Strategy)
  4. Pengembangan prosedur backup & restore konfigurasi perangkat jaringan
  5. Perancangan Disaster Recovery Plan (DRP) lengkap
  6. Pengujian dan validasi rencana pemulihan melalui simulasi

1.2 Ekstraksi Kompetensi Inti

Komponen Rincian
Kata kerja utama Merancang (C6 – Mencipta)
Kata kerja turunan Mengidentifikasi (C1), Mengklasifikasikan (C2), Menganalisis (C4), Mengevaluasi (C5), Menyusun (C6), Menguji (C4)
Objek pengetahuan Pemulihan jaringan (disaster recovery), gangguan/ancaman jaringan, strategi backup-restore, prosedur failover, dokumentasi DRP
Konteks penerapan Lingkungan jaringan enterprise/sekolah berbasis MikroTik, situasi downtime/outage, skenario bencana (hardware failure, serangan siber, human error, force majeure)

1.3 Pemetaan Hirarki Kompetensi

No Kompetensi Spesifik Level Bloom Tipe Pengetahuan Prasyarat
1 Mengidentifikasi jenis-jenis gangguan dan ancaman terhadap infrastruktur jaringan (hardware failure, software bug, serangan siber, human error, bencana alam) C1 – Mengingat Faktual Pengetahuan dasar topologi & perangkat jaringan
2 Mengklasifikasikan tingkat keparahan (severity level) gangguan berdasarkan dampaknya terhadap layanan jaringan C2 – Memahami Konseptual Kompetensi No. 1
3 Melaksanakan prosedur backup & restore konfigurasi perangkat jaringan (MikroTik, switch, router) C3 – Mengaplikasikan Prosedural Konfigurasi dasar perangkat jaringan
4 Menganalisis dampak kegagalan jaringan (Business Impact Analysis) terhadap kelangsungan layanan C4 – Menganalisis Konseptual & Prosedural Kompetensi No. 1 & 2
5 Mengevaluasi efektivitas strategi pemulihan melalui pengujian simulasi (DR drill) C5 – Mengevaluasi Metakognitif Kompetensi No. 3 & 4
6 Merancang Disaster Recovery Plan (DRP) lengkap untuk infrastruktur jaringan sekolah/enterprise C6 – Mencipta Metakognitif & Prosedural Semua kompetensi di atas

1.4 Dimensi Profil Lulusan yang Relevan

Dimensi Profil Lulusan Relevansi dengan CP
Penalaran Kritis Menganalisis risiko gangguan, menentukan prioritas pemulihan berdasarkan dampak bisnis
Kreativitas Merancang solusi pemulihan yang inovatif dan efisien sesuai keterbatasan sumber daya
Kemandirian Mengambil keputusan pemulihan secara mandiri di bawah tekanan waktu (simulasi downtime)
Kolaborasi Bekerja dalam tim NOC/DR Team untuk menjalankan prosedur pemulihan terkoordinasi
Komunikasi Mendokumentasikan dan mempresentasikan DRP secara jelas dan terstruktur

1.5 Diagnosis TP yang Diajukan

Kang mengajukan 3 TP berikut:

  1. Mengidentifikasi Potensi Gangguan terhadap Sistem Jaringan
  2. Merumuskan Strategi Pemulihan dan Pencegahan
  3. Mengembangkan Perencanaan untuk Mendukung Strategi Pencegahan Kerusakan

Hasil Diagnosis:

Aspek Temuan Keterangan
Format ABCD ❌ Tidak terpenuhi Ketiga TP hanya memuat Behavior tanpa Audience, Condition, dan Degree
Distribusi Bloom ❌ Tidak seimbang TP-1 = C1 (LOTS), TP-2 = C6 tapi terlalu umum, TP-3 = C6 tapi ambigu dan tumpang tindih dengan TP-2
KKO terukur ⚠️ Sebagian "Mengidentifikasi" terukur, "Merumuskan" dan "Mengembangkan" terukur tapi rumusan objeknya kabur
Cakupan CP ❌ Tidak lengkap Tidak ada TP yang menyentuh aspek prosedural (backup/restore), pengujian (DR drill), maupun analisis dampak (BIA)
Konteks industri ❌ Tidak ada Tidak menyebutkan konteks perangkat, standar, maupun situasi kerja
Loncatan level ⚠️ Terjadi Dari C1 (TP-1) langsung ke C6 (TP-2 & TP-3) tanpa C3–C5 sebagai jembatan
Tumpang tindih ❌ TP-2 & TP-3 "Merumuskan strategi pemulihan" dan "Mengembangkan perencanaan pencegahan" secara substansial tidak terdiferensiasi jelas

Kesimpulan: Ketiga TP perlu reformulasi total, bukan revisi parsial. Diperlukan penambahan TP pada level C3 (Prosedural), C4 (Analisis), dan C5 (Evaluasi) untuk menjembatani gap antara C1 dan C6, serta melengkapi cakupan kompetensi yang hilang.


BAGIAN 2 — PERUMUSAN TP SMART-ABCD

Berdasarkan analisis Bagian 1, berikut TP hasil reformulasi lengkap dengan komponen ABCD dan distribusi Bloom yang proporsional. Mengingat CP anchor di C6 ("Merancang"), distribusi HOTS mendapat bobot lebih tinggi.

Kode TP Rumusan TP (ABCD) KKO Level Bloom Estimasi JP Elemen CP Terkait
TP-1.1 Peserta didik (A) mampu mengidentifikasi (B) minimal 5 kategori gangguan jaringan (hardware failure, software bug, serangan siber, human error, force majeure) beserta contoh kasusnya (D) ketika diberikan skenario infrastruktur jaringan sekolah/enterprise berbasis MikroTik (C) Mengidentifikasi C1 – Mengingat 4 JP Identifikasi gangguan
TP-1.2 Peserta didik (A) mampu mengklasifikasikan (B) potensi gangguan jaringan ke dalam matriks severity-probability (Critical/Major/Minor × High/Medium/Low) secara tepat (D) berdasarkan studi kasus jaringan SMK SBI dengan ≥1.400 hotspot client (C) Mengklasifikasikan C2 – Memahami 4 JP Klasifikasi risiko
TP-2.1 Peserta didik (A) mampu melaksanakan (B) prosedur backup konfigurasi perangkat MikroTik (export .rsc, binary backup) dan restore ke perangkat target dengan hasil konfigurasi 100% identik (D) menggunakan Winbox/terminal pada router MikroTik RB4011iGS+5HacQ2HnD atau MikroTik CHR di lingkungan lab (C) Melaksanakan C3 – Mengaplikasikan 8 JP Backup & restore
TP-2.2 Peserta didik (A) mampu mengimplementasikan (B) mekanisme redundansi jaringan (failover gateway, VRRP, atau link backup) dengan perpindahan jalur otomatis dalam waktu ≤30 detik (D) pada topologi simulasi menggunakan MikroTik CHR di VirtualBox/GNS3 (C) Mengimplementasikan C3 – Mengaplikasikan 8 JP Redundansi & failover
TP-3.1 Peserta didik (A) mampu menganalisis (B) dampak kegagalan jaringan (Business Impact Analysis) terhadap minimal 3 layanan kritis (internet, server lokal, VoIP/CCTV) dengan menentukan RTO dan RPO untuk setiap layanan (D) berdasarkan data topologi dan SLA jaringan SMK SBI (C) Menganalisis C4 – Menganalisis 6 JP Business Impact Analysis
TP-3.2 Peserta didik (A) mampu mendiagnosis (B) skenario kegagalan jaringan multi-layer (physical, data-link, network, application) dan menentukan urutan prioritas pemulihan berdasarkan dependency mapping yang logis (D) ketika diberikan simulasi network outage pada topologi Packet Tracer/MikroTik CHR (C) Mendiagnosis C4 – Menganalisis 6 JP Diagnosis & prioritas pemulihan
TP-4.1 Peserta didik (A) mampu mengevaluasi (B) efektivitas rencana pemulihan jaringan melalui pelaksanaan DR drill dengan mengukur keberhasilan berdasarkan parameter RTO tercapai, data integrity terjaga, dan seluruh layanan kritis pulih (D) pada skenario simulasi kegagalan router utama di lab jaringan (C) Mengevaluasi C5 – Mengevaluasi 6 JP Evaluasi DR drill
TP-5.1 Peserta didik (A) mampu merancang (B) dokumen Disaster Recovery Plan (DRP) lengkap meliputi: risk assessment, BIA, strategi pemulihan, prosedur step-by-step, communication plan, dan jadwal pengujian berkala, sesuai standar best practice dan memenuhi seluruh komponen wajib DRP (D) untuk infrastruktur jaringan SMK SBI berbasis MikroTik RB4011iGS+5HacQ2HnD (C) Merancang C6 – Mencipta 8 JP Perancangan DRP
TP-5.2 Peserta didik (A) mampu menyusun (B) presentasi dan dokumentasi teknis DRP yang komunikatif meliputi executive summary, diagram topologi pemulihan, runbook prosedur, dan log pengujian (D) untuk dipresentasikan kepada stakeholder (simulasi: kepala sekolah/manajemen IT) dalam format profesional (C) Menyusun C6 – Mencipta 6 JP Dokumentasi & presentasi DRP

Total Estimasi: 56 JP (7 minggu × 8 JP/minggu)

Distribusi Level Bloom

Kategori Level Jumlah TP JP Persentase JP
LOTS C1–C2 TP-1.1, TP-1.2 8 JP 14%
MOTS C3–C4 TP-2.1, TP-2.2, TP-3.1, TP-3.2 28 JP 50%
HOTS C5–C6 TP-4.1, TP-5.1, TP-5.2 20 JP 36%

Distribusi ini sesuai dengan anchor verb CP di C6: bobot HOTS ditinggikan (36%) dibanding minimum 20%, sementara MOTS tetap dominan sebagai fondasi keterampilan prosedural yang harus dikuasai sebelum siswa mampu merancang DRP secara utuh.


BAGIAN 3 — PENYUSUNAN ATP LINEAR

Tabel ATP

Semester Unit Kode TP Rumusan Singkat JP Asesmen Tagihan Produk
Genap Unit 1: Identifikasi & Klasifikasi Risiko Jaringan TP-1.1 Mengidentifikasi 5 kategori gangguan jaringan 4 Formatif: Peta risiko individual Dokumen inventarisasi ancaman (.docx)
TP-1.2 Mengklasifikasikan gangguan ke matriks severity-probability 4 Formatif: Matriks risiko tervalidasi Matriks risiko jaringan SMK SBI (.xlsx)
Unit 2: Backup, Restore & Mekanisme Redundansi TP-2.1 Melaksanakan backup & restore konfigurasi MikroTik 8 Formatif: Checklist prosedur + verifikasi konfigurasi File backup (.rsc + .backup), screenshot restore berhasil, laporan prosedur (.docx)
TP-2.2 Mengimplementasikan failover/redundansi gateway 8 Formatif: Pengujian failover + pengukuran waktu perpindahan File konfigurasi failover (.rsc), topologi (.pkt/.gns3), screenshot pengujian, laporan (.docx)
Unit 3: Analisis Dampak & Diagnosis Kegagalan TP-3.1 Menganalisis Business Impact Analysis (RTO/RPO) 6 Formatif: Dokumen BIA peer-reviewed Dokumen BIA lengkap (.docx/.xlsx)
TP-3.2 Mendiagnosis kegagalan multi-layer dan prioritas pemulihan 6 Formatif: Log troubleshooting + dependency map Dependency map (.drawio/.png), log diagnosis (.docx)
Unit 4: Perancangan & Validasi Disaster Recovery Plan TP-4.1 Mengevaluasi efektivitas DRP melalui DR drill 6 Sumatif Praktik: Observasi pelaksanaan DR drill Laporan DR drill (.docx), log pengujian, checklist evaluasi
TP-5.1 Merancang dokumen DRP lengkap 8 Sumatif Proyek: Rubrik DRP komprehensif Dokumen DRP final (.docx), diagram topologi pemulihan (.drawio)
TP-5.2 Menyusun presentasi & dokumentasi teknis DRP 6 Sumatif Presentasi: Rubrik komunikasi teknis Slide presentasi (.pptx), executive summary (.docx), runbook (.docx)

Narasi Justifikasi Urutan

Urutan ATP ini mengikuti production flow industri Disaster Recovery yang digunakan oleh tim IT/Network Operations di perusahaan sesungguhnya. Dalam industri, sebelum merancang Disaster Recovery Plan, seorang Network Engineer harus terlebih dahulu memahami lanskap ancaman yang dihadapi infrastruktur (Unit 1). Tanpa inventarisasi risiko dan klasifikasi severity, rencana pemulihan akan bersifat generik dan tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, Unit 1 menjadi fondasi kognitif yang melatih siswa berpikir analitis tentang "apa saja yang bisa gagal."

Unit 2 membekali siswa dengan keterampilan prosedural inti: backup-restore dan failover. Kedua kemampuan ini merupakan "senjata utama" dalam pemulihan jaringan — seorang NOC Technician yang tidak bisa melakukan restore konfigurasi router dari backup sama saja tidak bisa memulihkan jaringan. Unit ini juga menjadi prasyarat mutlak untuk Unit 3 dan 4, karena strategi pemulihan yang dirancang nanti harus berbasis pada kemampuan teknis yang sudah dikuasai.

Unit 3 menaikkan level ke analisis: siswa belajar menentukan prioritas pemulihan berdasarkan dampak bisnis (BIA) dan dependency mapping antar layanan. Ini mengajarkan bahwa pemulihan jaringan bukan sekadar "nyalakan ulang router" tapi harus mempertimbangkan layanan mana yang paling kritis dan saling bergantung. Akhirnya, Unit 4 merupakan puncak kompetensi — siswa menyintesis seluruh pengetahuan dan keterampilan dari Unit 1–3 menjadi sebuah dokumen DRP utuh, mengujinya melalui simulasi DR drill, mengevaluasi hasilnya, dan mempresentasikannya secara profesional. Urutan ini selaras dengan siklus PDCA (Plan–Do–Check–Act) yang menjadi standar manajemen kualitas di industri IT.


BAGIAN 4 — DESAIN MODUL AJAR TERINTEGRASI

Unit yang Dikembangkan: Unit 2 — Backup, Restore & Mekanisme Redundansi (TP-2.1 dan TP-2.2, total 16 JP / 2 minggu)

Pemilihan Unit 2 didasarkan pada pertimbangan bahwa unit ini memiliki bobot prosedural tertinggi dan merupakan keterampilan teknis inti (core hands-on skill) yang menjadi prasyarat bagi seluruh unit berikutnya.

4.1 Identitas Modul

Komponen Keterangan
Nama Penyusun Tim Pengembang Kurikulum TKJ SMK SBI
Satuan Pendidikan SMK Satya Bhakti Ilmu, Grobogan, Jawa Tengah
Fase / Kelas Fase F / Kelas XI
Mata Pelajaran Administrasi Infrastruktur Jaringan (AIJ)
Elemen CP Merancang Pemulihan Jaringan
Unit Unit 2 — Backup, Restore & Mekanisme Redundansi
Alokasi Waktu 16 JP (2 minggu × 8 JP)
Target Peserta Didik Peserta didik kelas XI TKJ yang telah menguasai konfigurasi dasar MikroTik
Model Pembelajaran Teaching Factory (TEFA) + Project-Based Learning (PjBL)
Moda Luring (praktik di lab jaringan)

4.2 Komponen Inti

Tujuan Pembelajaran:

  • TP-2.1: Melaksanakan prosedur backup & restore konfigurasi MikroTik
  • TP-2.2: Mengimplementasikan mekanisme failover/redundansi gateway

Pemahaman Bermakna: Setiap infrastruktur jaringan rentan terhadap kegagalan. Kemampuan melakukan backup konfigurasi dan membangun mekanisme failover adalah keterampilan yang membedakan antara downtime berjam-jam dengan pemulihan dalam hitungan menit — dan ini berdampak langsung pada produktivitas, reputasi, serta kelangsungan bisnis sebuah organisasi.

Pertanyaan Pemantik:

  1. "Jika router utama SMK SBI tiba-tiba mati dan 1.400 user kehilangan internet, apa langkah pertama yang kalian lakukan? Berapa lama waktu yang bisa ditoleransi?"
  2. "Apa bedanya backup export (.rsc) dengan binary backup (.backup) di MikroTik? Kapan menggunakan yang mana?"
  3. "Bagaimana perusahaan besar memastikan jaringannya tetap hidup meskipun satu jalur internet mati — dan bisa kita terapkan di SMK SBI?"

Kegiatan Pembelajaran:

Pertemuan 1–2 (8 JP): Backup & Restore Konfigurasi MikroTik

Fase Durasi Kegiatan
MINDFUL (Pembuka) 30 menit Guru menayangkan video singkat insiden downtime jaringan perusahaan akibat kegagalan router tanpa backup. Siswa diminta menuliskan 3 dampak yang mereka identifikasi. Guru memfasilitasi diskusi singkat: "Apa yang seharusnya dilakukan SEBELUM insiden terjadi?"
MEANINGFUL (Inti) 280 menit Sesi 1 (90 menit): Guru mendemonstrasikan prosedur backup & restore di MikroTik — (a) export .rsc via terminal, (b) binary backup via Winbox, (c) transfer file backup ke PC menggunakan drag-drop Winbox. Siswa mencatat langkah di logbook. Sesi 2 (120 menit): Siswa secara berpasangan melaksanakan praktik backup-restore menggunakan LKPD-01 pada MikroTik CHR (VirtualBox). Skenario: router memiliki konfigurasi hotspot + firewall + DHCP → backup → reset → restore → verifikasi seluruh konfigurasi kembali. Sesi 3 (70 menit): Siswa melakukan restore dari backup partner (cross-restore test) untuk membuktikan portabilitas file backup. Dokumentasi hasil dalam laporan praktikum.
JOYFUL (Penutup) 50 menit Kompetisi antar-pasangan: siapa yang paling cepat melakukan full restore dengan verifikasi 100% berhasil. Refleksi: siswa menulis 3 lesson learned dan 1 situasi nyata di mana keterampilan ini akan digunakan.

Pertemuan 3–4 (8 JP): Implementasi Failover Gateway

Fase Durasi Kegiatan
MINDFUL (Pembuka) 30 menit Guru menampilkan diagram topologi SMK SBI dan bertanya: "Apa yang terjadi jika koneksi wlan1 ke ISP putus? Adakah jalur alternatif?" Siswa berdiskusi berpasangan (think-pair-share) selama 10 menit, lalu 2 pasangan mempresentasikan ide.
MEANINGFUL (Inti) 280 menit Sesi 1 (80 menit): Guru menjelaskan konsep failover gateway menggunakan fitur route distance, check-gateway, dan netwatch di MikroTik. Demonstrasi langsung di MikroTik CHR dengan 2 gateway (simulasi WAN utama via wlan1 dan WAN backup via ether1). Sesi 2 (130 menit): Siswa dalam kelompok (3–4 orang) membangun topologi failover di VirtualBox/GNS3 menggunakan LKPD-02 dan Jobsheet-01. Setiap kelompok harus mengkonfigurasi: (a) 2 jalur WAN dengan distance berbeda, (b) check-gateway=ping, (c) script netwatch untuk notifikasi failover. Sesi 3 (70 menit): Pengujian: siswa mematikan interface WAN utama secara deliberate, mengukur waktu perpindahan ke jalur backup dengan stopwatch, melakukan traceroute sebelum dan sesudah failover, mendokumentasikan hasilnya.
JOYFUL (Penutup) 50 menit Presentasi singkat per kelompok (3 menit): "Berapa detik waktu failover kami, dan bagaimana cara mengoptimalkannya?" Kelompok lain memberikan feedback. Refleksi: jurnal belajar tentang pentingnya redundansi dalam jaringan production.

4.3 LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)

LKPD-01: Backup & Restore Konfigurasi MikroTik

Skenario Kontekstual: Kamu adalah IT Support Staff di PT. Nusantara Network Solutions. Perusahaan memiliki 5 router MikroTik yang menghandle koneksi kantor pusat dan 4 cabang. Manager IT meminta kamu melakukan backup rutin seluruh konfigurasi router sebagai bagian dari SOP Disaster Preparedness. Salah satu router cabang mengalami kerusakan hardware dan harus diganti — kamu harus melakukan restore konfigurasi ke router pengganti.

Tugas Terstruktur:

Tahap 1 — Persiapan (Scaffolding tinggi):

  • Buka VirtualBox, jalankan MikroTik CHR yang sudah dikonfigurasi (hotspot, DHCP, firewall, static route)
  • Buka Winbox, koneksi ke CHR via MAC address
  • Catat konfigurasi awal: / export compact → salin ke Notepad → simpan sebagai bukti "sebelum backup"

Tahap 2 — Backup (Scaffolding sedang):

  • Lakukan backup menggunakan 2 metode:
    • Metode 1: Terminal → / export file=backup-[namamu]-export
    • Metode 2: Files → Backup → beri nama backup-[namamu]-binary
  • Download kedua file ke PC via Winbox (drag-drop dari Files)
  • Bandingkan: buka file .rsc dengan Notepad — apa isinya? Bisakah file .backup dibuka dengan Notepad? Mengapa?

Tahap 3 — Restore (Scaffolding rendah):

  • Reset konfigurasi CHR: / system reset-configuration no-defaults=yes
  • Tunggu reboot, koneksi ulang via Winbox
  • Restore menggunakan file .rsc: / import file-name=backup-[namamu]-export.rsc
  • Verifikasi: bandingkan / export compact dengan catatan Tahap 1 — apakah identik?
  • Ulangi dengan metode binary backup: / system backup load name=backup-[namamu]-binary
  • Verifikasi ulang setelah reboot

Refleksi:

  1. Apa perbedaan utama antara export .rsc dan binary backup dalam hal portabilitas dan isi?
  2. Dalam situasi apa kamu memilih export .rsc? Dalam situasi apa memilih binary backup?
  3. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk full restore? Bagaimana cara mempercepatnya?

LKPD-02: Implementasi Failover Gateway

Skenario Kontekstual: Kamu adalah Junior Network Engineer di PT. Nusantara Network Solutions. Kantor pusat perusahaan memiliki 2 koneksi ISP: ISP-A (utama, bandwidth 100 Mbps) dan ISP-B (backup, bandwidth 50 Mbps). CTO meminta kamu mengkonfigurasi failover otomatis agar jika ISP-A down, seluruh traffic berpindah ke ISP-B tanpa perlu intervensi manual, dan kembali ke ISP-A saat pulih.

Tugas Terstruktur:

Tahap 1 — Bangun Topologi (Scaffolding tinggi):

  • Di VirtualBox/GNS3, buat 3 MikroTik CHR:
    • CHR-1: Router utama (gateway LAN) — interface ether1 ke ISP-A, ether2 ke ISP-B, ether3 ke LAN
    • CHR-2: Simulasi ISP-A (NAT masquerade, DHCP server)
    • CHR-3: Simulasi ISP-B (NAT masquerade, DHCP server)
  • Konfigurasi IP addressing sesuai diagram yang diberikan

Tahap 2 — Konfigurasi Failover (Scaffolding sedang):

  • Pada CHR-1, tambahkan 2 default route:
    • Route 1: gateway ISP-A, distance=1, check-gateway=ping
    • Route 2: gateway ISP-B, distance=2, check-gateway=ping
  • Tambahkan NAT masquerade untuk kedua interface WAN
  • Tambahkan script netwatch untuk monitoring gateway ISP-A

Tahap 3 — Pengujian & Pengukuran (Scaffolding rendah):

  • Dari PC LAN, lakukan ping continuous ke 8.8.8.8 (atau IP publik simulasi)
  • Matikan interface ether1 pada CHR-2 (simulasi ISP-A down)
  • Catat: berapa detik ping timeout sebelum beralih ke ISP-B?
  • Nyalakan kembali ether1 — catat berapa detik kembali ke ISP-A
  • Lakukan traceroute sebelum dan sesudah failover — screenshot hasilnya

Refleksi:

  1. Mengapa kita menggunakan check-gateway=ping, bukan hanya distance saja?
  2. Apa yang terjadi jika kedua gateway down secara bersamaan?
  3. Bagaimana cara failover ini diterapkan di SMK SBI yang internet masuknya via wlan1?

4.4 Jobsheet Praktikum

JOBSHEET-01: Konfigurasi Failover Gateway pada MikroTik

Komponen Keterangan
Judul Konfigurasi Failover Gateway dengan Route Distance dan Netwatch pada MikroTik
Tujuan Siswa mampu mengimplementasikan mekanisme failover gateway otomatis dengan perpindahan jalur ≤30 detik
Alokasi Waktu 4 JP (180 menit)
Prasyarat Konfigurasi dasar IP addressing, routing statis, NAT masquerade

Alat & Bahan:

No Alat/Bahan Spesifikasi Jumlah
1 PC/Laptop Min. RAM 4 GB, prosesor dual-core 1/kelompok
2 VirtualBox Versi 7.x Terinstal
3 MikroTik CHR RouterOS v7.x (free license) 3 VM/kelompok
4 Winbox Versi terbaru Terinstal
5 Stopwatch Fisik atau digital 1/kelompok
6 Logbook/buku catatan 1/siswa

Keselamatan Kerja (K3LH):

  1. Pastikan kabel power laptop terpasang aman, tidak menjuntai di area lalu lalang.
  2. Gunakan alas kaki sesuai ketentuan lab.
  3. Jangan makan/minum di area workstation.
  4. Simpan file backup secara berkala — VM bisa crash kapan saja.
  5. Laporkan kepada guru jika menemukan anomali pada PC/software.

⚠️ CATATAN KRITIS INFRASTRUKTUR SMK SBI: Pada jaringan production SMK SBI, internet masuk ke router MikroTik RB4011iGS+5HacQ2HnD melalui interface wlan1 (wireless station mode ke ISP), BUKAN ether1. Jika praktik dilakukan pada router production (bukan CHR), sesuaikan interface WAN utama ke wlan1. Pada jobsheet ini, simulasi menggunakan CHR dengan ether1/ether2 sebagai pengganti wlan1.

Langkah Kerja:

A. Persiapan (20 menit)

  1. Jalankan VirtualBox, buat 3 VM MikroTik CHR dengan konfigurasi network adapter sesuai topologi.
  2. Konfigurasi Internal Network: "ISP-A-NET" (CHR-1↔CHR-2), "ISP-B-NET" (CHR-1↔CHR-3), "LAN-NET" (CHR-1↔Host-Only).
  3. Boot semua VM, akses via Winbox.
  4. Konfigurasi IP addressing:
    • CHR-1 ether1: 10.10.1.2/30 (ke ISP-A), CHR-2 ether1: 10.10.1.1/30
    • CHR-1 ether2: 10.10.2.2/30 (ke ISP-B), CHR-3 ether1: 10.10.2.1/30
    • CHR-1 ether3: 192.168.88.1/24 (LAN)
  5. Konfigurasi NAT masquerade dan DHCP server pada CHR-2 dan CHR-3 (simulasi ISP).

B. Proses — Konfigurasi Failover (40 menit) 6. Pada CHR-1, tambahkan default route ke ISP-A:

/ip route add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.10.1.1 distance=1 check-gateway=ping

  1. Tambahkan default route ke ISP-B:

/ip route add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.10.2.1 distance=2 check-gateway=ping

  1. Konfigurasi NAT masquerade pada CHR-1:

/ip firewall nat add chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade

/ip firewall nat add chain=srcnat out-interface=ether2 action=masquerade

  1. Konfigurasi Netwatch untuk monitoring:

/tool netwatch add host=10.10.1.1 interval=10s timeout=3s \

 up-script="/log info \"ISP-A UP - Primary route active\"" \

 down-script="/log info \"ISP-A DOWN - Failover to ISP-B\""

  1. Konfigurasi DNS:

/ip dns set servers=8.8.8.8,8.8.4.4 allow-remote-requests=yes

C. Pemeriksaan — Pengujian Failover (30 menit) 11. Dari PC host (LAN), buka terminal/command prompt. 12. Jalankan ping -t 10.10.1.1 — pastikan reply normal. 13. Jalankan tracert 8.8.8.8 (atau IP ISP simulasi) — catat jalur via ISP-A. 14. Matikan interface ether1 pada CHR-2: / interface disable ether1 15. Amati ping — catat berapa detik timeout sebelum reply kembali via ISP-B. 16. Jalankan tracert ulang — konfirmasi jalur berubah via ISP-B. 17. Nyalakan kembali ether1 pada CHR-2: / interface enable ether1 18. Amati kembali — catat berapa detik sampai traffic kembali ke ISP-A.

D. Penyelesaian — Dokumentasi (20 menit) 19. Screenshot: (a) routing table, (b) netwatch status, (c) traceroute sebelum failover, (d) traceroute saat failover, (e) traceroute setelah failback. 20. Export konfigurasi CHR-1: / export file=failover-config-[kelompok] 21. Download semua file (screenshot + .rsc) ke folder kelompok. 22. Isi lembar hasil pengamatan berikut.

Lembar Hasil Pengamatan:

Parameter Hasil
Waktu failover (detik dari ISP-A down sampai ISP-B aktif) .............. detik
Waktu failback (detik dari ISP-A up sampai kembali ke ISP-A) .............. detik
Jumlah paket hilang saat failover .............. paket
Jalur traceroute sebelum failover (hop 1 gateway) ..............
Jalur traceroute saat failover (hop 1 gateway) ..............
Status netwatch saat ISP-A down ..............
Apakah target ≤30 detik tercapai? Ya / Tidak

4.5 Media Simulasi Digital

Tools Penggunaan Skenario
MikroTik CHR + VirtualBox Simulasi utama seluruh praktikum Unit 2 3 VM CHR sebagai Router Utama + 2 ISP simulasi; siswa mengkonfigurasi failover dan melakukan backup/restore
Winbox Manajemen router via GUI Backup file transfer, monitoring netwatch, konfigurasi route
Cisco Packet Tracer (opsional) Alternatif untuk simulasi failover konseptual Topologi multi-router dengan static route distance-based failover
draw.io / diagrams.net Pembuatan diagram topologi failover Siswa menggambar topologi lengkap sebelum dan sesudah failover, termasuk arah traffic flow

Skenario Simulasi Utama: Lab diatur sebagai mini NOC Room. Setiap meja kelompok merupakan satu "site" perusahaan PT. Nusantara Network Solutions. Guru berperan sebagai NOC Manager yang sewaktu-waktu "menjatuhkan" koneksi ISP (mematikan VM ISP) tanpa pemberitahuan. Siswa harus memastikan failover berjalan otomatis dan mendokumentasikan insiden dalam incident log. Target: setiap kelompok harus menangani minimal 3 kali simulasi failover dalam sesi praktikum.

4.6 Instrumen Asesmen Otentik

A. Asesmen Diagnostik (Awal Unit 2)

Kognitif (5 pertanyaan):

  1. Sebutkan 2 metode backup konfigurasi yang tersedia di MikroTik RouterOS!
  2. Apa perbedaan antara "export" dan "backup" pada MikroTik?
  3. Istilah "failover" dalam konteks jaringan merujuk pada mekanisme apa?
  4. Apa yang dimaksud dengan "distance" pada konfigurasi routing statis?
  5. Mengapa sebuah perusahaan membutuhkan lebih dari satu koneksi ISP?

Non-Kognitif (3 pertanyaan):

  1. Seberapa percaya diri kamu dalam menggunakan command line MikroTik? (1-5)
  2. Pernahkah kamu mengalami situasi internet sekolah mati total? Apa yang kamu rasakan dan pikirkan saat itu?
  3. Jika diminta bekerja dalam tim untuk menangani gangguan jaringan di bawah tekanan waktu, apakah kamu lebih suka memimpin, mengeksekusi, atau mendokumentasikan?

B. Asesmen Formatif (Proses)

Checklist Observasi Kinerja Praktikum:

No Aspek yang Diamati Ya Tidak Catatan
1 Melakukan backup dengan 2 metode (export .rsc + binary)
2 Menyimpan file backup di lokasi terpisah dari router
3 Melakukan restore dengan verifikasi konfigurasi identik
4 Mengkonfigurasi failover dengan distance dan check-gateway
5 Melakukan pengujian failover secara sistematis
6 Mengukur dan mencatat waktu failover dengan akurat
7 Mendokumentasikan seluruh proses dalam logbook
8 Menerapkan K3LH (kerapian workstation, prosedur shutdown VM)
9 Berkomunikasi efektif dengan anggota tim
10 Menyelesaikan tugas sesuai batas waktu

C. Asesmen Sumatif (Akhir Unit 2)

Rubrik Penilaian Produk — Konfigurasi Failover + Laporan:

Aspek Sangat Baik (4) Baik (3) Cukup (2) Perlu Bimbingan (1) Bobot
Keterampilan: Konfigurasi Failover Failover berfungsi sempurna, waktu perpindahan ≤30 detik, failback otomatis, netwatch aktif Failover berfungsi, waktu 31-60 detik, failback manual, netwatch aktif Failover berfungsi tapi waktu >60 detik atau failback tidak berfungsi Failover tidak berfungsi atau konfigurasi tidak selesai 30%
Keterampilan: Backup & Restore Kedua metode berhasil, restore 100% identik, file tersimpan rapi Kedua metode berhasil, restore >90% identik Satu metode berhasil, restore parsial Tidak berhasil melakukan backup/restore 20%
Pengetahuan: Pemahaman Konsep Mampu menjelaskan logika failover, perbedaan metode backup, dan parameter check-gateway dengan benar dan lengkap Menjelaskan dengan benar namun kurang mendalam Penjelasan parsial, ada miskonsepsi minor Tidak mampu menjelaskan konsep dasar 10%
Keterampilan: Dokumentasi Laporan lengkap (topologi, screenshot, tabel pengamatan, analisis), format rapi, tanpa kesalahan substansial Laporan lengkap tapi format kurang konsisten Laporan tidak lengkap (kurang screenshot/analisis) Laporan minimal atau tidak dikumpulkan 10%
Pengetahuan: Analisis Hasil Menganalisis hubungan antara interval check-gateway dengan waktu failover, mengusulkan optimasi Menganalisis hasil pengujian dengan benar Menyebutkan hasil tanpa analisis Tidak ada analisis 10%
Sikap Kerja: K3LH & SOP Konsisten menerapkan K3LH, mengikuti SOP langkah demi langkah, workstation rapi Menerapkan K3LH, sesekali melompati langkah Perlu diingatkan untuk K3LH Mengabaikan K3LH dan SOP 10%
Sikap Kerja: Kolaborasi & Waktu Berkontribusi aktif dalam tim, komunikasi efektif, selesai tepat waktu Berkontribusi baik, selesai tepat waktu Kontribusi minimal, selesai terlambat Tidak berkontribusi atau tidak selesai 10%

Konversi Nilai:

Rentang Skor Predikat Keterangan
≥ 90 A Sangat Baik — Kompeten dengan Sangat Baik
80 – 89 B Baik — Kompeten
70 – 79 C Cukup — Kompeten dengan Catatan (KKM)
60 – 69 D Kurang — Belum Kompeten (perlu remediasi)
< 60 E Sangat Kurang — Belum Kompeten (perlu pembinaan intensif)

BAGIAN 5 — TRANSFORMASI CP/ELEMEN KE AKTIVITAS PRAKTIK DUNIA KERJA

Tabel Transformasi Terintegrasi — Unit 1: Identifikasi & Klasifikasi Risiko Jaringan

No Kode TP Pekerjaan Nyata di Industri Kemampuan (P/K/S) Langkah Kerja Simulasi di Kelas Output/Produk Penilaian
1 TP-1.1 IT Risk Analyst / Network Security Officer melakukan network threat assessment dan menyusun risk register infrastruktur jaringan perusahaan P: Jenis-jenis ancaman jaringan (internal/eksternal), kategori gangguan (hardware, software, cyber, human, natural), framework risk assessment dasar. K: Melakukan inventarisasi aset jaringan, memetakan ancaman per aset, mengisi risk register template. S: Ketelitian dalam identifikasi, objektivitas penilaian, dokumentasi sistematis. 1. Inventarisasi seluruh aset jaringan (router, switch, AP, server, kabel, UPS) → 2. Identifikasi ancaman per aset (brainstorming + referensi NIST/ISO 27001 simplified) → 3. Dokumentasi deskripsi ancaman, penyebab, dan contoh kasus → 4. Review silang dengan rekan tim → 5. Finalisasi dokumen risk register Setting: Lab = kantor IT Security PT. SBI Network. Peran: Siswa = IT Risk Analyst. Skenario: Manager IT meminta audit ancaman jaringan sekolah menjelang akreditasi — siswa harus menghasilkan dokumen risk register dalam 1 sesi (4 JP). Tim: Individu dengan peer-review berpasangan. Deadline: 150 menit kerja + 30 menit review. Dokumen Risk Register (.docx) berisi: daftar aset, daftar ancaman per kategori (min. 5 kategori, 3 contoh per kategori), deskripsi dampak, referensi kasus nyata P (20%): Tes lisan — mampu menjelaskan 5 kategori gangguan dengan contoh. K (60%): Rubrik produk — kelengkapan, keakuratan, kedalaman analisis. S (20%): Observasi — ketelitian, kejujuran penilaian, ketepatan waktu.
2 TP-1.2 IT Risk Analyst mengklasifikasikan risiko ke dalam risk matrix dan menentukan prioritas mitigasi berdasarkan severity × probability P: Skala severity (Critical/Major/Minor), skala probability (High/Medium/Low), konsep risk appetite, metode skoring risiko. K: Mengisi risk matrix, menghitung risk score, menentukan prioritas (High/Medium/Low risk), memvisualisasikan heat map risiko. S: Objektivitas, ketelitian skoring, kemampuan argumentasi prioritas. 1. Ambil data dari risk register (TP-1.1) → 2. Tentukan severity setiap ancaman (dampak terhadap layanan) → 3. Tentukan probability (frekuensi kejadian historis/estimasi) → 4. Hitung risk score (severity × probability) → 5. Plot ke risk matrix heat map → 6. Tentukan 5 risiko teratas → 7. Dokumentasi dengan justifikasi Setting: Lanjutan skenario PT. SBI Network. Peran: Siswa = IT Risk Analyst yang harus mempresentasikan prioritas risiko ke CTO. Skenario: Budget mitigasi terbatas — hanya 5 risiko teratas yang bisa ditangani semester ini. Siswa harus meyakinkan "CTO" (guru) mengapa 5 risiko tersebut yang diprioritaskan. Tim: Berpasangan. Deadline: 120 menit kerja + 60 menit presentasi. Matriks risiko heat map (.xlsx), dokumen prioritas mitigasi (.docx), slide presentasi 5 menit (.pptx) P (20%): Tes tertulis — menjelaskan logika skoring severity dan probability. K (60%): Rubrik: keakuratan heat map, ketajaman prioritas, kualitas presentasi. S (20%): Observasi — kemampuan argumentasi, respons terhadap pertanyaan CTO.

Tabel Transformasi Terintegrasi — Unit 2: Backup, Restore & Mekanisme Redundansi

No Kode TP Pekerjaan Nyata di Industri Kemampuan (P/K/S) Langkah Kerja Simulasi di Kelas Output/Produk Penilaian
3 TP-2.1 NOC Technician / System Administrator menjalankan SOP backup konfigurasi perangkat jaringan secara berkala dan melakukan restore saat insiden P: Perbedaan export .rsc vs binary backup, lokasi penyimpanan backup (on-device, off-device, cloud), retention policy, SOP backup perusahaan. K: Mengeksekusi perintah export/backup di MikroTik, mentransfer file backup, melakukan restore dan verifikasi, membuat jadwal backup otomatis (scheduler). S: Kepatuhan SOP, ketelitian verifikasi, kedisiplinan jadwal. 1. Cek status router dan pastikan konfigurasi stabil → 2. Jalankan export .rsc dan binary backup → 3. Transfer file ke storage eksternal (PC/NAS) → 4. Verifikasi integritas file backup → 5. Simulasi reset router → 6. Restore dari backup → 7. Verifikasi konfigurasi 100% identik → 8. Dokumentasi dalam log backup Setting: Lab = NOC Room PT. SBI Network (setiap meja = 1 site). Peran: Siswa = NOC Technician shift malam yang harus menjalankan SOP weekly backup. Skenario: Guru (NOC Manager) memberikan "tiket kerja" berisi daftar router yang harus di-backup, lalu secara tiba-tiba mensimulasikan kegagalan router (reset VM) — siswa harus restore. Tim: Berpasangan (1 operator + 1 verifikator, lalu tukar peran). Deadline: 150 menit. File backup (.rsc + .backup) tersimpan di folder terstruktur, log backup (.docx) dengan timestamp, screenshot verifikasi restore berhasil P (20%): Pre-test lisan — perbedaan metode backup. K (60%): Checklist: kedua metode berhasil, restore 100% identik, file tersimpan rapi. S (20%): Observasi — kepatuhan SOP langkah kerja, komunikasi dengan partner.
4 TP-2.2 Network Engineer merancang dan mengimplementasikan mekanisme failover/redundansi pada jaringan production agar downtime minimal P: Konsep failover vs load balancing, route distance, check-gateway, VRRP (konseptual), netwatch, SLA ISP, parameter RTO. K: Mengkonfigurasi dual-WAN failover di MikroTik, mengkonfigurasi netwatch, mengukur waktu failover, membuat script notifikasi, mendokumentasikan topologi failover. S: Ketelitian konfigurasi, kesabaran troubleshooting, kerjasama tim, dokumentasi real-time. 1. Gambar topologi failover (draw.io) → 2. Setup VM sesuai topologi → 3. Konfigurasi IP addressing seluruh node → 4. Konfigurasi dual default route dengan distance berbeda dan check-gateway → 5. Konfigurasi NAT untuk kedua WAN → 6. Konfigurasi netwatch + script notifikasi → 7. Pengujian failover (matikan WAN utama) → 8. Ukur waktu perpindahan → 9. Pengujian failback → 10. Dokumentasi dan optimasi Setting: Lab = NOC Room. Setiap kelompok mengelola "branch office" PT. SBI Network. Peran: Kelompok = Tim Network Engineering (1 Lead Engineer, 1 Config Engineer, 1 Tester/Documentator). Skenario: CTO memerintahkan upgrade infrastruktur jaringan cabang dari single-WAN ke dual-WAN failover. Budget terbatas — harus pakai 2 ISP yang sudah ada. Guru sewaktu-waktu "menjatuhkan" ISP utama tanpa peringatan (simulasi outage) — tim harus membuktikan failover berjalan otomatis. Deadline: 180 menit termasuk dokumentasi. Topologi failover (.drawio/.png), file konfigurasi (.rsc), screenshot traceroute (sebelum/saat/sesudah failover), tabel hasil pengukuran waktu failover, laporan teknis (.docx) P (20%): Tes lisan — logika distance, check-gateway, dan kapan failback. K (60%): Rubrik: failover berfungsi ≤30 detik, failback otomatis, netwatch aktif, dokumentasi lengkap. S (20%): Observasi — pembagian tugas tim, komunikasi saat insiden, K3LH.

Tabel Transformasi Terintegrasi — Unit 3: Analisis Dampak & Diagnosis Kegagalan

No Kode TP Pekerjaan Nyata di Industri Kemampuan (P/K/S) Langkah Kerja Simulasi di Kelas Output/Produk Penilaian
5 TP-3.1 IT Service Manager / Business Continuity Analyst menyusun Business Impact Analysis (BIA) untuk menentukan prioritas pemulihan layanan P: Konsep RTO (Recovery Time Objective), RPO (Recovery Point Objective), MTTR, klasifikasi layanan kritis vs non-kritis, SLA internal. K: Mengidentifikasi layanan jaringan kritis, menentukan RTO/RPO per layanan, menyusun tabel prioritas pemulihan, membuat dependency map antar layanan. S: Kemampuan analitis, objektivitas, komunikasi lintas-tim (wawancara stakeholder). 1. Identifikasi seluruh layanan jaringan (internet, email server, CCTV, VoIP, e-learning, file server) → 2. Wawancara "stakeholder" (guru/siswa lain sebagai user) tentang dampak jika layanan mati → 3. Tentukan RTO dan RPO setiap layanan → 4. Buat dependency map (layanan A bergantung pada layanan B) → 5. Susun tabel prioritas pemulihan → 6. Peer-review dengan kelompok lain Setting: Lab = ruang rapat IT PT. SBI Network. Peran: Siswa = Business Continuity Analyst. Skenario: Pasca insiden downtime 8 jam minggu lalu, Direktur meminta BIA agar pemulihan berikutnya lebih terstruktur. Siswa harus mewawancarai "department heads" (kelompok lain berperan sebagai user finance, HR, marketing) untuk menentukan dampak per layanan. Tim: Kelompok 3-4 orang. Deadline: 180 menit (termasuk wawancara dan penyusunan). Dokumen BIA (.docx/.xlsx) berisi: daftar layanan kritis, tabel RTO/RPO, dependency map (.drawio), justifikasi prioritas pemulihan P (20%): Tes tertulis — definisi dan perbedaan RTO vs RPO. K (60%): Rubrik: kelengkapan BIA (min. 3 layanan), logika RTO/RPO, akurasi dependency map. S (20%): Observasi — kualitas wawancara, kemampuan argumentasi.
6 TP-3.2 NOC Engineer / Incident Response Specialist melakukan diagnosis kegagalan jaringan multi-layer dan menentukan urutan pemulihan berdasarkan dependency P: OSI layer troubleshooting approach, dependency antar layanan, eskalasi insiden, incident management framework (simplified ITIL). K: Troubleshooting sistematis dari layer 1 ke layer 7, membaca log router, menggunakan tools diagnostik (ping, traceroute, torch, log), membuat incident timeline. S: Ketenangan di bawah tekanan, komunikasi eskalasi, dokumentasi real-time. 1. Terima tiket insiden "jaringan down" → 2. Verifikasi scope (total outage atau partial) → 3. Cek layer 1 (fisik/kabel/LED) → 4. Cek layer 2 (MAC, ARP table) → 5. Cek layer 3 (IP, routing table, ping gateway) → 6. Cek layer 4-7 (DNS, service port, application) → 7. Identifikasi root cause → 8. Tentukan urutan pemulihan berdasarkan dependency → 9. Laksanakan pemulihan → 10. Verifikasi dan tutup tiket Setting: Lab = NOC Room dalam mode "incident response". Timer besar di depan kelas menunjukkan waktu SLA yang terus berjalan. Peran: Siswa = NOC Engineer L2. Skenario: Guru menyiapkan 3 skenario kegagalan berbeda pada VM (1: gateway mati, 2: DNS salah, 3: firewall memblokir traffic). Kelompok menerima "tiket eskalasi" dari L1 dan harus mendiagnosis + memulihkan dalam batas waktu tertentu. Tim: Kelompok 3 orang (1 Troubleshooter, 1 Logger, 1 Communicator). Deadline: 45 menit per tiket × 3 tiket. Incident log (.docx) per tiket berisi: timestamp, langkah diagnosis, root cause, solusi, waktu pemulihan; dependency map yang diperbarui P (20%): Tes lisan — urutan troubleshooting layer. K (60%): Rubrik: akurasi diagnosis, kecepatan pemulihan, kelengkapan log. S (20%): Observasi — ketenangan, kerjasama tim, komunikasi eskalasi.

Tabel Transformasi Terintegrasi — Unit 4: Perancangan & Validasi DRP

No Kode TP Pekerjaan Nyata di Industri Kemampuan (P/K/S) Langkah Kerja Simulasi di Kelas Output/Produk Penilaian
7 TP-4.1 DR Coordinator / IT Operations Manager memimpin pelaksanaan DR drill dan mengevaluasi keberhasilan rencana pemulihan P: Tujuan dan jenis DR drill (tabletop, functional, full-scale), kriteria keberhasilan DR drill, gap analysis, lesson learned framework. K: Menyusun skenario DR drill, mengeksekusi prosedur pemulihan sesuai DRP, mengukur pencapaian RTO, mendokumentasikan gap, menyusun rekomendasi perbaikan. S: Kepemimpinan, pengambilan keputusan di bawah tekanan, objektivitas evaluasi. 1. Siapkan skenario DR drill (guru memberikan) → 2. Briefing tim tentang prosedur yang akan diuji → 3. Eksekusi: jalankan prosedur pemulihan sesuai DRP draft → 4. Ukur pencapaian setiap parameter (RTO, data integrity, service restoration) → 5. Catat gap/deviasi dari rencana → 6. Diskusi lesson learned → 7. Susun rekomendasi perbaikan DRP Setting: Lab = War Room mode "DR Drill Exercise". Peran: Setiap kelompok = DR Team lengkap (DR Coordinator, Backup Specialist, Network Engineer, Communicator). Skenario: Guru mengumumkan "DRILL: Router utama SMK SBI gagal total pukul 07.30. Semua 1.400 client offline. Pulihkan dalam 45 menit." Tim harus: restore konfigurasi dari backup, aktifkan failover, verifikasi konektivitas, laporkan ke "manajemen" (guru). Deadline: 45 menit drill + 30 menit evaluasi. Laporan DR Drill (.docx): skenario, timeline eksekusi, pencapaian RTO, gap analysis, 5 rekomendasi perbaikan; checklist evaluasi terisi P (20%): Tes tertulis — kriteria keberhasilan DR drill. K (60%): Rubrik: RTO tercapai, layanan pulih, dokumentasi lengkap, rekomendasi tajam. S (20%): Observasi — kepemimpinan, koordinasi tim, komunikasi saat krisis.
8 TP-5.1 IT Manager / Business Continuity Manager merancang dan menyusun dokumen Disaster Recovery Plan (DRP) lengkap untuk seluruh infrastruktur jaringan P: Komponen DRP (risk assessment, BIA, recovery strategy, procedures, communication plan, testing schedule), standar best practice (NIST SP 800-34 simplified), governance DRP. K: Mengompilasi seluruh komponen DRP dari hasil Unit 1–3, menyusun prosedur step-by-step, membuat communication tree, merancang jadwal pengujian berkala, mengintegrasikan lesson learned dari DR drill. S: Berpikir sistematis, perhatian pada detail, kemampuan sintesis informasi kompleks. 1. Kompilasi risk register (Unit 1) → 2. Integrasikan BIA dan prioritas pemulihan (Unit 3) → 3. Rumuskan recovery strategy per layanan kritis → 4. Susun prosedur pemulihan step-by-step (runbook) → 5. Buat communication plan (siapa menghubungi siapa) → 6. Rancang jadwal DR drill berkala → 7. Integrasikan lesson learned dari DR drill (Unit 4) → 8. Review dan finalisasi → 9. Format sebagai dokumen profesional Setting: Lab = ruang kerja tim IT Management. Peran: Kelompok = Tim Penyusun DRP perusahaan (Project Lead, Risk Analyst, Technical Writer, Reviewer). Skenario: BOD (Board of Directors) memerintahkan penyusunan DRP formal setelah audit menemukan perusahaan tidak memiliki rencana pemulihan. Deadline pengumpulan: 2 pertemuan. DRP harus mencakup seluruh infrastruktur jaringan SMK SBI (sebagai studi kasus). Deadline: 8 JP (2 sesi kerja). Dokumen DRP final (.docx): cover, daftar isi, executive summary, risk assessment, BIA, recovery strategy, runbook prosedur, communication plan, jadwal pengujian, lampiran (topologi, konfigurasi backup); diagram topologi pemulihan (.drawio) P (20%): Tes tertulis — komponen wajib DRP. K (60%): Rubrik komprehensif: kelengkapan komponen, logika strategi, kedalaman prosedur, kualitas format dokumen. S (20%): Observasi — pembagian kerja, ketepatan waktu, kerapian dokumen.
9 TP-5.2 IT Manager mempresentasikan DRP kepada manajemen eksekutif dan mempertahankan keputusan teknis di hadapan non-teknis audience P: Teknik executive presentation, cara menyederhanakan informasi teknis untuk audience non-teknis, handling Q&A. K: Menyusun slide presentasi ringkas dan visual, membuat executive summary 1 halaman, mempresentasikan dengan percaya diri, menjawab pertanyaan kritis. S: Percaya diri, komunikasi efektif, kemampuan persuasi, respek terhadap feedback. 1. Rangkum DRP menjadi executive summary 1 halaman → 2. Buat slide presentasi (max 10 slide): masalah, risiko utama, strategi, anggaran estimasi, jadwal → 3. Latihan presentasi internal tim → 4. Presentasi ke "BOD" (guru + kelompok lain) → 5. Sesi Q&A → 6. Revisi DRP berdasarkan feedback Setting: Lab diatur formal: meja presentasi, proyektor, "ruang rapat BOD". Peran: Kelompok = Tim IT Management yang presentasi ke BOD. Kelompok lain + guru = BOD members yang memberikan pertanyaan kritis. Skenario: Setiap kelompok mendapat slot 10 menit presentasi + 5 menit Q&A. BOD akan menilai apakah DRP layak diimplementasikan atau perlu revisi. Deadline: 6 JP (persiapan 3 JP + presentasi 3 JP). Slide presentasi (.pptx), executive summary (.docx), catatan Q&A dan revisi yang akan dilakukan P (20%): Kualitas executive summary. K (60%): Rubrik: kejelasan presentasi, kualitas visual slide, kemampuan menjawab Q&A. S (20%): Observasi — percaya diri, respek terhadap penanya, kerjasama saat Q&A.

Daftar Kesalahan yang Harus Dihindari

Kesalahan Umum Contoh Perbaikan
Aktivitas masih teoritis "Menjelaskan jenis-jenis gangguan jaringan lewat ceramah" Siswa berperan sebagai IT Risk Analyst yang menginventarisasi ancaman jaringan nyata SMK SBI dan menghasilkan risk register (.docx)
Tidak menghasilkan output "Diskusi kelompok tentang pentingnya backup" tanpa produk kerja Setiap sesi menghasilkan minimal 1 file: .rsc, .backup, .docx, .xlsx, .drawio, .pkt — tanpa file = tidak ada nilai keterampilan
Tidak ada standar penilaian yang jelas "Kerjakan konfigurasi failover di lab" "Konfigurasi failover dual-WAN pada MikroTik CHR: waktu perpindahan ≤30 detik, failback otomatis, netwatch aktif, laporan .docx lengkap dengan screenshot traceroute, dikumpulkan max 180 menit"
Tidak menyerupai dunia kerja Mengerjakan soal pilihan ganda tentang backup restore Simulasi: siswa = NOC Technician yang menerima tiket kerja "weekly backup" dari NOC Manager (guru), lalu tiba-tiba guru me-reset VM (simulasi kegagalan) dan siswa harus restore dalam batas waktu
Penilaian hanya tes tertulis Ujian tulis 40 soal PG tentang DRP Penilaian 3 dimensi: P (20%) pre-test lisan, K (60%) rubrik produk + checklist kinerja, S (20%) observasi sikap kerja
Loncatan level tanpa scaffolding Langsung minta siswa membuat DRP tanpa pernah melakukan backup/restore Unit berurutan: identifikasi risiko → backup/restore → BIA → DR drill → baru rancang DRP lengkap
Mengabaikan konteks infrastruktur sekolah Jobsheet menyebut "internet masuk via ether1" WAJIB menyebutkan bahwa di SMK SBI internet masuk via wlan1 (wireless station mode), bukan ether1

Catatan Pengembangan

  1. Integrasi sertifikasi MTCNA: Materi backup/restore dan failover pada Unit 2 selaras dengan topik ujian MikroTik Certified Network Associate. Pertimbangkan untuk menambahkan soal latihan bergaya MTCNA sebagai pengayaan.
  1. Kolaborasi lintas mapel: Unit 3 (BIA) dan Unit 4 (DRP) memiliki potensi integrasi dengan mata pelajaran Simulasi dan Komunikasi Digital — siswa dapat menyusun video dokumentasi DR drill sebagai proyek lintas mapel.
  1. Pemanfaatan jaringan production: Setelah siswa menguasai keterampilan di lingkungan simulasi (CHR/VirtualBox), pertimbangkan sesi supervised practice pada router MikroTik RB4011iGS+5HacQ2HnD yang sebenarnya (backup konfigurasi production) dengan pengawasan ketat guru. Ini meningkatkan autentisitas pengalaman belajar secara signifikan.
  1. Skenario eskalasi tingkat lanjut: Untuk siswa yang menyelesaikan lebih cepat, sediakan skenario tambahan: implementasi VRRP (Virtual Router Redundancy Protocol) sebagai alternatif failover yang lebih enterprise-grade, atau konfigurasi automated backup menggunakan scheduler + email notification.
  1. Dokumentasi sebagai portofolio: Seluruh output siswa (risk register, konfigurasi .rsc, BIA, incident log, DRP final) sebaiknya dikompilasi menjadi portofolio digital yang dapat digunakan saat wawancara PKL atau lamaran kerja. Format portofolio bisa berupa folder Google Drive terstruktur atau repository GitHub sederhana.