J.611000.003.02: Mengidentifikasi ruang lingkup jaringan sesuai dengan usulan yang ada
Perencanaan kapasitas jaringan adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi ruang lingkup infrastruktur teknologi informasi dan menghitung kebutuhan sumber daya guna memenuhi kebutuhan operasional atau bisnis suatu organisasi. Proses ini melibatkan survei teknis (site survey) untuk mendata jumlah pengguna, kondisi fisik lokasi, dan perangkat yang dibutuhkan, yang kemudian digunakan sebagai dasar perhitungan kapasitas bandwidth dan pemilihan perangkat keras. Tujuan utama dari perencanaan ini adalah memastikan jaringan mampu menangani lalu lintas data secara efisien dan menyediakan layanan yang stabil bagi pengguna.
Identifikasi Ruang Lingkup Jaringan
Identifikasi ruang lingkup dimulai dengan survei teknis untuk memetakan parameter fisik dan kebutuhan logis organisasi. Data yang dikumpulkan dalam tahap ini meliputi:
- Informasi Umum dan Lokasi: Mencakup data identitas klien, jenis bangunan (misalnya ruko atau gedung bertingkat), titik koordinat GPS untuk keperluan nirkabel, serta kemudahan akses ke lokasi instalasi.
- Kebutuhan Pengguna (End Devices): Pendataan jumlah perangkat yang akan terhubung ke jaringan, seperti komputer desktop, laptop, smartphone, serta perangkat pendukung seperti printer jaringan dan kamera CCTV. Data ini digunakan untuk mengestimasi total pengguna.
- Kondisi Infrastruktur Fisik: Meliputi pemeriksaan ketersediaan dan stabilitas sumber listrik utama, sistem grounding, jalur kabel antar lantai (shaft/tray), jenis plafon, serta identifikasi hambatan fisik seperti dinding beton atau kaca yang dapat memengaruhi sinyal nirkabel.
- Jenis Jaringan: Penentuan jenis jaringan berdasarkan luas geografis, seperti Local Area Network (LAN) untuk area terbatas (gedung/kampus), Metropolitan Area Network (MAN) untuk skala kota, atau Wide Area Network (WAN) untuk cakupan negara atau benua.
Perhitungan Kapasitas dan Manajemen Bandwidth
Kapasitas jaringan dihitung berdasarkan analisis terhadap kebutuhan bisnis dan jumlah perangkat pengguna yang telah diidentifikasi.
- Kualitas Layanan (Quality of Service): Mekanisme ini diperlukan untuk memastikan aplikasi atau layanan beroperasi sesuai harapan dengan mengatasi masalah seperti throughput, delay, jitter, dan packet loss. Tanpa manajemen kapasitas yang baik, dapat terjadi perebutan sumber daya lalu lintas data.
- Parameter CIR dan MIR: Dalam manajemen kapasitas, khususnya pada perangkat Mikrotik, dikenal dua batasan rate:
- CIR (Committed Information Rate): Alokasi bandwidth terendah yang dijamin akan didapatkan oleh pengguna saat kondisi jaringan sangat sibuk.
- MIR (Maximum Information Rate): Alokasi bandwidth maksimum yang dapat dicapai pengguna ketika jaringan sedang tidak sibuk atau terdapat alokasi yang tidak terpakai.
- Metode Pembagian: Pembagian kapasitas dapat dilakukan menggunakan metode Simple Queue untuk skenario sederhana atau Queue Tree untuk skenario yang lebih kompleks, guna mencegah monopoli bandwidth oleh satu pengguna.
Pemilihan Perangkat Keras
Hasil identifikasi ruang lingkup dan perhitungan kapasitas digunakan untuk menentukan spesifikasi perangkat keras (hardware) yang sesuai. Pemilihan perangkat, seperti router, didasarkan pada faktor-faktor berikut:
- Skala Jaringan: Besar kecilnya jaringan dilihat dari jumlah klien dan besarnya lalu lintas data (traffic) yang akan ditangani.
- Kebutuhan Antarmuka (Interface): Menentukan apakah perangkat membutuhkan antarmuka nirkabel (wireless), ethernet, atau serat optik.
- Spesifikasi Teknis: Pemilihan seri perangkat (misalnya Mikrotik seri RB atau CCR) disesuaikan dengan beban kerja, seperti penggunaan untuk routing, proxy, atau hotspot.
- Estimasi Kebutuhan: Survei teknis menghasilkan estimasi kebutuhan material secara rinci, termasuk jumlah kabel UTP, konektor, switch, access point, dan spesifikasi pelindung kabel.
Keuntungan Implementasi yang Tepat
Perencanaan jaringan yang berbasis pada analisis kebutuhan pengguna memberikan keuntungan berupa efisiensi penggunaan sumber daya, kemudahan komunikasi dan kolaborasi antar pengguna, serta peningkatan keamanan dan manajemen data yang terpusat. Hal ini memungkinkan organisasi untuk mengoptimalkan biaya infrastruktur dan memastikan ketersediaan layanan yang memadai bagi aktivitas bisnis.