Dinamika AI dan Teknologi dalam Pendidikan

Dinamika AI dan Teknologi dalam Pendidikan merujuk pada integrasi, persepsi publik, dan manajemen perangkat digital serta kecerdasan buatan (AI) di dalam lingkungan pembelajaran. Fenomena ini mencakup adopsi alat bantu ajar berbasis teknologi, pengembangan kerangka kerja literasi AI (AI Literacy) seperti yang direncanakan dalam asesmen PISA 2029, serta perdebatan mengenai efektivitas pedagogis versus gangguan yang ditimbulkan oleh teknologi. Penerapan teknologi ini memunculkan diskursus mengenai praktik terbaik (best practices) untuk menyeimbangkan manfaat inovasi dengan risiko seperti distrakdi kognitif, komersialisasi pendidikan, dan kesenjangan akses global.

Konteks Persepsi dan Adopsi

Penerimaan terhadap teknologi AI di masyarakat global bervariasi. Sebuah survei tahun 2025 menunjukkan bahwa meskipun mayoritas publik global mengenal AI, tingkat kekhawatiran (34%) lebih tinggi dibandingkan antusiasme murni (16%). Tingkat kesadaran dan antusiasme ini berkorelasi dengan faktor demografis; generasi muda dan individu dengan pendapatan serta pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih sadar dan antusias terhadap AI dibandingkan kelompok usia tua atau populasi di negara berkembang.

Dalam sektor pendidikan formal, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) telah memperkenalkan domain baru untuk asesmen PISA 2029 yang disebut Media and Artificial Intelligence Literacy (MAIL). Inisiatif ini bertujuan mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam berinteraksi, berkreasi, dan mengelola AI, yang didukung oleh kerangka kerja seperti AILit Framework.

Praktik Terbaik (Best Practices)

Literatur akademik dan analisis kebijakan menyarankan sejumlah pendekatan untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam pendidikan dan memitigasi dampak negatifnya.

Identifikasi Masalah dan Tujuan Spesifik

Prinsip utama dalam penerapan teknologi pendidikan adalah penggunaannya harus bertujuan untuk memecahkan masalah pedagogis yang teridentifikasi, bukan sekadar mengikuti tren. Teknologi disarankan hanya digunakan ketika fungsinya terbukti lebih baik daripada metode pengajaran konvensional untuk materi tertentu. Justin Kulesza dkk. (2011) menekankan pentingnya "kompromi yang tercerahkan" (enlightened compromise), di mana institusi memahami kapan dan bagaimana teknologi harus digunakan, serta berani tidak menggunakannya jika mengganggu proses belajar.

Peran Instruktur dan Pedagogi

Efektivitas teknologi sangat bergantung pada kreativitas dan kecerdikan instruktur dalam merancang aktivitas pembelajaran, bukan pada kecanggihan perangkat itu sendiri. Praktik pengajaran yang disarankan meliputi:

  • Interaksi Aktif: Menghindari penggunaan perangkat lunak presentasi (seperti PowerPoint) secara pasif, seperti sekadar membaca teks dari salindia (slides), yang dapat memperumit penyampaian materi tanpa nilai tambah.
  • Manajemen Kelas: Menetapkan batasan penggunaan teknologi oleh siswa untuk mencegah aktivitas non-akademik di dalam kelas.
  • Fokus pada Konten: Menggunakan media singkat (seperti video pendek) untuk ilustrasi topik daripada menggantikan seluruh kuliah dengan presentasi multimedia.

Literasi Kritis

Dalam konteks AI, praktik terbaik bergeser dari sekadar kompetensi teknis menuju pemikiran kritis. Pendidikan yang efektif tidak hanya mengajarkan siswa cara menggunakan AI, tetapi juga mengajarkan mereka untuk mempertanyakan sistem tersebut, termasuk memahami bias algoritma dan implikasi etisnya. Literasi media dan AI ditekankan sebagai kompetensi untuk membedakan informasi kredibel dari misinformasi, serta memahami bagaimana algoritma membentuk konsumsi konten.

Tantangan dan Kritik

Penerapan teknologi dan AI dalam pendidikan menghadapi berbagai kritik terkait dampak psikologis, kesetaraan, dan motivasi komersial.

Distraksi dan Penurunan Partisipasi

Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran teknologi seluler dan laptop di ruang kelas dapat meningkatkan gangguan (distraction) dan beban kognitif (cognitive overload) karena adanya multi-tasking. Penggunaan perangkat di kelas berkorelasi negatif dengan partisipasi siswa; teknologi dapat menciptakan hambatan fisik dan logis antara instruktur dan siswa, serta menghambat aliran diskusi kritis. Fenomena ini juga berdampak pada siswa lain di sekitarnya yang mungkin terganggu oleh aktivitas layar rekan mereka.

Performativitas dan Komersialisasi

Kritik terhadap standardisasi literasi AI, seperti melalui PISA, menyoroti risiko "performativitas," di mana sekolah terdorong untuk "mengajar demi tes" (teach to the test) demi peringkat global, alih-alih fokus pada kebutuhan pendidikan yang substantif. Ben Williamson dari University of Edinburgh memperingatkan bahwa integrasi wajib AI di sekolah sering kali melayani kepentingan pasar perusahaan teknologi pendidikan (edtech) yang melihat sektor ini sebagai peluang ekonomi besar.

Kesenjangan Digital dan Bias Budaya

Terdapat kekhawatiran mengenai ekuitas dalam adopsi standar teknologi global. Negara berpenghasilan rendah dengan infrastruktur digital terbatas mungkin tertinggal dalam perlombaan literasi AI, yang berpotensi memperdalam kesenjangan digital global. Selain itu, kerangka kerja pendidikan yang dikembangkan oleh institusi Barat (seperti OECD dan Komisi Eropa) dikritik karena menerapkan model pendidikan Barat ke seluruh dunia tanpa mempertimbangkan konteks lokal dan perbedaan budaya.