Bahaya Data Pribadi Bocor
Menghindari data pribadi yang bocor mungkin sangatlah sulit karena, itu di luar kontrol pengguna, namun ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasinya. Salah satu yang terpenting adalah sebisa mungkin hindari untuk membagikan informasi pribadi secara detail terutama di media sosial.
Melengkapi profil media sosial memang diperlukan namun ada baiknya untuk secukupnya saja. Selanjutnya, ganti password untuk berbagai layanan secara berkala dan gunakan 2FA atau Two Factor Authentication untuk keamanan berlapis. Terakhir, jangan mudah percaya dengan link yang dibagikan via email atau SMS dan abaikan telepon dari nomor asing terutama yang tiba-tiba meminta kode OTP.
Menebak Password
Masih banyak pengguna internet yang menggunakan tanggal lahir sebagai password atau kata kunci untuk mengakses akun email dan media sosial. Dengan mengetahui tanggal lahir korban, peretas bisa saja membuka dan membajak akun korban.
Oleh karenanya, pengguna Internet disarankan untuk tidak menggunakan tanggal lahir sebagai password dan rutin menggantinya.
Selain itu, netizen juga disarankan mengaktifkan sistem pengamanan two factor authentication (TFA) dengan menggunakan one time password (OTP) melalui APP.
Mengakses Pinjaman Online
Data pribadi kita juga bisa disalahkgunakan oleh peretas untuk mengajukan pinjaman online (pinjol). Biasanya korban baru tersadar setelah muncul tagihan di akhir bulan.
Parahnya lagi, data tersebut juga bisa disebar ke sejumlah orang dan situs dengan status sebagai orang yang terlibat utang. Pada kasus ini sudah semakin banyak yang menjadi korban PINJOL gara-gara data KTP, Selfi KTP ini bocor.
Selain membobol akun dompet digital, nomor HP yang bocor juga bisa dimanfaatkan peretas untuk berpura-pura sebagai pemilik nomor asli. Kasus ini cukup sering terjadi di mana pelaku menggunakan nomor HP korban untuk melakukan hal-hal seperti meminjam uang ke anggota keluarga.
Di samping nomor HP, KTP yang bocor juga rentan disalahgunakan untuk mengajukan pinjol atau pinjaman online di aplikasi atau layanan yang punya sistem keamanan kurang baik. Ini tentu sangat merugikan korban di mana suatu saat mereka bakal disalahkan untuk sesuatu yang tidak mereka lakukan.
Mengakses akun media sosial
Tidak sulit untuk melakukan pembobolan akun media sosial apabila si peretas sudah mengetahui alamat email korban dan informasi-informasi penting lainnya, terutama tanggal lahir. Peretas bisa menebak-nebak password atau kata kunci akun media sosial korban mereka dan jika beruntung, bisa saja mendapati jika tanggal lahir korban merupakan passwordnya. Karenanya, sangat disarankan untuk tidak menggunakan informasi pribadi seperti tanggal lahir, tempat lahir, nomor HP dan semacamnya untuk digunakan sebagai password media sosial
Target Politik atau Iklan
Data-data personal yang diambil bisa dipakai untuk rekayasa sosial hingga profiling (membuat profil pengguna). Misalnya demografi penduduk berdasarkan umur, lokasi, hobi, hingga jenis kelamin.
Kegiatan ini bisa digunakan sebagai cara untuk melakukan sosialisasi politik maupun target iklan di media sosial.
Bobol Layanan Keuangan
Data nomor telefon dan sebagainya bisa digunakan untuk membobol akun layanan perbankan. Dengan memiliki segala macam detail pengguna, pembobol bisa menggunakan metode 'sim swap fraud' untuk membobol mobile banking.
Pelaku mengaku sim card korban sebagai miliknya dan meminta operator membuatkan sim card dengan nomor yang sama.
Database Telemarketing
Data nomor telefon juga bisa diperjualbelikan untuk kepentingan telemarketing. Maka tak heran jika seringkali kita mendapat panggilan telepon dan ditawarkan sebuah jasa atau produk, sementara kita sendiri tak pernah berhubungan dengan perusahaan tersebut.