Bahasa Indonesia: Latar, karakter, atau fenomena dengan kosakata
Appearance
Kosakata dan Karakter (Tokoh dan Penokohan)
Dalam analisis karya fiksi seperti cerita pendek (cerpen) dan hikayat, kosakata memiliki peran penting dalam mendefinisikan dan memahami karakter.
a. Identifikasi Perwatakan Melalui Kata Kunci
Pemahaman karakter didapatkan melalui penokohan (cara penulis menggambarkan tokoh) yang bisa dibagi menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan tokoh campuran. Untuk menganalisis tokoh dan perwatakannya, pembaca diminta untuk:
- Mencari arti kosakata yang muncul dalam konteks cerita untuk memahami situasi yang dialami tokoh. Contohnya, dalam analisis cerpen "Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon," siswa diminta mencari arti kata seperti debat, merubut, moncong, popor, langgar, laknatullah, gugur, bias, ajal, kekang, pendiangan, kacau balau, dicampakkan, dan syahid untuk memahami konteks narasi sejarah dan tindakan tokoh seperti Ustad Syamsuri dan Rahing.
- Dalam cerpen "Tukang Cukur," kosakata yang dicari seperti reyot, compang-camping, memaki-maki, dan berkeliaran berfungsi untuk menggali unsur intrinsik, termasuk perwatakan tokoh, tema, dan latar.
- Dalam analisis cerpen, tokoh utama didefinisikan sebagai tokoh yang ditampilkan secara terus-menerus atau paling sering diceritakan, sementara tokoh tambahan dimunculkan hanya sekali atau beberapa kali. Kosakata yang digunakan penulis (seperti kata ganti 'aku' atau 'dia') juga menentukan sudut pandang pencerita—orang pertama atau orang ketiga—yang merupakan cara penulis menggambarkan kedudukannya dalam cerita.
b. Karakter dalam Biografi
Dalam teks nonfiksi seperti biografi, pemahaman karakter Mohammad Hatta atau Ki Hadjar Dewantara sangat bergantung pada unsur kebahasaan. Ini mencakup:
- Penggunaan kata ganti (pronomina) orang ketiga tunggal (ia, dia) yang mengacu pada tokoh yang dikisahkan.
- Penggunaan kata kerja material yang menunjukkan aktivitas fisik yang dilakukan oleh tokoh.
- Penggunaan kata sifat (adjektiva) untuk menjelaskan atau membuat kata benda/kata ganti orang menjadi lebih spesifik, seperti penulis andal atau sifat komunikatif, tajam, dan patriotik. Kata sifat ini secara langsung membentuk gambaran watak tokoh.
Kosakata dan Latar (Setting)
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, dan acuan yang berkaitan dengan tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam karya sastra. Kosakata, terutama yang bersifat deskriptif, esensial untuk membangun latar.
a. Latar dalam Karya Sastra (Cerpen dan Drama):
- Untuk memahami cerpen berlatar sejarah, pembaca harus memahami latar belakang peristiwa sejarah yang mendasari cerita tersebut. Pemahaman ini melibatkan penelusuran fakta-fakta sejarah (seperti peristiwa seputar kemerdekaan di Sulawesi Selatan, Westerling, atau Depot Speciale Troepen) yang dapat dianggap sebagai kosakata atau istilah spesifik dalam konteks sejarah.
- Dalam drama, latar (setting) adalah penggambaran latar kejadian, yang bisa berupa latar tempat, waktu, dan suasana. Latar ini digambarkan melalui petunjuk teknis (teks samping) dan dialog.
- Gaya bahasa—yang merupakan penggunaan kosakata yang tepat—berfungsi untuk menampilkan suasana tertentu (sedih, gembira, menyeramkan, romantis, atau penuh sindiran) yang mendukung jalan cerita.