Jump to content

J.611000.003.02: Pemilihan Topologi dan Penempatan Perangkat Jaringan

From Wiki
Revision as of 15:13, 21 December 2025 by Kangtain (talk | contribs) (Created page with "Pemilihan topologi jaringan dan penempatan perangkat merupakan proses menentukan susunan fisik dan logis dari elemen-elemen jaringan komputer untuk memastikan konektivitas yang efisien. Keputusan ini dipengaruhi oleh variabel utama seperti jangkauan geografis area yang akan dicakup dan estimasi jumlah pengguna (''end devices'') yang akan terhubung. Topologi yang tepat menentukan bagaimana perangkat saling berkomunikasi dan berbagi sumber daya seperti data dan pencetak....")
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)

Pemilihan topologi jaringan dan penempatan perangkat merupakan proses menentukan susunan fisik dan logis dari elemen-elemen jaringan komputer untuk memastikan konektivitas yang efisien. Keputusan ini dipengaruhi oleh variabel utama seperti jangkauan geografis area yang akan dicakup dan estimasi jumlah pengguna (end devices) yang akan terhubung. Topologi yang tepat menentukan bagaimana perangkat saling berkomunikasi dan berbagi sumber daya seperti data dan pencetak.

Jenis Topologi Berdasarkan Skala dan Konektivitas

Dalam merancang arsitektur jaringan, berbagai jenis topologi digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan jarak dan kapasitas pengguna yang berbeda:

  • Topologi Star Topologi ini menghubungkan setiap komputer ke satu titik pusat (biasanya switch atau hub). Model ini umum digunakan di lingkungan rumah atau kantor karena kemudahan pengelolaan dan deteksi kesalahan,. Jika terjadi gangguan pada satu jalur kabel, koneksi ke perangkat lain tidak terganggu, namun ketergantungan pada perangkat pusat menjadi titik kegagalan tunggal.
  • Topologi Tree Dikenal juga sebagai topologi hierarkis, model ini menggabungkan karakteristik topologi Bus dan Star. Topologi Tree memungkinkan pengembangan jaringan yang lebih besar dan mencakup jarak yang lebih jauh dibandingkan topologi dasar lainnya. Struktur ini membagi jaringan menjadi tingkatan-tingkatan yang memudahkan manajemen pada skala besar, seperti di kampus universitas.
  • Topologi Mesh Pada topologi ini, setiap perangkat terhubung secara langsung ke perangkat lain. Hal ini memberikan redundansi yang tinggi; jika satu jalur terputus, data dapat dikirim melalui jalur lain. Meskipun menawarkan keandalan komunikasi yang tinggi, topologi ini membutuhkan biaya instalasi yang besar dan proses konfigurasi yang rumit karena banyaknya kabel yang dibutuhkan.
  • Topologi Wireless (Infrastruktur dan WDS) Untuk jaringan nirkabel, mode infrastruktur menggunakan Access Point (AP) sebagai pusat untuk melayani komunikasi dan menghubungkan ke sistem distribusi kabel (backbone), yang memungkinkan cakupan area yang lebih luas dibandingkan mode Ad-Hoc. Untuk memperluas jangkauan tanpa kabel tambahan, sistem Wireless Distribution System (WDS) dapat digunakan dengan menghubungkan dua atau lebih Access Point.

Pertimbangan Jarak dan Fisik

Jarak fisik antara perangkat dan kondisi lingkungan merupakan faktor krusial dalam penempatan perangkat jaringan:

  • Klasifikasi Area Jaringan Berdasarkan luas area, jaringan dikategorikan menjadi Local Area Network (LAN) untuk area kecil seperti gedung, Metropolitan Area Network (MAN) untuk skala kota, dan Wide Area Network (WAN) untuk lintas negara atau benua.
  • Jangkauan Nirkabel Standar IEEE 802.11 memiliki batasan jarak jangkauan yang berbeda. Sebagai contoh, standar 802.11n memiliki jangkauan tipikal dalam ruangan sekitar 70 meter dan luar ruangan sekitar 230 meter. Hambatan fisik seperti dinding beton atau partisi kaca dapat mempengaruhi kualitas sinyal.
  • Survei Lokasi (Site Survey) Sebelum instalasi, survei teknis diperlukan untuk memetakan kondisi infrastruktur, seperti ketersediaan jalur kabel antar lantai (shaft), posisi sumber listrik, dan hambatan sinyal. Data titik koordinat (GPS) juga dicatat untuk keperluan instalasi nirkabel jarak jauh atau Point-to-Point.

Pertimbangan Kapasitas Pengguna

Jumlah pengguna mempengaruhi pemilihan skema pengalamatan (addressing) dan manajemen lalu lintas data:

  • Pengalamatan IP dan Subnetting Pemilihan kelas IP Address (A, B, atau C) disesuaikan dengan jumlah host yang akan terhubung. Metode Classless Inter-Domain Routing (CIDR) dan Variable Length Subnet Mask (VLSM) digunakan untuk memecah jaringan menjadi subnet-subnet yang lebih kecil guna efisiensi alamat IP,. Identifikasi kebutuhan pengguna (jumlah PC, laptop, dan gawai) dilakukan untuk menghitung estimasi total perangkat yang akan membebani jaringan.
  • Kepadatan Trafik Pada topologi tertentu seperti Bus, penambahan jumlah perangkat dapat menurunkan kinerja jaringan secara signifikan dan meningkatkan risiko tabrakan data (collision). Sebaliknya, penggunaan switch pada topologi Star memungkinkan setiap host mendapatkan bandwidth penuh dan meminimalisir tabrakan data.

Kelebihan dan Kekurangan

Setiap pendekatan topologi memiliki implikasi teknis dan operasional:

  • Efisiensi vs Biaya: Topologi Bus dinilai murah dan mudah diimplementasikan untuk jaringan kecil, namun kinerjanya menurun jika pengguna bertambah. Topologi Star dan Tree menawarkan skalabilitas yang lebih baik namun memerlukan biaya perangkat pusat (hub/switch) yang lebih tinggi.
  • Fleksibilitas: Jaringan nirkabel (WLAN) menawarkan fleksibilitas tinggi bagi pengguna untuk bergerak di dalam area cakupan, namun memiliki kecepatan transfer data yang lebih lambat dibandingkan jaringan kabel.
  • Redundansi: Topologi Mesh memberikan keamanan koneksi tertinggi karena jalur ganda, namun sulit dalam pengelolaan dan instalasi fisik.