Jump to content

Mikrotik: Konfigurasi Dasar

From Wiki
Revision as of 11:40, 7 September 2025 by Kangtain (talk | contribs)

Pertama, sebagai pengantar, perlu dipahami bahwa Mikrotik RouterOS adalah sistem operasi khusus yang dirancang untuk mengelola jaringan, menawarkan kemudahan implementasi, konfigurasi, dan integrasi dengan perangkat lain. Pelatihan dasar Mikrotik bertujuan agar peserta mampu membuat router Mikrotik dan melakukan administrasi jaringan sederhana. Modul ini ditulis untuk membantu pengguna awam memahami konsep router Mikrotik secara fundamental dan menggunakan fiturnya.

I. Konfigurasi Dasar Router Mikrotik

Konfigurasi dasar Mikrotik merupakan fundamental dalam membangun jaringan dan biasanya mencakup 12 poin penting yang selalu dilakukan di awal pengaturan router.

1. Identitas Router (Router Identity)

Konsep: Memberikan nama unik pada router (hostname) sangat penting untuk membedakan satu router dengan yang lain, terutama dalam jaringan besar yang memiliki banyak perangkat Mikrotik. Nama default Mikrotik adalah "MikroTik".

Cara Konfigurasi (Winbox): Masuk ke menu System kemudian Identity. Ubah nama default menjadi nama yang diinginkan, lalu klik Apply dan OK.

Cara Konfigurasi (CLI): Gunakan perintah /system identity set name=NamaRouterAnda. Perubahan nama akan langsung terlihat pada tampilan konsol atau Winbox.

2. Penamaan Interface (Interface Naming)

Konsep: Mengganti nama interface standar (misalnya, ether1, ether2) menjadi nama yang lebih deskriptif (misalnya, WAN, LAN, Hotspot) akan mempermudah identifikasi fungsi masing-masing interface dalam topologi jaringan.

Cara Konfigurasi (Winbox): Masuk ke menu Interfaces, lalu klik dua kali pada interface yang ingin diubah namanya dan masukkan nama baru, kemudian klik Apply dan OK.

Cara Konfigurasi (CLI): Gunakan perintah /interface ethernet set ether1 name=1.Internet untuk mengubah nama interface ether1 menjadi 1.Internet. Anda juga dapat menonaktifkan (disable) interface yang tidak digunakan untuk alasan keamanan.

3. Penetapan IP Address (IP Address Assignment)

Konsep: IP Address adalah alamat yang digunakan oleh perangkat jaringan untuk berkomunikasi satu sama lain. Penetapan IP Address pada setiap interface Mikrotik sangat krusial agar router dapat terhubung ke jaringan yang berbeda. IP Address dapat ditetapkan secara statik (manual) atau dinamis (otomatis melalui DHCP).

Cara Konfigurasi IP Statik (Winbox): Masuk ke menu IP kemudian Addresses. Klik tombol + untuk menambahkan IP baru. Masukkan Address (IP dan netmask dalam format CIDR, contoh: 192.168.1.1/24), kolom Network dapat dikosongkan jika netmask sudah disertakan di kolom Address, lalu pilih Interface yang akan diberi IP Address.

Cara Konfigurasi IP Statik (CLI): Gunakan perintah /ip address add address=192.168.1.2/24 interface=ether1.

DHCP Client: Router Mikrotik secara default dapat mengaktifkan fungsi DHCP Client pada ether1 untuk mendapatkan IP Address secara otomatis dari ISP atau modem yang berfungsi sebagai DHCP Server. Ini memungkinkan router langsung terhubung ke internet tanpa konfigurasi IP manual di ether1.

4. Konfigurasi DNS (Domain Name System)

Konsep: DNS Server berfungsi untuk menerjemahkan nama domain menjadi IP Address, karena komunikasi jaringan menggunakan IP Address.

Cara Konfigurasi (Winbox): Masuk ke menu IP kemudian DNS. Isi Servers dengan IP DNS dari ISP atau DNS publik (misalnya, 8.8.8.8 dan 8.8.4.4). Centang (checklist) Allow Remote Requests agar router dapat berfungsi sebagai DNS Server bagi klien di jaringan lokal.

Cara Konfigurasi (CLI): Gunakan perintah /ip dns set servers=1.1.1.254,2.2.2.254 allow-remote-requests=yes.

5. Default Route (Default Gateway)

Konsep: Default route adalah jalur yang digunakan oleh router untuk mengirimkan paket ke jaringan yang tidak dikenal atau ke internet. Ini merupakan "gerbang" utama router menuju internet.

Cara Konfigurasi (Winbox): Masuk ke menu IP kemudian Routes. Klik tombol +. Isi Dst. Address dengan 0.0.0.0/0 (menunjukkan semua jaringan) dan Gateway dengan IP Address router tujuan (misalnya, IP modem ISP).

Cara Konfigurasi (CLI): Gunakan perintah /ip route add gateway=11.1.1.1. Jika DHCP Client aktif, default route mungkin sudah terisi secara dinamis.

6. Firewall NAT (Network Address Translation)

Konsep: NAT diperlukan agar perangkat di jaringan lokal dengan IP private dapat mengakses internet yang menggunakan IP public. Teknik masquerade adalah teknik NAT yang paling umum, secara otomatis mengganti IP private klien menjadi IP public router saat keluar ke internet.

Cara Konfigurasi (Winbox): Masuk ke menu IP kemudian Firewall, pilih tab NAT. Klik + untuk membuat rule baru. Pilih Chain: srcnat, Out. Interface: ether1 (atau interface yang terhubung ke internet), dan Action: masquerade.

Cara Konfigurasi (CLI): Gunakan perintah /ip firewall nat add chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade.

II. Konsep Dasar IP Addressing dan Subnetting

Pemahaman IP Addressing dan Subnetting adalah fundamental dalam perancangan jaringan.

1. IP Address

Definisi: IP Address (Internet Protocol Address) adalah deretan angka biner 32-bit (untuk IPv4) atau 128-bit (untuk IPv6) yang digunakan sebagai alamat identifikasi unik untuk setiap host (komputer atau perangkat) dalam jaringan internet berbasis TCP/IP.

Fungsi: IP Address memungkinkan pertukaran data antara pengirim dan penerima yang sesuai di jaringan komputer.

2. Kelas IP Address

Pada tahap awal pengembangan Protokol Internet, arsitektur jaringan dibagi menjadi classful (kelas A, B, C, D, dan E) untuk penugasan jaringan. Kelas A, B, dan C digunakan untuk pengalamatan unicast universal, dengan masing-masing kelas menggunakan oktet tambahan berturut-turut di pengidentifikasi jaringan, sehingga mengurangi jumlah host di kelas orde tinggi (B dan C).

3. Subnet Mask

Definisi: Subnet Mask adalah istilah teknologi informasi yang fungsinya untuk membedakan Network ID dengan Host ID. Setiap host dalam jaringan TCP/IP membutuhkan subnet mask.

Fungsi: Menentukan berapa banyak bit dalam IP Address yang merupakan bagian Network ID dan berapa yang merupakan bagian Host ID.

4. Subnetting

Definisi: Subnetting adalah proses untuk membagi atau memecah jaringan (network) menjadi beberapa jaringan kecil (subnetwork). Ini adalah teknik di mana administrator membuat dan menambahkan route secara manual pada routing table.

Tujuan:

  • Efisiensi penggunaan IP Address.
  • Mengurangi kepadatan traffic jaringan.
  • Memudahkan pengelolaan jaringan.
  • Memotong jumlah host yang dapat terhubung ke jaringan untuk alasan keamanan.

Metode: Metode yang umum digunakan saat ini adalah VLSM (Variable Length Subnet Mask). Proses pembentukan subnet menggunakan metode VLSM dimulai dengan pendefinisian jumlah host yang akan tergabung dalam subnet tersebut, lalu menentukan subnet mask yang akan digunakan.

Perhitungan Subnet (Contoh /24):

  • Subnet Mask: Untuk /24, bilangan binernya adalah 11111111.11111111.11111111.00000000, yang jika dikonversi ke desimal menjadi 255.255.255.0.
  • Network Address: Diperoleh dengan melakukan operasi AND biner antara IP Address dan Subnet Mask. Contoh untuk 192.168.1.1/24 adalah 192.168.1.0.
  • Broadcast Address: Diperoleh dengan mengganti bit host yang semuanya 0 pada Network Address menjadi 1. Contoh untuk 192.168.1.0/24 adalah 192.168.1.255.
  • Host Range: Rentang IP Address yang dapat digunakan untuk host. First Useable Host Address adalah Network Address + 1, dan Last Useable Host Address adalah Broadcast Address - 1. Contoh untuk 192.168.1.0/24 adalah 192.168.1.1 sampai 192.168.1.254, dengan jumlah maksimal host sebanyak 254.

III. Evaluasi Hasil Konfigurasi Mikrotik melalui Uji Konektivitas

Setelah melakukan konfigurasi, penting untuk memverifikasi bahwa jaringan berfungsi seperti yang diharapkan.

1. Ping

Fungsi: Perintah ping digunakan untuk menguji konektivitas antara dua perangkat di jaringan. Ini memverifikasi apakah IP Address berhasil didapatkan sesuai konfigurasi dan apakah ada balasan dari perangkat tujuan.

Penggunaan (Router Mikrotik): Melalui New Terminal di Winbox atau konsol, ketik ping alamat_ip_tujuan (misalnya, ping 192.168.1.2 ke klien atau ping 8.8.8.8 ke internet atau ping www.google.com untuk menguji DNS).

Penggunaan (Client PC): Dari Command Prompt atau terminal klien, ketik ping alamat_ip_tujuan (misalnya, ping 192.168.1.1 ke router atau ping 8.8.8.8 ke internet). Hasil reply menunjukkan koneksi berhasil, sementara time out atau destination network unreachable menunjukkan masalah konektivitas.

2. Traceroute (atau trace di Mikrotik CLI)

Fungsi: Digunakan untuk melacak jalur (jumlah hop) yang dilalui paket data dari sumber ke tujuan. Ini membantu mengidentifikasi di mana letak masalah jika ada kegagalan konektivitas.

Penggunaan (Mikrotik CLI): Ketik trace alamat_ip_tujuan.

Interpretasi: Menampilkan daftar gateway atau router yang dilewati paket hingga mencapai tujuan.

3. Monitoring Tools

Torch: Fitur di Mikrotik yang dapat memperlihatkan alokasi upload maupun download secara real-time untuk memantau penggunaan bandwidth dari setiap user atau interface.

Graphing: Menampilkan penggunaan bandwidth dalam bentuk grafik yang dapat diakses melalui web browser. Memungkinkan pemantauan statistik interface dan resource router secara visual. Untuk mengaktifkannya, pastikan layanan web (HTTP) di router dalam posisi enable.

Dengan menguasai konfigurasi dasar ini dan terampil dalam melakukan uji konektivitas, siswa akan memiliki landasan yang kuat untuk membangun dan mengelola jaringan sederhana menggunakan router Mikrotik.