Jump to content

Pendidikan Agama Islam:Membangun Paradigma Qurani

From Wiki
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)

Al-Quran merupakan sumber utama ajaran Islam. Ia adalah satu-satunya kitab suci yang masih asli. Isi ajarannya lengkap dan sempurna. Inti ajaran Al-Quran adalah pedoman hidup bagi manusia dalam upaya meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Quran mengarahkan para pembacanya untuk berjalan di atas shirāthal mustaqīm (Jalan Lurus Allah Swt) dan mengakhiri tugas kehidupan secara ḫusnul khātimah. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk menjadikan Al-Quran tempat berkonsultasi, lalu menjadikannya sebagai suluh kehidupan.

A. Menelusuri Konsep dan Karakteristik Paradigma Qurani untuk Menghadapi Kehidupan Modern

Secara etimologis kata paradigma dari bahasa Yunani yang asal katanya adalah “para” dan “digma”.

Para mengandung arti disamping, di sebelah, dan keadaan lingkungan. “Digma” berarti sudut pandang, teladan, arketif dan ideal.

Paradigma Qurani adalah cara pandang dan cara berpikir tentang suatu realitas atau suatu permasalahan berdasarkan Al-Quran.

Secara Terminologis Paradigma Quran

adalah cara pandang dan cara berfikir tentang suatu realitas atau suatu permasalahan berdasarkan Al-Qur'an

Untuk apa Al-Quran diturunkan? Apa tujuan Al-Quran diturunkan?

Yusuf al-Qardhawi menjelaskan bahwa tujuan diturunkan Al-Quran paling tidak ada tujuh macam, yaitu:

  1. Meluruskan akidah manusia,
  2. Meneguhkan kemuliaan manusia dan hak-hak asasi manusia,
  3. Mengarahkan manusia untuk beribadah secara baik dan benar kepada Allah,
  4. Mengajak manusia untuk menyucikan rohani,
  5. Membangun rumah tangga yang sakinah menempatkan posisi terhormat bagi perempuan,
  6. Membangun umat menjadi saksi atas kemanusiaan,
  7. Mengajak manusia agar saling menolong.

Meluruskan akidah manusia

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. QS. An-Nisa : 48

Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, ayat di atas menunjukkan bahwa perbuatan syirik merupakan dosa yang terbesar karena bukti-bukti keesaan-Nya sedemikian gamblang dan jelas terbentang di alam raya, bahkan dalam diri manusia sendiri. Allah SWT telah menciptakanmanusia dalam keadaan memiliki potensi untuk mengenal-Nya dan memenuhi tuntunan-tuntunan-Nya.

Meluruskan Aqidah Manusia

a. Menegakkan Pokok-Pokok Tauhid

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". QS Luqman/31: 13

b. Mensahihkan Aqidah Tentang Kenabian dan Kerasulan

Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur'an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. QS. An Nahl : 64

c. Meneguhkan keimanan terhadap akhirat dan keyakinan akan adanya balasan yang akan diterima di akhirat

“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman”. QS Ar-Rum/30: 27

d. Meneguhkan Kemuliaan Manusia dan Hak-hak Asasi Manusia

  • Meneguhkan Kemuliaan Manusia (QS. al-Isra,/17: 30)
  • Menetapkan Hak-Hak Manusia (QS Al-An‟am/6: 151, QS Al-Isra`/17: 33)
  • Meneguhkan Hak-Hak Duafa (QS Adh-Dhuha/93: 9)

C. Menggali sumber historis, filosofis, psikologis, sosiologis, dan pedagogis tentang paradigma qurani untuk kehidupan modern

Sumber historis

Sejarah Peradaban Islam → Masa Keemasan Islam

Kemajuan dalam bidang:

  • Ideologi, politik, social budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, pertahanan dan keamanan
  • Pusat Peradaban
  • Ekspansi Dakwah

Faktor-faktor yang menjadikan umat islam maju :

  • Al-Qur’an dijadikan Paradigma Kehidupan
  • Paradigma pengembangan iptek dan budaya
  • Menghadapi problematika umat islam (zaman itu)
  • Rosululloh SAW menjadi role model ( uswatun hasanah )

“ Akhlak Rosululloh adalah Al-Qur’an “. HR. Aisyah r.a

“ Sesungguhnya engkau Muhammad ada diatas akhlak yang agung ”. QS A-Qalam : 4

Para sahabat generasi terbaik dan generasi berikutnya ( tabi’in ) adalah generasi qur’ani → Bukti hadis :

“ Sebaik - baik generasi adalah generasiku lalu generasi berikutnya dan generasi berikutnya “. HR. Muslim

Komitmen sahabat dan tabi'in Menjadikan Rosululloh Sebagai Panutan

“Apa-apa yang Rosulullah datangkan untuk kamu, maka ambillah dan apa-apa yang Rosulullah melarangnya, maka tinggalkanlah “. HR. Muslim

Toshihiko Izutsu (1993) meneliti konsep-konsep etika religious dalam al-qur’an :

5 etik yang perlu dikembangkan manusia : Murah hati, Keberanian, Kesetiaan Kejujuran dan Kesabaran Konsep kemunafikan religious, baik dan buruk Meliputi : salih, birr, fasad, ma’ruf dan munkar, khair dan syarr, husn dan qubh, fakhisyah atau fawakhisy. Tayyib dan khabis, halal dan haram

Paradigma Qurani sebagai satu-satunya Model untuk Menghadapi Kehidupan Modern

Bagi umat Islam kemodernan tetap harus dikembangkan di atas paradigma Al-Quran. Kita maju bersama Al-Quran, tidak ada kemajuan tanpa AlQuran. Al-Quran bukan hanya sebagai sumber inspirasi, tetapi ia adalah landasan, pedoman paradigma dan guide dalam mengarahkan kemodernan agar dapat menyejahterakan manusia dunia dan akhirat.

Apa arti kemajuan Iptek kalau manusia tidak makrifat kepada Allah?

Imam Junaid al-Bagdadi menyatakan, “Meskipun orang tahu segala sesuatu tetapi jika dia tidak mengenal Allah sebagai Tuhannya, maka identik dengan tidak tahu sama sekali”. Junaid ingin menyatakan bahwa landasan IPTEK adalah ma’rifatullāh, dan Al-Quran adalah paradigma untuk pengembangan IPTEK.

Kemajuan dicapai dengan penguasaan IPTEK

Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah :

  • Kholifah AlMansur, Al-Ma’mun ( 813-833)
  • Harun Ar- Rasyid (786-809) Mendorong masyarakat untuk menguasai dan mengembangkan IPTEK.
  • Al-Mansur memerintahkan penerjemahan buku-buku ilmiah dari bahasa yunani ke dalam bahasa arab.
  • Harun Ar- Rasyid memerintahkan Yuhana untuk menterjemahkan buku-buku kuno tentang kedokteran.
  • Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari menterjemahkan risalah india dalam bidang astronomi “ Sidhanta”.
  • Yahya ibn Adi (974) Aristoteles ( categories, Sophist, Poetics, Metaphiysics )
  • Abu Ali Isa Ibnu Ishaq Ibn Zera (1008) Plato ( Timaesus dan Laws )

Sikap Penguasa yang mendukung kemajuan IPTEK dengan membangun Bait Al-Hikmah

Penghargaan terhadap ilmuwan → Hasil karya ditimbang dengan emas

Penghargaan dari sisi keimanan dan keilmuan (Para ilmuwan dan ulama)

D. Membangun Argumen tentang Paradigma Qurani sebagai satu-satunya model untuk menghadapi kehidupan modern

  • Sakib Arselan → Bukunya “ Kenapa umat islam mundur sedangkan non-muslim maju ?”.
  • Kesimpulan penulis Umat islam mundur karena meninggalkan ajarannya, sedangkan non-muslim maju justru karena meninggalkan ajarannya.

Anggapan yang salah: Maju dengan meninggalkan ajaran agama dan mengembangkan budaya sekuler, sedangkan bagi umat islam tidak perlu mengambil jalan sekulerisasi, malah sebaliknya Berkomitmen terhadap ajarannya.

Alasan umat islam tidak perlu mengambil jalan sekulerisasi, malah sebaliknya Berkomitmen terhadap ajarannya

  1. Ajaran Isalam ( Al-Quran dan hadis) bersifat syumul artinya Mencakup segala aspek kehidupan
  2. Ajaran islam bersifat rasional: sejalan dengan nalar manusia sehingga tidak bertentangan dengan IPTEK.
  3. Ajaran islam berkarakter tadarruj: bertahap dalam wurud dan implementasinya.
  4. BerTaqlilat-takaalif yang berarti tidak banyak beban, karena beragama mudah
  5. Ijaz: Redaksi al-quran dalam mengungkap persoalan, informasi, kisah dan pelajaran.

Prinsip agama masa depan dan membawa kemajuan

Prinsip umat islam dalam paradigma kemodernan

  1. IPTEK dikembangkan dalam paradigma qurani
  2. Maju bersama al-Quran, tidak ada kemajuan tanpa al-Quran
  3. Al-Quran sebagai sumber inspirasi, landasan, pedoman paradigma dan guide dalam mengarahkan kemodernan agar dapat mensejahterakan manusia di dunia dan akherat

Apa arti modern kalau tidak membawa kesejahteraan? Apa arti kemajuan iptek kalau manusia tidak makrifat kepada Alloh?

Junaid al-Baghdadi menyatakan “ Meskipun orang tahu segala sesuatu tetapi jika dia tidak mengenal Alloh sebagai tuhannya, maka identik dengan tidak tahu sama sekali”.

Landasan Iptek adalah Ma’rifatulloh dan al quran sebagai paradigma iptek → sejahtera dunia dan akherat dan rahmat bagi semua alam

IPTEK tanpa dipandu wahyu belum tentu membawa kesejahteraan, ketentraman dan kebahagiaan.

Paradigma Qurani dalam konsep dan kenyataan hidup

Dalam konsep islam, kemajuan dan kemodern yang integral adalah sesuatu yang harus diraih dan merupakan perjuangan yang tidak boleh berhenti.

Berhenti dalam proses pencapaiannya berarti berhenti dalam perjuangan, inilah sikap yang dilarang dalam islam.

Sumber norma dan etik (al –Quran dan hadis) maka Al qur an dijadikan paradigm dalam melihat dan mengembangkan segala persoalan contohnya

  • Paradigma Qurani Dalam Bidang Budaya → Masyarakat IslamiYang Tidak Sekuler Dalam Proses, Hasil
  • Paradigma Qurani Dalam Bidang Ekonomi
  1. Kegiatan EkonomiYang Bebas Dari Bunga Dan Spekulasi Yang Merugikan.
  2. Prinsip Ekonomi Islam Adalah Tidak Boleh Rugi Dan Tidak Boleh Merugikan Orang Lain (La Dharara Wa La Dhirara)
  3. Riba Dan Gharar Merupakan Sesuatu Yang Dapat Merugikan Pihak-pihak Tertentu

Kemunduran umat Islam pada abad kedelapan belas, adalah karena beberapa faktor.

  • Pertama, justru karena umat Islam meninggalkan peran Al-Quran sebagai paradigma dalam menghadapi segala persoalan.
  • Kedua, hilangnya semangat ijtihad di kalangan umat Islam.
  • Ketiga, karena umat Islam menerima paham Yunani mengenai realitas yang pada pokonya bersifat statis, sedangkan jiwa Islam bersifat dinamis dan berkembang.
  • Keempat, para ilmuwan keliru memahami pemikiran Al-Ghazali.
  • Faktor kelima, karena sikap para khalifah yang berkuasa pada zaman itu tidak mendukung pengembangan keilmuan karena takut kehilangan pengaruh yang berakibat terhadap hilangnya kekuasaan mereka.

al-Faruqi menyebutkan bahwa langkah-langkah kerja yang harus ditempuh adalah sebagai berikut.

  1. Menguasai disiplin ilmu modern
  2. Menguasai warisan khazanah Islam
  3. Membangun relevansi yang Islami bagi setiap bidang kajian atau wilayah penelitian pengetahuan modern.
  4. Mencari jalan dan upaya untuk menciptakan sintesis kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan modern.
  5. Mengarahkan pemikiran Islam pada arah yang tepat yaitu sunatullah.