Jump to content

Pendidikan Agama Islam:Bagaimana Agama Menjamin Kebahagiaan

From Wiki
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)

Menelusuri Konsep dan Karakteristik Agama Sebagai Jalan Menuju Tuhan dan Kebahagiaan

Menurut Al-Alusi, bahagia adalah perasaan senang dan gembira karena bisa mencapai keinginan/cita-cita yang dituju dan diimpikan. Pendapat lain menyatakan bahwa bahagia atau kebahagiaan adalah tetap dalam kebahagiaan, atau masuk ke dalam kesenangan dan kesuksesan.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah berpendapat bahwa kebahagiaan adalah perasaan senang dan tenteram karena hati sehat dan berfungsi dengan baik. Dengan begitu bisa berhubungan dengan Allah SWT. yang merupakan pemilik kebahagiaan, kesuksesan, kekayaan, kemuliaan, ilmu dan hikmah. Kebahagiaan dapat diraih kalau dekat dengan pemilik kebahagiaan itu sendiri, yaitu Allah SWT.

Dalam kitab Mizanul Amal, Al-Ghazali menyebut bahwa as-sa’adah (bahagia) terbagi dua :

  1. Bahagia Hakiki: bahagia ukhrawi yang diperoleh dengan modal iman, ilmu dan amal. Bahagia ini kebahagiaan abadi dan rohani.
  2. Bahagia Majasi: bahagia duniawi yang bisa didapat oleh orang beriman dan juga yang tidak beriman. Ibnu Athaillah mengatakan, “Allah memberikan harta kepada orang yang dicintai Allah dan kepada orang yang tidak dicintai Allah, tetapi Allah tidak akan memberikan iman kecuali kepada orang yang dicintai-NYA”. Kebahagiaan ini fana, tidak abadi.

Karakteristik hati yang sehat

  1. Hati menerima makanan yang berfungsi sebagai nutrisi dan obat.
  2. Selalu berorientasi ke masa depan dan akhirat.
  3. Selalu mendorong pemiliknya untuk kembali pada Allah SWT.
  4. Tidak pernah lupa dari mengingat Allah SWT (berdzikir kepada Allah SWT)
  5. Jika sesaat saja lupa kepada-NYA, segera tersadar dan kembali mendekat, berdzikir kepada-NYA
  6. Jika sudah masuk salat, maka hilanglah semua kebingungan dan kesibukan duniawinya.
  7. Perhatian terhadap waktu agar tidak hilang sia-sia melebihi kepada manusia lain dan hartanya.
  8. Hati yang sehat selalu berorientasi pada kualitas amal, bukan pada amal semata.

"Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia." HR. Bukhari dan Muslim

Hati yang sakit adalah hati yang tidak memiliki kriteria seperti penjelasan hati yang sehat sebelumnya. Hati yang sakit adalah hati yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Fungsi hati adalah untuk makrifah kepada Allah SWT, mencintai Allah SWT, rindu kepada Allah SWT dan kembali kepada-NYA.

Jika manusia mengetahui segala sesuatu tapi tidak makrifah kepada Allah SWT sebagai Tuhannya, nilainya sama saja dengan orang yang tidak mengetahui sama sekali.

Faktor-factor yang Menyebabkan Hati Manusia Menjadi Sakit, dalam kitab Thibb al-Qulub:

  1. Banyak bergaul dengan orang-orang yang tidak baik.
  2. At-Tamanni (berangan-angan)
  3. Menggantungkan diri selain kepada Allah SWT
  4. Asy-Syab’u (terlalu kenyang)
  5. Terlalu banyak tidur
  6. Berlebihan melihat hal-hal tidak berguna
  7. Berlebihan dalam berbicara

Menanyakan Alasan Mengapa Manusia Harus Beragama dan Bagaimana Agama Dapat Membahagiakan Umat Manusia?

Kunci beragama terdapat pada fitrah manusia. Fitrah adalah sesuatu yang melekat dalam diri manusia dan menjadi karakter (tabiat) manusia. Secara kebahasaan, ‘fitrah’ bermakna suci yang maksudnya suci dari dosa dan suci secara genetis.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." QS Ar-Rum/30/30

Maksud fitrah Allah dari ayat tersebut adalah bahwa manusia diciptakan Allah SWT mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid. Maksud lainnya juga bahwa setiap manusia yang lahir dibekali agama dan yang dimaksud agama adalah agama islam. Inti agama islam adalah tauhidullah. Mengganti kefitrahan yang ada dalam diri manusia sama artinya dengan menghilangkan jati diri manusia itu sendiri yang sangat tidak mungkin dan tidak boleh.

Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis dan Pedagogis tentang Pemikiran Agama sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

Secara TEOLOGIS, beragama adalah fitrah. Jika manusia hidup sesuai fitrahnya, maka ia akan bahagia. Jika sebaliknya, ia tidak akan bahagia.

Rasulallah bersabda:

Setiap banyi yang lahir berdasarkan atas fitrah (suci, Islam). Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR Bukhari-Muslim)

Secara HISTORIS, sepanjang hidup manusia, beragama merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Banyak buku yang membicarakan atau mengulas kisah mereka mencari Tuhan, seperti buku yang ditulis Ibnu Thufail. Buku itu menguraikan bahwa kebenaran bisa ditemukan manakala ada keserasian antara akal manusia dan wahyu.

Dengan akalnya, manusia mencari Tuhan dan bisa sampai kepada Tuhan. Namun penemuannya perlu konfirmasi dari Tuhan melalui wahyu agar ia dapat menemukan yang hakiki dan akhirnya ia bisa berterimakasih pada Tuhan atas segala nikmat yang diperolehnya, terutama nikmat bisa menemukan Tuhan dengan akalnya itu.

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." QS Ar-Ra'd 13:28

Secara PSIKOLOGIS, Manusia menurut Al-Qur’an adalah makhluk rohani, makhluk jasmani dan makhluk sosial. Sebagai makhluk rohani, dibutuhkan ketenangan jiwa, ketentraman hati dan kebahagiaan rohani. Kebahagiaan rohani hanya didapat jika dekat dengan pemilik kebahagiaan yang hakiki. Agar jiwa bisa dekat dengan Tuhan, maka sucikanlah hati dari segala kotoran dan sifat-sifat yang jelek.

Secara SOSIOLOGIS, Manusia adalah makhluk sosial, yang artinya manusia tidak bisa hidup sendiri dan tidak bisa mencapai tujuan hidupnya tanpa keterlibatan orang lain karena manusia membutuhkan bantuan orang lain, sebagaimana orang lain membutuhkan bantuan sesamanya.

Secara horizontal, manusia butuh berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungannya (flora dan fauna). Secara vertikal, manusia lebih butuh berinteraksi dengan zat yang menjadi sebab dirinya ada, yang artinya sebab wujud manusia ada karena Zat Yang Wujud dengan sendirinya sehingga tidak membutuhkan yang lain. Wujud hakiki adalah zat yang wujud dengan sendirinya itu. Dan wujud hakiki adalah Allah SWT.

Faktor Penyebab Manusia Harus Hidup Bermasyarakat

  1. Adanya dorongan seksual.
  2. Adanya kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang serba terbatas dan makhluk yang lemah.
  3. Adanya perasaan senang pada tiap-tiap manusia.
  4. Adanya kesamaan keturunan, teritorial, senasib, keyakinan, cita- cita, kebudayaan dan lain-lain.
  5. Manusia tunduk dan patuh terhadap aturan dan norma sosial.
  6. Perilaku manusia mengharapkan suatu penghargaan dan pengakuan dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
  7. Berinteraksi, berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan.
  8. Potensi manusia akan berkembang bila hidup di tengah-tengah manusia dan masyarakatnya.

Membangun Argumen Tentang Tauhidullah Sebagai Satu-satunya Model Beragama yang Benar

Misi utama Rasulullah SAW seperti rasul-rasul sebelumnya adalah mengajak manusia kepada Allah. “La ilaha illallah” adalah landasan teologis agama yang dibawa beliau, juga semua nabi dan rasul. Makna kalimat tersebut adalah:

  1. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT
  2. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah SWT
  3. Tidak ada yang berhak dimintai tolong / bantuan kecuali Allah SWT
  4. Tidak ada yang harus ditakuti kecuali Allah
  5. Tidak ada yang harus diminta ridhanya kecuali Allah

La ilaha illallah adalah kalimat thayyibah yang digambarkan oleh al-qur’an laksana sebuah pohon dengan akarnya tertancap ke dalam tanah, batangnya berdiri tegak dengan kokoh, dahan dan rantingnya mengeluarkan buah-buahan yang lebat dan bermanfaat untuk manusia.

Tauhidullah membebaskan manusia dari takhayul, khurafat, mitos dan bidah, menempatkan manusia pada tempat yang bermartabat, tidak menghambakan diri pada makhluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia. Manusia adalah makhluk paling mulia dan paling sempurna dari makhluk yang lain, itulah kenapa Allah SWT memberi amanah dan khilafah kepada manusia.

Menurut Said Hawa, hal yang dapat merusak Tauhidullah yang merupakan satu-satunya jalan kebahagiaan yaitu :

  1. Sifat Al-Kibr (sombong)
  2. Sifat Azh-Zhulm (kezaliman) dan Al-Kizb (kebohongan)
  3. Sikap Al-Ifsad (melakukan perusakan)
  4. Sikap Al-Ghaflah (lupa)
  5. Al-Ijram (berbuat dosa)
  6. Sikap ragu menerima kebenaran

Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Komitmen Terhadap Nilai-nilai Tauhid untuk Mencapai Kebahagiaan

Jiwa tauhid penting karena itu model dasar hidup yang dapat mengantar manusia menuju keselamatan dan kesejahteraan. Allah SWT sebagai rabb telah menanamkan jiwa tauhid ini pada seluruh manusia sejak mereka di alam arwah. Supaya jiwa tauhid berkembang, Allah SWT mengutus rasul dengan tugas utamanya menyirami jiwa tauhid agar tumbuh dan berkembang hingga menghasilkan amal saleh agar menjadi roh kehidupan dan menjadi cahaya kegelapan.

Allah SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya kami jadikan (untuk isi neraka jahannam) kebanyakan jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” QS Al-A’raf 7:179

Nilai-nilai hidup yang dibangun di atas jiwa tauhid merupakan nilai positif, nilai kebenaran dan nilai ilahi yang abadi yang mengandung kebenaran mutlak dan universal, yang menjadikan misi agama ini sebagai rahmatan ‘lil alamin, agama yang membawa kedamaian, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia lahir dan batin Nilai-nilai universal yang perlu ditanamkan dan dikembangkan agar menjadi roh kehidupan adalah :

  1. Al-Amanah (terpercaya)
  2. Al-Adalah (Keadilan)
  3. Al-Huriyyah (kemerdekaan)

Rangkuman Tentang Kontribusi Agama dalam Mencapai Kebahagiaan

  1. Agama adalah jalan menuju kebahagiaan.
  2. Tujuan hidup manusia adalah sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat, yang artinya bahagia di dunia dan akhirat. Kebahagiaan yang diimpikan adalah kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
  3. Menggapai kebahagiaan mustahil tanpa landasan agama, yaitu agama tauhidullah sebab kebahagiaan hakiki itu milik Allah SWT dan kita tidak dapat meraihnya jika tidak diberikan Allah SWT.
  4. Untuk meraih kebahagiaan, ikutilah cara-cara yang telah ditetapkan Allah SWT dalam agamanya.
  5. Jalan mencapai kebahagiaan selain yang telah digariskan Allah SWT adalah kesesatan dan penyimpangan, karena di dalamnya ada unsur syirik (landasaran teologis yang sangat keliru dan tidak diampuni).

Source

  • Sebagaian terjemah diambil dari nu.or,id