Jump to content

Pendidikan Agama Islam:Nilai-nilai Moral dan Norma-norma Agama Sebagai Salah Satu Determinan dalam Membangun Karakter Bangsa

From Wiki

Pengertian etimologis kata spirituality

Kamus Besar Bahasa Indonesia pada tema „spirit‟, „spiritual‟, dan sejenisnya. spiritual berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin) spiritualisasi dan pembentukan jiwa; Penjiwaan spiritualisme aliran filsafat yang mengutamakan kerohanian: ia menumpahkan perhatian pada ilmu-ilmu gaib, seperti mistik dan kepercayaan untuk memanggil roh orang yang sudah meninggal/spiritisme.

Pengertian etimologis kata spirituality dalam kamus bahasa Inggris atau kata ar-rūḫānī ‫الروحاني‬ dalam bahasa Arab. Bandingkan juga dengan informasi kamus Webster yang merunut asal kata spiritual dari kata benda bahasa Latin “spiritus” yang berarti „napas‟.

Kata spiritual Menurut Oxford English Dictionary, untuk memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti kata-kata berikut ini : persembahan, dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, kekudusan, sesuatu yang suci, pemikiran yang intelektual dan berkualitas, adanya perkembanga pemikiran danperasaan, adanya perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubngan dengan organisasi keagamaan.

Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar, penting, dan mampu menggerakkan serta memimpin cara berpikir dan bertingkah laku seseorang.

Pertanyaannya, mengapa pemahaman kita tentang masalah ini begitu penting?

Konsep Spiritualitas Sebagai Landasan Kebertuhanan

Doe (dalam Muntohar, 2010: 36) mengartikan bahwa spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral dan rasa memiliki. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan. Spiritualitas adalah kepercayaan akan adanya kekuatan non-fisik yang lebih besar daripada kekuatan diri kita; suatu kesadaran yang menghubungkan kita langsung kepada Tuhan: atau sesuatu unsur yang kita namakan sebagai sumber keberadaan kita.

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat As-Sajadah Ayat: 9 yang artinya:

“Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan (perasaan) hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

Roh manusia menurut Islam adalah suci, karena ia adalah karunia Ilahi yang dipancarkan dari Zat Tuhan. Roh bersemayam di dalam hati (qalb) sehingga dari hati terpancar kecerdasan, keinginan, kemampuan, dan perasaan. Ketika hati ditempati roh, maka hati menjadi bersinar dan memancarkan cahaya kebaikan Tuhan. Hati yang terpancari oleh kebaikan Tuhan disebut dengan hati nurani.

Pada dasarnya hati manusia itu bersifat Universal dengan catatan manusia itu telah mencapai titik fitrah dan terbebas dari segala paradigma dan belenggu. Dalam keadan seperti ini manusia merasakan ketenangan jiwa yang mendasari segala tingkah lakunya, dan menggunakan suara hati sebagai penuntun hidupnya menuju sebuah kebenaran, dan semua itu bersumber dari yang maha kuasa yaitu Allah.

Alasan Mengapa Manusia Memerlukan Spiritualitas

Ada enam alasan mengapa kita membutuhkan spiritualitas untuk tetap mampu menjalani hidup di dunia ini :

  1. Karena manusia adalah makhluk ciptaan yang terbatas, yang memiliki kebebasan untuk memilih.
  2. Untuk menjaga integritas diri kita di tengah realita dunia yang fana dan tak menentu.
  3. Untuk mengembangkan hati nurani yang takut akan Tuhan.
  4. Untuk mengendalikan dorongan ego dalam diri kita.
  5. Menyadarkan bahwa panggilan hidup kita adalah anugerah pemberian dari Tuhan.
  6. Sarana untuk melatih kepekaan diri kita di dalam menggali makna kenyataan hidup.

Menggali Sumber Psikologis, Sosiologis, Filosofis, dan Teologis tentang Konsep Ketuhanan

1. Bagaimana Tuhan dirasakaan kehadirannya dalam Perspektif Psikologis?

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu).

Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :

  1. Lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
  2. Lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
  3. Lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain bahkan daripada dirinya sendiri.

Analoginya Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain saat itulah kehadiran Allah dapat kita rasakan.

2. Bagaimana Tuhan Disembah Masyarakat Dalam Perspektif Sosiologis?

Dalam Sosiologis, Agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu. Berkaitan dengan pengalaman manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Oleh karena itu, setiap perilaku yang diperankan akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran Agama yang dianut.

3. Bagaimana Tuhan Dirasionalisasikan Dalam Perspektif Filosofis

Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, yaitu memakai apa yang disebut sebagai pendekatan filosofis. Bagi orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi), akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya.

Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan.

4. Konsep tentang Tuhan dalam Perspektif Teologis

Dalam perspektif teologis, masalah ketuhanan, kebenaran, dan keberagamaan harus dicarikan penjelasannya dari sesuatu yang dianggap sakral dan dikultuskan karena dimulai dari atas (dari Tuhan sendiri melalui wahyu-Nya). Artinya, kesadaran tentang Tuhan, baik-buruk, cara beragama hanya bisa diterima kalau berasal dari Tuhan sendiri (kitab suci).

Tuhan memperkenalkan diri-Nya, konsep baik-buruk, dan cara beragama kepada manusia melalui berbagai pernyataan, baik yang dikenal sebagai pernyataan umum, seperti penciptaan alam semesta, pemeliharaan alam, penciptaan semua makhluk, maupun pernyataan khusus, seperti yang kita kenal melalui firman-Nya dalam kitab suci.

Membangun Argumen tentang Cara Manusia Meyakini dan Mengimani Tuhan

Iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari seluruh iman yang tergabung dalam rukun iman. Karena iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari keimanan yang lain, maka keimanan kepada Allah SWT harus tertanam dengan benar kepada diri seseorang.

Ada dua cara beriman kepada Allah SWT:

a. Bersifat Ijmali

Cara beriman kepada Allah SWT yang bersifat ijmali maksudnya adalah, bahwa kita mempercayai Allah SWT secara umum atau secara garis besar.

b. Bersifat Tafshili

Maksudnya adalah mempercayai Allah secara rinci. Kita wajib percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan sifat-sifat makhluk Nya.

Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Visi Ilahi untuk Membangun Dunia yang Damai

Agar manusia dapat tetap konsisten dalam kebaikan dan kebenaran Tuhan, maka manusia dituntut untuk membangun relasi yang baik dengan Tuhan. Manusia tidak akan mampu membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan apabila hidupnya lebih didominasi oleh kepentingan ragawi dan bendawi. Oleh karena itu, sisi spiritualitas harus memainkan peran utama dalam kehidupan manusia sehingga ia mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap gerak dan sikapnya.

Apabila manusia telah mampu mengasah spiritualitasnya sehingga ia dapat merasakan kehadiran Tuhan, maka ia akan dapat melihat segala sesuatu dengan visi Tuhan (Ilahi).

Visi Ilahi inilah yang saat ini dibutuhkan oleh umat manusia sehingga setiap tindak tanduk dan sikap perilaku manusia didasari dengan semangat kecintaan kepada Tuhan sebagai manifestasi kebenaran universal dan pengabdian serta pelayanan kepada sesama ciptaan Tuhan, dengan begitu akan terciptanya dunia yang damai.

Dalam Islam, setidak-tidaknya terdapat dua tujuan penciptaan manusia.

Pertama. fitrah kemanusiaan adalah menjadi hamba Allah SWT. Sifat menghamba tidak boleh ditujukan kepada siapapun selain Allah Ta’ala. Sesuai Alquran surah adz-Dzariyat ayat 56:

“Dan Aku (Allah) tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Tugas kedua berkaitan dengan konteks kehidupan empiris. Dalam surah al-Baqarah ayat 30 dijelaskan tentang tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Surah yang sama memuat dialog antara Allah dan para malaikat tentang penciptaan manusia.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’

Maknanya, di muka bumi hidup berbagai macam makhluk. Namun, hanya manusia yang menyandang fungsi pemimpin. Manusia dapat memanfaatkan segala yang tumbuh di atas bumi untuk kelangsungan hidupnya. Bagaimanapun, manusia mesti mengelola sumber daya dengan penuh tanggung jawab. Allah menciptakan keteraturan di muka bumi. Maka dari itu, manusia tidak boleh merusak harmoni yang sudah diciptakan-Nya.