Pendidikan Agama Islam:Membangun Paradigma Qurani
Al-Quran merupakan sumber utama ajaran Islam. Ia adalah satu-satunya kitab suci yang masih asli. Isi ajarannya lengkap dan sempurna. Inti ajaran Al-Quran adalah pedoman hidup bagi manusia dalam upaya meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Quran mengarahkan para pembacanya untuk berjalan di atas shirāthal mustaqīm (Jalan Lurus Allah Swt) dan mengakhiri tugas kehidupan secara ḫusnul khātimah. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk menjadikan Al-Quran tempat berkonsultasi, lalu menjadikannya sebagai suluh kehidupan.
A. Menelusuri Konsep dan Karakteristik Paradigma Qurani untuk Menghadapi Kehidupan Modern
Secara etimologis kata paradigma dari bahasa Yunani yang asal katanya adalah “para” dan “digma”.
Para mengandung arti disamping, di sebelah, dan keadaan lingkungan. “Digma” berarti sudut pandang, teladan, arketif dan ideal.
Paradigma Qurani adalah cara pandang dan cara berpikir tentang suatu realitas atau suatu permasalahan berdasarkan Al-Quran.
Secara Terminologis Paradigma Quran
adalah cara pandang dan cara berfikir tentang suatu realitas atau suatu permasalahan berdasarkan Al-Qur'an
Untuk apa Al-Quran diturunkan? Apa tujuan Al-Quran diturunkan?
Yusuf al-Qardhawi menjelaskan bahwa tujuan diturunkan Al-Quran paling tidak ada tujuh macam, yaitu:
- Meluruskan akidah manusia,
- Meneguhkan kemuliaan manusia dan hak-hak asasi manusia,
- Mengarahkan manusia untuk beribadah secara baik dan benar kepada Allah,
- Mengajak manusia untuk menyucikan rohani,
- Membangun rumah tangga yang sakinah menempatkan posisi terhormat bagi perempuan,
- Membangun umat menjadi saksi atas kemanusiaan,
- Mengajak manusia agar saling menolong.
Meluruskan akidah manusia
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa : 48 )
Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, ayat di atas menunjukkan bahwa perbuatan syirik merupakan dosa yang terbesar karena bukti-bukti keesaan-Nya sedemikian gamblang dan jelas terbentang di alam raya, bahkan dalam diri manusia sendiri. Allah SWT telah menciptakanmanusia dalam keadaan memiliki potensi untuk mengenal-Nya dan memenuhi tuntunan- tuntunan-Nya.