Jump to content

Partisi penyimpanan

From Wiki

Partisi hard disk adalah proses membagi total kapasitas penyimpanan dari sebuah drive fisik (seperti HDD atau SSD) menjadi beberapa bagian logis yang beroperasi seolah-olah sebagai drive yang terpisah. Dalam arsitektur sistem komputer, partisi sangat krusial untuk manajemen data, efisiensi ruang, dan keamanan sistem operasi.

Berikut adalah panduan teknis implementasi partisi storage, khususnya pada saat melakukan instalasi sistem operasi (berbasis GUI seperti Windows).

Detail Teknis & Prasyarat

  • Prasyarat Backup: Jika Anda melakukan partisi ulang pada komputer yang sudah berjalan, simpan (backup) seluruh data penting Anda (misalnya yang ada di Drive C) ke media eksternal untuk menghindari kehilangan data.
  • Mode Instalasi: Pada saat instalasi Windows, opsi "Upgrade" akan menggunakan partisi yang ada secara default dan Anda tidak dapat mengubahnya. Untuk melakukan konfigurasi partisi secara manual, Anda wajib memilih opsi "Custom".
  • Alokasi Otomatis Sistem: Windows dirancang untuk secara otomatis membuat partisi tambahan berukuran kecil (biasanya Drive0 Partition 1) yang digunakan untuk kebutuhan BIOS atau system boot. Partisi ini akan disembunyikan dan tidak terlihat di Windows Explorer setelah instalasi selesai.

Langkah-Langkah Implementasi (Step-by-Step)

Proses partisi ini dilakukan melalui antarmuka instalasi Windows (mode "Custom"):

  1. Pilih Unallocated Space: Pada layar pengaturan partisi, Anda akan melihat daftar hard drive yang belum dialokasikan (Unallocated Space). Klik atau sorot drive tersebut.
  2. Buat Partisi Utama (Sistem): Klik tombol "New" untuk membuat partisi baru.
  3. Tentukan Kapasitas: Masukkan besaran kapasitas yang akan dialokasikan untuk sistem operasi (biasanya dalam hitungan Megabyte/MB), kemudian klik "Apply".
  4. Konfirmasi Partisi Sistem: Akan muncul kotak pesan konfirmasi (prompt) yang memberitahukan bahwa Windows akan membuat partisi tambahan secara otomatis untuk file sistem. Klik "OK" untuk melanjutkan.
  5. Buat Partisi Kedua (Data): Sorot kembali sisa hard disk yang belum terpartisi (Unallocated Space). Klik "New", biarkan kapasitas terisi otomatis dengan sisa ruang yang ada, lalu klik "Apply".
  6. Pilih Target Instalasi: Pilih partisi utama yang baru saja Anda buat (misal: Drive0 Partition 2) sebagai tempat sistem operasi Windows diinstal, lalu klik "Next" untuk memulai proses instalasi.

Studi Kasus: Implementasi Skema 500 GB

Mari kita ambil contoh riil di lapangan. Misalkan Anda memiliki hard disk dengan total kapasitas 500 GB. Praktik terbaik (best practice) dalam skenario ini adalah membaginya menjadi dua partisi utama:

  • Partisi Pertama (Drive C): Dialokasikan sebesar 150 GB khusus untuk sistem operasi Windows dan instalasi program/aplikasi.
  • Partisi Kedua (Drive D): Sisa kapasitas sebesar 350 GB dialokasikan khusus untuk menyimpan data pribadi pengguna seperti dokumen, foto, video, atau file lainnya.

Penerapan di dunia nyata: Dengan memisahkan OS (Drive C) dan data (Drive D), jika suatu saat Windows mengalami crash atau corrupt akibat serangan virus (malware) atau modifikasi sistem yang gagal, teknisi hanya perlu melakukan instalasi ulang atau pemformatan pada Drive C. Data berharga pengguna di Drive D akan tetap aman dan tidak tersentuh.

Troubleshooting Mindset: Apa yang Bisa Salah?

Sebagai teknisi, Anda harus waspada terhadap beberapa jebakan umum saat melakukan partisi:

  1. Salah Memilih Partisi Target (Data Loss): Kecerobohan terbesar adalah memformat atau menghapus (delete) partisi yang berisi data backup alih-alih partisi sistem lama. Selalu periksa label ukuran (Total Size dan Free Space) secara teliti sebelum menekan "Format" atau "Delete".
  2. Menghapus Partisi System Reserved: Mengubah atau menghapus partisi berukuran kecil yang dibuat secara otomatis oleh sistem (untuk BIOS/Boot). Jika partisi ini dihapus, komputer akan gagal melakukan booting (pesan Operating System Not Found).
  3. Kapasitas Partisi Sistem Terlalu Kecil: Mengalokasikan ruang yang terlalu minim (misal kurang dari 50GB) untuk Drive C. Seiring berjalannya waktu, cache, file temporary, dan pembaruan (Windows Update) akan membuat Drive C cepat penuh, sehingga kinerja PC menjadi sangat lambat.

Review Pemahaman

Untuk menguji penguasaan Anda terhadap implementasi storage partitioning ini, jawablah 3 pertanyaan berikut:

  1. Mengapa opsi instalasi tipe "Upgrade" tidak direkomendasikan jika kita ingin mengubah konfigurasi alokasi ukuran Drive C dan Drive D?
  2. Pada saat kita membuat partisi baru, Windows menampilkan pesan bahwa sistem akan membuat partisi tambahan. Apa fungsi teknis dari partisi tambahan (Drive0 Partition 1) yang dibuat secara otomatis tersebut?
  3. Mengacu pada studi kasus, apa rasionalisasi teknis di balik pemisahan penyimpanan fisik berkapasitas 500GB menjadi Drive C (150GB) dan Drive D (350GB)?