Sirbin:Sosok Mbah Ti dibalik Sebuah Ketentraman Hati: Difference between revisions

Created page with "Wajahnya yang teduh senantiasa menggugah kerinduan setiap orang yang sempat berjumpa dengannya. Senyum tulusnya memberikan siluet ketenangan yang menderas dihati. Namun tak pernah kita tahu, betapa hidupnya telah banyak menikmati asam garam kehidupan. Namanya Shofiyah binti KH. Abdul Mu’id Tempursari, Shofiyah membanting tulang menjadi buruh batik, menjual kelapa, atau terkadang menjual palawija. Karena hidup prihatin, maka Shofiyah muda membiasakan diri berpuasa. Sam..."
 
No edit summary
 
Line 1: Line 1:
[[File:HAUL-MABH-TI-777x437.png|thumb|346x346px|Sosok Mbah Ti dibalik Sebuah Ketentraman Hati]]
Wajahnya yang teduh senantiasa menggugah kerinduan setiap orang yang sempat berjumpa dengannya. Senyum tulusnya memberikan siluet ketenangan yang menderas dihati. Namun tak pernah kita tahu, betapa hidupnya telah banyak menikmati asam garam kehidupan.
Wajahnya yang teduh senantiasa menggugah kerinduan setiap orang yang sempat berjumpa dengannya. Senyum tulusnya memberikan siluet ketenangan yang menderas dihati. Namun tak pernah kita tahu, betapa hidupnya telah banyak menikmati asam garam kehidupan.
Namanya Shofiyah binti KH. Abdul Mu’id Tempursari, Shofiyah membanting tulang menjadi buruh batik, menjual kelapa, atau terkadang menjual palawija. Karena hidup prihatin, maka Shofiyah muda membiasakan diri berpuasa. Sampai hidupnya telah mapan dan nyaman, beliau masih tetap istiqomah berpuasa. Beliaupun sangat menyukai orang-orang yang ahli puasa. Ketika beliau menjadi istri dari Kyai Umar Solo, setiap menjelang maghrib, terutama hari senin dan kamis, beliau sering kali memanggil para santri yang berpuasa, dan memberikan mereka makan untuk berbuka puasa. Istilah jawanya meberikan ''bukonan'' kepada para santri.
Namanya Shofiyah binti KH. Abdul Mu’id Tempursari, Shofiyah membanting tulang menjadi buruh batik, menjual kelapa, atau terkadang menjual palawija. Karena hidup prihatin, maka Shofiyah muda membiasakan diri berpuasa. Sampai hidupnya telah mapan dan nyaman, beliau masih tetap istiqomah berpuasa. Beliaupun sangat menyukai orang-orang yang ahli puasa. Ketika beliau menjadi istri dari Kyai Umar Solo, setiap menjelang maghrib, terutama hari senin dan kamis, beliau sering kali memanggil para santri yang berpuasa, dan memberikan mereka makan untuk berbuka puasa. Istilah jawanya meberikan ''bukonan'' kepada para santri.


Line 28: Line 28:


''Oleh: Kuny Manisa, Alumni 2013''
''Oleh: Kuny Manisa, Alumni 2013''
== Source ==
== Source ==
* [http://sirojuth-tholibin.net/sosok-mbah-ti-dibalik-sebuah-ketentraman-hati/ http://sirojuth-tholibin.net/]
* [http://sirojuth-tholibin.net/sosok-mbah-ti-dibalik-sebuah-ketentraman-hati/ http://sirojuth-tholibin.net/]